Kementrian LH Lanjutkan Program PSEL TPA Jatiwaringin, Meski Kebakaran
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyebutkan bahwa kementeriannya akan melanjutkan program pembangunan proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, meski area itu mengalami insiden kebakaran.
“Terkait WtE, karena di daerah sini mau dibangun Waste-to-Energy, program prioritas dari Bapak Presiden, kami memastikan bahwa program ini tetap bisa berjalan,” kata Wamen Diaz di Tangerang, Sabtu.
Ia mengatakan, pembangunan WtE seperti yang sudah ditetapkan sebagai Program Strategis Nasional (PSN) pemerintah dalam keseriusannya untuk mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks.
“Karena bagaimanapun, kita harus mendorong program Bapak Presiden yang sangat baik ini mengenai WtE,” katanya.
Dia bilang, untuk rancangan pembangunan program PSEL TPA Jatiwaringin ini nantinya akan dibangun di lahan seluas lima hektare. Di mana, saat ini sejumlah fasilitas dan kebutuhan penunjang Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik terus dilakukan agar bisa tetap terjaga keberlanjutannya.
“Jadi saya pastikan lagi di sini bahwa lahan yang dialokasikan untuk WtE, 5 hektar plus 2 hektar untuk FABA itu agar tetap bisa dijaga. Tanah yang digunakan, yang dialokasikan untuk WtE agar tidak digunakan untuk hal-hal lain,” ujarnya.
Selain itu, ia menambahkan, untuk lahan yang dipersiapkan sebagai lokasi pembangunan WtE telah dipersiapkan dengan baik tanpa digunakan dengan fungsi lainnya.
“Kalau pun memang digunakan, agar dipastikan untuk sementara, supaya bisa di-clear-kan dengan cepat untuk penanganan darurat,” kata dia.
Diaz menyebut, penanganan pemadaman di TPA Jatiwaringin terus dilakukan melalui operasi pemadaman kebakaran yang dilakukan petugas gabungan dari berbagai unsur.
Di mana, pihaknya telah menerjunkan thermal drone atau teknologi yang menggunakan kamera inframerah untuk mendeteksi radiasi panas guna menganalisa sumber kebakaran, titik-titik apinya.
“Jadi kami hanya bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala,” ucapnya.
Kemudian, untuk langkah berikutnya, dengan mengerahkan dua mobile monitoring sistem, yang bertujuan untuk memantau udara di lokasi kebakaran. Salah satunya memonitor seperti SO_2 (sulfur dioxide), NO_2 (nitrogen dioxide), dan juga PM 1.0 dan PM 2.5.
“Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5 dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan dan lain sebagainya. Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis,” paparnya.
Dengan karakteristik yang sama seperti kebakaran lahan gambut, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah menerjunkan 30 personel tim Manggala Agni dari wilayah Sulawesi dan Jawa Barat.
Mereka, katanya, sudah memiliki pengalaman cukup baik dengan dilengkapi peralatan highpressure-nya yang khusus, melakukan pemadaman langsung ke titik api di bawah permukaan tumpukan sampah.
“Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah,” ujarnya.
Selain itu, melalui BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan skema operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna membantu percepatan pemadaman. Dengan begitu, situasi kedaruratan kebencanaan kebakaran yang mencapai kurang lebih 15 hektare bisa segera terkendali.
“Sehingga mungkin atau dimungkinkan untuk melakukan operasi TMC besok. Kita akan melakukan bersama BNPB dan BMKG,” pungkas dia. (Pewarta : Azmi Syamsul Ma’arif – LKBN Antara)










