Kesehatan

Agus : Hingga November, Banten Terima 20.150 Vaksin PMK

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Banten (Dipertan), Agus Tauchid membenarkan hingga November 2022 telah menerima 20.150 dari 135.000 vaksin PMK atau penyakit mulut dan kuku untuk Provinsi Banten. Sebagian vaksin PMK.

“Vaksin PMK yang telah diterima oleh Provinsi Banten 20.150 dosis dengan 6 kali dropping dan akan terus bertambah di bulan November ini,” kata Agus Tauchid, Kadispertan Banten, dikutip dari rilis Biro Adpim Banten, Kamis (10/11/2022).

Katanya, dalam rangka mengendalikan penyakit mulut dan kuku di Provinsi Banten perlulah menjalin Komunikasi, informasi dan edukasi yang baik antar Satuan Tugas (Satgas) pengendali PMK.

“Satuan Tugas (Satgas) pengendali PMK ini bukan masalah antar dinas tapi masalah nasional yang harus kita kendalikan secara bersama-sama,” ujarnya.

Menurut catatan, ada 2.050 kasus PMK di Banten pada Juli 2022. Dari jumlah itu, 40 persennya berlokasi di Tangerang.

Hewan ternak yang terpapar PMK secara rutin menjalani perawatan dan pengobatan hingga akhirnya sembuh. Tingkat sesembuhan mencapai 36 persen.

Di Banten tercatat 37.000 populasi ternak sapi, 54.000 kerbau, 600.000 kambing dan 400.000 domba.

Sebelumnya, Agus Tauchid mengatakan, target vaksinasi PMK di Banten sebanyak 100.000 ekor dengan masing-masing dua kali vaksin.

Catatan bulan Agustus 2022 menunjukan, dari 8 Kabupaten dan Kota di Provinsi Banten, 5 daerah di lantaranya telah berstatus zero case dan 3 lainya terdapat sisa kasus sebanyak 225 ekor.

Dari jumlah 225 kasus tersebar di Kota Tangerang 9 ekor, Kabupaten Serang 16 ekor dan Kabupaten Lebak 200 ekor.

Untuk mewujudkan wilayah Banten zero kejadian PMK, pemerintah melalui Kementan tengah mengupayakan gertak vaksin kedua untuk ternak sakit 2.000 dengan dosis vaksin sebanyak 4.000 dan rencana potong paksa 250.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular. Penyakit ini menyerang semua hewan berkuku belah /genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba termasuk juga hewan liar seperti gajah, rusa dan sebagainya.

Virus dapat bertahan lama di lingkungan, dan bertahan hidup di tulang, kelenjar, susu serta produk susu.

Masa inkubasi 1-14 hari, virus awet dalam pendinginan dan terinaktivasi oleh temperature > 500 dan terinaktivasi pada pH < 6,0 & pH > 9,0.

Penyakit ini ditandai dengan adanya pembentukan vesikel atau lepuh dan erosi di sekitar mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku, pincang dan bahkan kuku bisa terlepas, hipersalivasi, hewan lebih sering berbaring.

Pada ternak potong terjadi penurunan bobot badan dan pada ternak perah terjadi penurunan produksi susu yang drastis.

Morbiditas biasanya tinggi mencapai 100%, namun mortalitas/tingkat kematian untuk hewan dewasa biasanya sangat rendah, akan tetapi pada hewan muda bisa mencapai 50%.

PMK disebut juga sebagai air borne disease karena sangat kecilnya virus ini mampu menyebar cepat dengan bantuan angin sampai ratusan kilometer.

Penyakit mulut dan kuku tidak ditularkan ke manusia (bukan penyakit zoonosis), sehingga daging dan susu aman untuk dikonsumsi.

Daging dan susu sapi yang dikonsumsi harus dengan pengolahan yang sempurna. Pengolahan ini penting demi mematikan virus yang terdapat di dagingnya sehingga bisa diminimalisir masuk ke tubuh manusia.

Ini yang harus dipahami masyarakat bahwa tidak perlu takut mengkonsumsi daging dan susu, tapi harus diperhatikan pengolahan daging dan susu dengan benar sehingga virus menjadi in-aktif. (Rilis / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button