Bendung Pamarayan Diperbaiki, 8.000 Hektar Sawah di Cipontirta Terancam Puso

sawah kekeringan di Cipontirta

Sebanyak 8.000 hektar sawah dari 14.000 hektar di daerah Cipontirta (Ciruas, Pontang dan Tirtayasa), Kabupaten Serang terncam puso. Ancaman puso itu bukan hanya disebabkan musim kemarau, tetapi lebih disebabkan ditutupnya aliran air dari Bendungan Pamarayan dengan alasan tengah dilakukan perbaikan.

“Penutupan aliran air dari Bendung Pamarayan itu menurut jadwal itu selama 3 bulan dan waktunya tidak tepat. Karena pada bulan Juli-Agustus-September justru petani di sebelah utara sedang membutuhkan air untuk nandur, ngoyos atau kegiatan awal menanam padi,” kata Mihdar, Ketua Kelompok Tani Bumi Anugrah kepada MediaBanten.Com, Kamis (1/8/2019).

Ketua Poktan Cipontirta itu mengkhawatirkan keresahan para petani baik petani penggarap maupun pemilik petani akan menimbulkan gejolak yang tidak baik. “Pertikaian antara petani soal rebutan itu sudah biasa, bahkan bisa menimbulkan bentrok fisik. Tetapi bukan hanya itu yang saya khwatirkan, justru soal pencapaian target produksi yang bisa merosot. Artinya, secara provinsi maupun nasional itu produksi bisa turun yang bisa berpengaruh pada harga beras,” katanya.

Mihdar mengatakan, kawasan Cipontirta akan kehilangan setidaknya 38.000-64.000 ton gabah kering panen (GKP), jika 8.000 hektar sawah itu benar-benar puso. Kehilangan GKP akan mempengaruhi prognosa tingkat kabupaten dan provinsi, bahkan nasional. “Ujung-ujungnya kan harga beras naik karena produksinya berkurang akibat puso,” ujarnya.

Baca:

Kepentingan Petani

Karena itu, petani meminta agar Balai Besar Wilayah Sungai Codamai Ciujung Cidurian (BWSC3) untuk bijak dalam menerapkan buka dan tutup aliran air untuk kepentingan pesawahan. “Harus lihat kepentingan petani pada waktu-waktu itu, bukan kepentingan kontraktor yang melakukan perbaikan bendung itu,” katanya.

Jaldi Dulhana, Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Serang membenarkan adanya keresahan di kalangan petani di Cipontirta. “Kami sudah bersepekat dalam rapat yang diselenggarakan pada tanggal 31 Juli 2019 soal jadwal penyaluran air di Bendungan Pamarayan. Yang hadir ada petani, dinas pertanian, balai wilayah sungai dan PT Waskita sebagai kontraktornya,” kata Jaldi yang dikonfirmasi MediaBanten.Com.

Kabid Tanaman Pangan itu mengatakan, rapat menyepakati aliran air melalui pintu Bendung Pamarayan dibuka tanggal 4 Agustus dan ditutup pada tanggal 18 Agustus 2019. Pintu air itu dibuka lagi pada tanggal 4-13 September 2019. Pada bulan Oktober hingga Desember 2019, pintu air sebelah barat ditutup penuh (full).

“Dimohon bantuan kepada Kepala UPTD Pertanian, koordinator kelurahan dan penyuluh kecamatan untuk menginformasikan jadwal pembukaan dan penutupan aliran air itu kepada para petani di Kecamatan Cikeusal, Kragilan, Ciruas, Pontang, Lebakwangi, Tirtayasa dan Kramatwatu,” kata Jaldi.

Dalam rapat itu juga muncul saran atau rekomendasi bagi para petani, yaitu menunda tanam padi, meski ada air pada jadwal dibukanya pintu air karena pembukaan itu bersifat sementara. Bila hal ini tidak diketahui, petani berpotensi menderita kerugian karena tidak mendapatkan air.

Petani disarankan untuk menanam padi pada musim hujan yaitu bulan November-Desember 2019. Jika ada sumber air di luar pengairan yang berasal dari Bendung Pamarayan, petani diminta segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk meminjam pompa air. (IN Rosyadi)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait