News

Bendera One Piece Jadi Primadona Bagi Anak Muda

Jelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, pedagang bendera di Kota Tangerang mengungkap tren tak biasa yakni meningkatnya permintaan anak muda terhadap bendera One Piece, alih-alih bendera Merah Putih.

“Saya pikir awalnya cuma iseng, tapi ternyata yang nanya bendera One Piece itu banyak. Mereka serius nyari,” ujar Irwan (30), pedagang bendera musiman yang berada di Kota Tangerang, kepada MediaBanten.com, pada Senin (4/8/2025).

Menurutnya, permintaan terhadap bendera fiksi berlatar hitam bergambar tengkorak bertopi jerami itu mulai terasa sejak akhir Juli. Para pembeli sebagian besar merupakan anak muda berusia 16 hingga 25 tahun.

“Mereka bilang mau buat ‘statement’, katanya Merah Putih sudah tidak mewakili perasaan mereka. Saya kaget juga dengarnya,” ucap Irwan, yang telah berjualan bendera tiap bulan Agustus sejak 2015.

Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger dalam serial One Piece itu kini menjadi simbol viral di media sosial.

Aksinya disebut sebagai bentuk kritik diam terhadap kondisi sosial, politik Indonesia mulai dari korupsi, ketimpangan, hingga krisis kepercayaan terhadap institusi negara.

Irwan mengaku sempat bingung dengan makna di balik permintaan tersebut. “Saya ini cuma jualan, tapi saya juga warga negara.

Kalau anak-anak sekarang sampai lebih percaya pada simbol kartun daripada simbol negara, harusnya itu jadi bahan renungan buat pemerintah,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia juga menambahkan, penjualan bendera Merah Putih tahun ini cenderung stagnan.

“Biasanya, minggu pertama Agustus sudah ramai. Sekarang sepi. Tapi bendera aneh-aneh, malah dicari.”

Fenomena ini menunjukkan pergeseran cara generasi muda dalam mengekspresikan sikap politik dan sosial mereka.

Penggunaan simbol budaya pop, yang dulu dianggap ringan atau remeh, kini menjadi media ekspresi dan kritik yang semakin kuat menggantikan bahasa-bahasa formal yang dinilai usang dan tidak lagi menyentuh akar persoalan.

Di sisi lain, pemerintah merespons keras fenomena ini. Menteri Hukum dan HAM Natalius Pigai menyebut pengibaran bendera non-nasional saat HUT RI sebagai tindakan provokatif yang dapat memecah belah bangsa.

Namun di lapangan, pedagang seperti Irwan justru melihat fenomena ini sebagai “peringatan sunyi” dari generasi yang merasa terputus dari narasi besar kemerdekaan.

“Kalau anak muda lebih pilih kibarkan bendera bajak laut, mungkin bukan karena mereka anti-Merah Putih. Tapi karena mereka merasa, negara yang dijanjikan Merah Putih itu belum hadir buat mereka,” tutup Irwan.

Editor: Abdul Hadi

Abdul Hadi

Back to top button