Banyak Minum Kopi Bisa Menyebabkan Radang Gusi

radang gusi

Banyaknya orang terutama kaum muda yang saat ini gemar mengonsumsi kopi. Bahkan menjadikan minum kopi sebagai gaya hidup. Terbukti, kedai kopi yang menawarkan berbagai varian rasa, ditambah wifi gratis kian menjamur di banyak kota.

Kaum muda pun rela menghabiskan waktunya untuk sekadar duduk dan menikmati secangkir kopi. Apalgi, kedai-kedai atau sekarang dikenal dengan nama kafe itu menyediakan berbagai fasilitas yang memanjakan kaum muda untuk “berlama-lama” berada di tempat itu.

Tahu kah Anda kalau kopi dapat menyebabkan radang gusi? Ya, mungkin bagi sebagian orang mengurangi konsumsi kopi karena khawatir akan terkena penyakit dalam seperti jantung dan diabetes, tetapi kita tidak menyadari bahwa mengonsumsi kopi yang berlebihan juga dapat mengganggu kesehatan mulut kita, kok bisa?

Apa Itu Gingivits?

Menurut drg. Yahya Hidayat, dokter gigi lulusan Universitas Indonesia yang bekerja di Medika Mulia itu mengatakan, terlalu berlebihan dalam mengonsumsi kopi selain dapat membuat gigi kuning, juga dapat menyebabkan gingivitis. Apa sih gingivitis? Gingivitis merupakan bahasa kedokteran dari radang gusi. Radang gusi atau gingivitis merupakan penyakit mulut akibat infeksi bakteri yang menyebabkan gusi membengkak atau meradang hingga merah. Gingivitis dapat dikatakan sebagai penyakit gusi yang ditandai dengan kemerahan, iritasi, dan bahkan pembengkakan di gusi.

Baca:

Penyebab gingivitis

Menurut drg. Yahya Hidayat, sebagian masyarakat menganggap radang gusi atau gingivitis terjadi karena kurangnya makan makanan berserat seperti sayur dan buah-buahan.

“Ya memang betul, kurang makan sayur dan buah dapat menyebabkan gingivitis, tetapi yang mereka tidak sadari adalah mengonsumsi kopi yang berlebihan tanpa menjaga kebersihan mulut juga dapat menyebabkan gingivitis atau radang gusi, karena sekarang kan kopi sudah mulai digemari sama anak muda bahkan anak kecil juga suka mencoba, kalau dulu kan kebanyakan bapak-bapak” ujarnya.

Dokter gigi lulusan Universitas Indonesia tersebut mengatakan, di dalam secangkir kopi, selain mengandung kafeine juga mengandung zat quinic acid yang merupakan zat kandungan dalam kopi yang menghasilkan rasa asam. Kafein dan zat quinic acid inilah yang dapat membuat lapisan enamel terkikis yang menyebabkan gigi berlubang sehingga membuat nyeri pada gigi dan jika dibiarkan dapat menimbulkan penyakit gigi lainnya yakni pembengkakan pada gusi atau disebut gingivitis.

Selain itu, drg. Yahya Hidayat mengatakan, banyak pasien yang memiliki keluhan gusi bengkak bahkan hingga menderita panas demam akibat dari gusi bengkak tersebut. Setelah ditinjau lebih lanjut, ternyata mereka memang gemar mengonsumsi kopi, “Sudah 4 bulan belakangan ini saya 3x sehari minum kopi, malah saya lebih milih gak makan nasi daripada harus gak minum kopi”, ujar salah satu pasien drg. Yahya Hidayat.

Mencegah Gingivitis

Untuk mencegah terjadinya gingivitis, drg. Yahya Hidayat menekankan untuk tidak terlalu sering mengonsumsi kopi. “Minum kopi boleh-boleh saja, asalkan dibatasi, misal yang tadinya sehari 3x menjadi sehari 1x saja sudah cukup,” katanya.

Selain itu ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mulut, karena kebersihan mulut juga mempengaruhi terjadinya radang gusi atau gingivitis, cara yang paling sederhana dilakukan adalah dengan sikat gigi minimal 2x sehari. Jangan melewatkan sikat gigi sebelum tidur atau bila perlu sehabis minum kopi langsung sikat gigi agar tidak ada sisa-sisa makanan dan minuman yang menempel di gigi dan mulut.

Bisa juga minum kopi menggunakan sedotan agar zat-zat kandungan dalam kopi tidak menempel di gigi, “Selain gosok gigi minimal 2x sehari, jangan lupa dikurangi mengonsumsi makanan atau minuman yang manis-manis, terutama kopi yang mengandung susu dan gula, kebiasaan mengonsumsi kopi diganti dengan air putih saja, itu sehat, seperti yang saya katakan, minum kopi boleh asalkan jangan berlebihan” tambahnya. (Yudrika Ashri di Bekasi; yudrikaashri@gmail.com)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait