Anak Penjualan Angkringan Lulus Terbaik UMY

foto: dokumentasi

Angkringan menjadi ikon kuliner kota Yogyakarta sudah sejak lama. Angkringan sangat lekat dengan kesederhanaan, wong cilik (orang miskin), dan anak kos. Di balik eksistensi angkringan yang terkenal sebagai tempat makan yang murah meriah dan merakyat, tak lantas memakmurkan penjualnya jutru kebanyakan penjual angkringan adalah orang dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah.

Hal itu sejalan dengan Ibu Sujeti, perempuan yang berusia setengah abad ini harus menghidupi kedua anaknya seorang diri dengan berjualan angkringan setiap harinya. Penghasilan yang dia peroleh tidaklah banyak, per harinya hanya memperoleh keuntungan Rp 30-40 ribu.

Ibu Sujeti adalah ibu dari salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yaitu Nurasih. Ia merupakan salah satu mahasiswa yang memperoleh beasiswa Bidikmisi angkatan 2013.

Nurasih lulus dengan predikat Terbaik dan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.94. Pendidikan baginya merupakan salah satu jalan untuk mengangkat derajat ibunya yang seorang penjual angkringan, yang masih dianggap sebagai pekerjaan kelas menengah ke bawah.

Ia menuturkan dengan bisa berkuliah sebagai jalan baktinya kepada orang tua terutama ibunya yang selama ini membesarkan seorang diri. Meski sudah mendapatkan beasiswa Bidikmisi, bukan berarti menjadikan Nurasih untuk tidak membantu ibunya.

Sejak 2014, ia sudah bekerja paruh waktu di salah satu perusahaan jasa penjualan tiketing biro perjalanan. Ia juga mengungkapkan dirinya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan beasiswa Bidikmisi¬† “Pendidikan bukan untuk mereka yang mampu, tapi mereka yang mau,” ujarnya, dalam siaran pers.

Pada 2012, untuk pertama kalinya UMY membuka peluang menerima program beasiswa Bidikmisi. Dari tahun ke tahun, lulusan mahasiswa Bidikmisi UMY selalu mendapat predikat, salah satunya Nurasih. Ia pun diwisuda bersama teman-temannya pada 21 Oktober 2017 lalu. (republika.co.id / IN Rosyadi)

Berita Terkait