Internasional

Indonesia Masih Diam Soal Kehadiran Presiden Rusia di KTT G20 Bali

Pemerintah Indonesia belum mengomentari soal Presiden Rusia, Vladimir Putin yang memastikan akan menghadiri KTT G20 yang digelar di Bali pada 30 Oktober 2022.

Sementara sejumlah anggota G20, terutama dari negara barat menolak kehadiran Putin, bahkan berupaya mengeluarkan Rusia dari keanggotaan.

Kepastian kehadiran Presiden Rusia pada konferensi tingkat tinggi di Bali itu disampaikan Lyudmila Gorgievna Vorobieva, Duta Besar Rusia untuk Indonesia seperti disiarkan Reuters, dikutip MediaBanten.Com, Kamis (24/3/2022).

Lyudmila membenarkan, banyak organisasi yang berusaha mengusir Rusia, bukan hanya KTT G20 sejak konfrontasi Rusia dengan Ukraina yang sudah berlangsung hampir sebulan.

“Ini reaksi barat yang tidak proporsional,” katanya.

China mendukung Presiden Rusia, Vladimir Putin tetap hadir di KTT G20. Dukungan ini merupakan sikap jelas yang menolak saran anggota G20 yang melarang Putin hadir.

Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya berterus terang, tengah menilai keanggotaan Rusia dalam kelompok 20 negara ekonomi utama.

Namun sikap Amerika Serikat itu bisa jadi tidak disetujui sebagian anggota G20 yang menyebabkan sejumlah anggota tidak akan menghadiri konferensi tersebut.

Indonesia pada periode ini mendapat giliran menjadi Ketua G20.

“Itu akan tergantung pada banyak, banyak hal, termasuk situasi COVID, yang semakin baik. Sejauh ini, niatnya adalah … ia ingin,” kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva dalam konferensi pers.

Ditanya mengenai saran agar Rusia dikeluarkan dari G20, ia mengatakan itu adalah forum untuk membahas masalah ekonomi dan bukan krisis seperti Ukraina.

“Tentu saja pengusiran Rusia dari forum semacam ini tidak akan membantu menyelesaikan masalah ekonomi ini. Sebaliknya, tanpa Rusia akan sulit untuk melakukannya,” katanya.

“Tidak ada anggota yang memiliki hak untuk memberhentikan negara lain sebagai anggota. G20 harus menerapkan multilateralisme yang nyata, memperkuat persatuan dan kerja sama,” katanya dalam jumpa pers.

Sikap Jelas RI

Kementrian Luar Negeri RI hingga hari ini masih belum mengomentari seruan agar Rusia dikeluarkan dari G20 dan tidak diizinkan menghadiri KTT.

Namun Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan sikap pemerintah Indonesia terkait persoalan yang terjadi di antara Rusia dan Ukraina sudah sangat jelas.

Dalam pemungutan suara di Sidang Majelis Umum PBB hari Rabu (2/3/2022), sebanyak 141 negara mendukung resolusi yang mengecam agresi Rusia ke Ukraina.

Indonesia adalah salah satu dari negara yang mendukung resolusi itu.

Sedangkan 35 negara absen dan lima negara lainnya menolak, yakni Rusia, Suriah, Belarusia, Korea Utara, dan Eritrea.

“Dari penyampaian posisi kita, kita ikut menjadi bagian dari sponsor resolusi tersebut, dan bahkan ikut di dalam proses merumuskan beberapa elemen dari resolusi, menambahkan misalnya elemen mengenai safe passage (jalur aman untuk evakuasi warga sipil). itu merupakan satu butir penting dari resolusi itu sendiri,” kata Faizasyah kepada VoaIndonesia.

Rusia menghadapi serangkaian sanksi internasional yang dipimpin oleh negara-negara Barat yang bertujuan mengisolasinya dari ekonomi global, termasuk menutupnya dari sistem pengiriman pesan bank global SWIFT dan membatasi transaksi oleh bank sentralnya.

Pada Selasa (22/3), Polandia mengatakan telah menyarankan kepada pejabat perdagangan AS untuk mengganti Rusia dalam kelompok G20 dan bahwa saran tersebut telah menerima “tanggapan positif”.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan para anggota G20 harus memutuskan tetapi masalah itu bukan prioritas sekarang. (Dari berbagai sumber / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button