Agus Tauchid: 200.000 Petani Bukan Pengangguran, Tapi Molor Kerja

“Bantahan” soal tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Banten merupakan tertinggi se-Indonesia, terus bergulir dari para pejabat di Pemprov Banten. Kali ini Agus Tauchid, Kepala Dinas Pertanian Banten bernarasi soal 200.000 petani kehilangan pekerjaan yang disebut Badan Pusat Statistik (BPS).

“Sekarang yang dikatakan 200 ribu itu, ya gini, mereka kan penggarap pada lahan sawah, kebetulan sekarang musim kemarau ini menjadi mundur untuk tanam,” katanya saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Rabu, (27/11/2019).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran di Banten pada periode Agustus 2019 paling tinggi se-Indonesia. Banten jadi daerah paling buncit dibandingkan provinsi lain dengan tingkat pengangguran sebesar 8,11%.

Kepala BPS Banten Adhi Wiriana mengatakan, pada Agustus 2019, ada 5,56 juta penduduk bekerja di daerah ini dan naik sekitar 230 ribu pekerja dibandingkan pada Agustus tahun 2018. Pada periode yang sama, terjadi penurunan pengangguran dari 8,52% menjadi 8,11%.

Baca:

Kehilangan Pekerjaan

Berdasarkan rilis BPS Banten, hampir 200.000 petani di Banten kehilangan pekerjaannya pada tahun 2019 akibat musim kemarau yang cukup panjang. Dari 740.000 petani, tersisa 543.000 petani pada Agustus 2019. Artinya, hampir 200.000 petani kehilangan pekerjaan.

Agus Tauchid, Kepala Dinas Pertanian Banten mengatakan, sesuai dengan data BPS Sensus Pertanian (ST2013), hampir 60 persen petani di Banten adalah petani penggarap. Pada musim kemarau panjang tahun 2019, terjadi jadwal tanah yang mundur. Kemunduran jadwal ini menyebabkan para penggarap menganggur.

“Nganggur disini bukan kehilangan pekerjaan, tentunya jeda waktu tidak bisa tanam, karena kita kemarau. Nah, akibatnya yang mereka tidak bisa menggarap lahan pertaniannya. Karena kan lokasi masih kering,” jelasnya.

Hal serupa terjadi pada daerah-daerah yang selama ini mendukung pekerjaan petani seperti daerah irigasi. Daerah ini mengalai kekeringan, sehingga mereka mengangguran, bukan berarti kehilangan pekerjaan.

“Seperti di Cimanuk (Pandeglang-Red) ya kan, juga di Wilayah teknis irigasi pedesaan, yang airnya tersedia sepanjang musim, kalau disebut petani seperti itu si petani penggarap tidak kehilangan pekerjaan, karena sawahnya bisa ditanam padi ya kan, yang kehilangan pekerjaan disini hampir didominasi oleh petani penggarap,” tandasnya. (Menyenaw)

Berita Terkait