Seni Budaya

Tradisi Seba, Jejak Warga Baduy Sejak Zaman Kerajaan Banten

Sekitar pukul 03.00 WIB, ketika sebagian besar orang masih terlelap, puluhan warga Baduy Dalam berjalan beriringan turun gunung dengan menembus gelapnya hutan di kawasan Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten untuk menjalani tradisi Seba.

Tanpa penerangan, mereka menyusuri jalan setapak di perbukitan curam, jalur yang sama yang kerap menyimpan risiko, dari medan licin hingga ancaman ular berbisa.

Perjalanan itu bukan peristiwa luar biasa bagi mereka. Warga Baduy Dalam memang terbiasa berjalan kaki ke mana pun, tanpa kendaraan. Namun, perjalanan kali ini memiliki tujuan khusus, yaitu mengikuti tradisi Seba, sebuah ritual tahunan yang menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat adat Baduy.

Dari kampung-kampung inti seperti Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik di Desa Kanekes, mereka menempuh perjalanan panjang menuju Rangkasbitung, lalu melanjutkan ke Kota Serang. Total jarak pulang-pergi yang ditempuh mencapai sekitar 200 kilometer. Seluruhnya dilakukan dengan berjalan kaki, sesuai ketentuan adat yang masih mereka pegang teguh.

Di sepanjang perjalanan, mereka beristirahat secukupnya. Bekal sederhana berupa nasi, umbi-umbian, dan hasil ladang, menjadi sumber tenaga. Meski melelahkan, perjalanan ini dijalani dengan kesadaran penuh bahwa Seba bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kewajiban adat yang sakral.

“Kami berjalan kaki untuk mengikuti Seba setelah menjalani Kawalu (tradisi puasa dan ritual syukur tahunan suku Baduy) selama tiga bulan. Ini sudah menjadi aturan dari leluhur,” kata Rahman (50), warga Baduy Dalam, saat ditemui di Lebak, Sabtu (25/4).

Dalam tradisi Seba, masyarakat Baduy mendatangi pemerintah daerah sebagai bentuk silaturahmi sekaligus penyampaian pesan adat. Mereka menyebut kepala daerah sebagai “Bapak Gede”. Selain itu, mereka juga menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi, buah-buahan, dan laksa sebagai simbol penghormatan.

Permintaan yang disampaikan pun sederhana: jaminan kehidupan yang aman, damai, dan terjaga.

Pengalaman masa lalu menjadi latar belakang harapan tersebut. Warga mengaku pernah menghadapi gangguan keamanan, seperti hilangnya ternak hingga aktivitas penambangan liar yang merusak hutan.

“Sekarang kondisi sudah aman. Tidak ada lagi ternak hilang dan hutan juga tidak dirusak. Kami berterima kasih kepada pemerintah,” ujar Rahman.

Kewajiban Bukan Tradisi

Bagi sebagian warga, Seba bukan hanya tradisi, tetapi juga kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Ato (55), misalnya, menyebut ketidakhadiran dalam Seba dapat membawa konsekuensi buruk menurut kepercayaan adat.

“Ini sudah berlangsung ratusan tahun sejak zaman leluhur dan Kesultanan Banten. Harus tetap dilaksanakan,” katanya.

Pada perayaan Seba 2026, sebanyak 1.552 warga Baduy Dalam dan Baduy Luar tercatat hadir di Pendopo Kabupaten Lebak. Mereka datang membawa semangat kolektif untuk menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Tetua adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menjelaskan bahwa Seba memiliki makna yang luas. Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tradisi ini juga menjadi simbol hubungan antara masyarakat adat dan pemerintah.

“Penyerahan hasil bumi adalah bentuk penghormatan sekaligus pengingat bahwa hubungan ini harus dijaga dengan baik,” ujarnya.

Lebih dari itu, Seba juga mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi masyarakat Baduy, seperti kebersamaan, kedamaian, dan keseimbangan hidup. Nilai tersebut tercermin dalam cara mereka mengelola lingkungan.

Masyarakat Baduy dikenal konsisten menjaga kelestarian alam. Di wilayah adat seluas sekitar 5.200 hektare, mereka mempertahankan hutan sebagai kawasan lindung. Puluhan aliran sungai yang berhulu di wilayah ini menjadi sumber air penting bagi masyarakat di wilayah hilir Banten.

“Kami menjaga hutan karena itu amanah leluhur. Kalau hutan rusak, kehidupan juga akan terganggu,” kata Saidi Yunior, tetua adat Baduy Tangtu.

Aturan adat mengatur secara ketat pemanfaatan hutan, termasuk larangan merusak kawasan tertentu yang dikenal sebagai hutan tutupan. Selain itu, masyarakat Baduy juga menjaga puluhan gunung di Banten agar tidak dieksploitasi atau dialihfungsikan.

Upaya tersebut dinilai berkontribusi besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Air sungai di wilayah Baduy, misalnya, tetap jernih dan terjaga kualitasnya, bahkan di tengah tekanan lingkungan di berbagai daerah lain.

Pemerintah daerah pun mengakui peran penting masyarakat Baduy dalam konservasi lingkungan.

Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki menyampaikan apresiasi atas konsistensi mereka dalam menjaga hutan dan alam.

“Masyarakat Baduy telah menunjukkan bagaimana menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Ini penting untuk keberlangsungan hidup manusia dan ekosistem,” katanya.

Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen untuk melindungi kawasan tersebut dari berbagai bentuk eksploitasi, termasuk aktivitas pertambangan ilegal.

Selain sebagai tradisi adat, Seba juga mulai dilihat sebagai potensi pengembangan budaya dan pariwisata. Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan perayaan ini masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN).

Berbagai kegiatan pendukung turut digelar, mulai dari pameran produk UMKM, pertunjukan seni, hingga pagelaran wayang golek. Upaya ini diharapkan dapat menarik wisatawan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Meski demikian, pelestarian nilai-nilai adat tetap menjadi prioritas utama. Peneliti dari Leiden University, Jet Bakels, menilai kekuatan masyarakat Baduy terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan.

“Sejak masa Pajajaran, masyarakat Baduy memiliki tanggung jawab untuk menjaga hutan adat. Nilai itu masih bertahan hingga sekarang,” ujarnya.

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Baduy tetap mempertahankan cara hidup sederhana, tanpa listrik, tanpa infrastruktur modern, dan tanpa perangkat elektronik. Rumah-rumah mereka dibangun dari bahan alami seperti bambu dan kayu, berdiri selaras dengan lingkungan.

Perjalanan dini hari yang mereka tempuh bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang terus dijaga. Dalam langkah-langkah panjang menuju Seba, tersimpan komitmen untuk merawat tradisi, menjaga alam, dan mempertahankan keseimbangan yang menjadi dasar kehidupan mereka. (Oleh Mansyur Suryana – LKBN Antara)

Iman NR

Back to top button