Dicari Pengganti Kantong Plastik Yang “Ramah” Usaha

kantong plastik

Oleh: IMAN NUR ROSYADI *)

Saya menulis ini tidak dalam posisi menentang tindakan pengurangan sampah plastik, terutama kantung plastik. Tetapi saya hanya berpikir soal hitung-hitungan betapa repotnya mencari pengganti kantung plastik dengan bahan yang ramah lingkungan atau lebih mudah diurai oleh alam.

Bahan plastik memang sudah mencengkram seluruh sisi kehidupan manusia. Coba perhatikan di sekitar kita, bahan plastik ada dimana-mana.

Gilanya, menurut penelitian, sampah plastik ini baru bisa terurai oleh alam selama 500-1.000 tahun. Artinya, kalau plastik itu berada dalam tanah, maka plastik akan menghambat proses alam seperti menghambat peresapan air, pembusukan dan sebagainya,

Setiap tahun, ada 1 trilun kantong plastik dan 2 juta kantong plastik dibuang setiap hari. Plastik ini dibuat dari PE (polyethene). Untuk 1 ton plastik dibutuhkan 11 barel bahan bakar minyak (BBM).

Saya sepakat, plastik harus diganti karena daya rusaknya akibat tidak bisa diurai alam sangat luar biasa, sekaligus menurunkan daya dukung lingkungan. Menurunnya daya dukung lingkungan berarti mengancam eksistensi manusia.

Baca:

Para Pedagang

Hanya saya masih belum ketemu bahan penggantinya yang simpel dan murahnya sama dengan plastik. Bahan yang sama fleksibelnya dengan plastik, terutama pada pedagang atau pengusaha menengah, kecil dan mikro.

Teman saya seorang pedagang, dia coba untuk menggantikan dengan paper bag untuk membungkus belanjaannya. Tetapi dia kerepotan untuk mendapatkan paper bag jika persediaannya mendadak habis.

Selain itu, dia harus membeli dengan harga Rp40.000/100 paper bag polos. Jika sudah dicap, harganya bisa naik menjadi Rp120.000/100 lembar. Atau harga persatuannya Rp400/paper bag polos dan Rp1.200 per paper bag yang sudah dicap logo usahanya.

Ada juga teman yang mencoba mendukung program lingkungan itu, kemudian menggantikan dengan besek. Harganya yang ukuran 15x15x8 cm berkisar Rp800-Rp900 per besek, ukuran 20x20x8 Rp1.400 per besek.

Yang masalah adalah bukan harganya, karena teman itu sudah mekesampingkan soal harga demi mendukung lingkungan. Yang jadi persoalan ketika dia memesan besek dalam jumlah banyak (ribuan besek per minggu), maka tidak ada yang bisa memenuhi permintaannya. Kalau ada, dia pun kerepotan untuk mengangkutannya karena besek tidak bisa dilipat begitu saja seperti plastik. Dia pun pusing.

Pada titik ini terjadi dilema. Banyak orang yang sebenarnya setuju dengan diganti atau dikurangi penggunaan kantong plastik, termasuk para pelaku usaha. Tetapi apa pengganti plastik itu yang tetap murah, simpel dan fleksibel.

Tampaknhya, selama pengganti plastik seperti yang diminta pengusaha dan konsumen belum ada, ya kantong plastik tetap saja menjadi pilihan untuk membungkus, memasukan belanjaan atau hal-hal lainnya. (*)

*) Penulis adalah Pengamat Sosial Ekonomi dan pengelola MediaBanten.Com

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait