Ini Alasan Pemkot Serang Terima Sampah Tangsel dan Kab Serang

Ini alasan Pemkot Serang mau menerima sampah dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan Kabupaten Serang. Jangan memandang  dari uang retribusi puluhan miliar rupiah dan kekhawatiran tidak bisa ditangani sampah tersebut.

“Terus terang  bagi Pemkot Serang, ini merupakan solusi yang saling menguntungkan. Karena Pemkot tak punya anggaran untuk tangani tempat pembuangam sampah atau TPSA secara ideal akibat keterbatasan anggaran,” kata Ipiyanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Kota Serang yang ditemui MediaBanten.Com, Senin (25/1/2021).

Walikota Serang, Syafrudin dan Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany menandatangani kerjasama pengelolaan sampah Kota Tangsel di sebuah hotel di Kota Serang, kemarin. Dalam kerjasama itu, Kota Tangsel membuang sampah sekitar 400 ton dari 800 ton per hari sampah Tangsel.

Sampah itu dibuang ke TPSA Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Luas TPSA itu 14,2 hektar dengan kemampuan tampung hingga tahun 2026.

Sebelum Tangsel, TPSA Cilowong juga menampung sampah dari Kabupaten Serang sebanyak 200 ton. Sedangkan sampah dari Kota Serang sendiri 200 ton per hari.

Artinya, jika kerjasama dengan Tangsel berjalan, TPSA Cilowog menampung 1.000 ton sampah per hari. Bagaimana kemampuan pengelolaan sampah itu di TPSA Cilowong?

Ipiyanto, Kadis LHD Kota Serang saat menerima telepon. Foto: IN Rosyadi / MediaBanten.Com

Baca:

Perumpamaan Cucian

Atas kerjasama itu, Kadis LH Kota Serang mengumpamakan dengan orang miskin yang hendak mencuci pakaian. Karena tidak punya uang, dia mencuci baju hanya dengan air tanpa sabun, bahan pewangi, pemutig dan peralatan.

“Ada orang minta tolong dicucikan bajunya. Orang miskin itu berterus terang tidak punya sabun, pemutih, pewangi, sikat baju dan peralatan lainnya. Nah, orang itu ngasih uangnya. Ya keuntungannya, baju orang miskin itu dicuci lebih bersih, putih dan wangi karena dibiayai orang minta tolong itu,” kata Ipiyanto.

Dalam konteks itu, kerjasama pengelolaan sampah Kota Tangsel dan Kabupaten Serang. Uang retribusi sampah dari kedua daerah itu akan digunakan untuk menata dan mengelola sampah di TPSA Cilowong dengan menerapkan teknologi, inovasi dan kreasi.

“Perhitungan kami, dengan penerapan teknologi dan penataan yang benar, bisa menurunkan tumpukan sampah hingga 50-70 persen,” katanya.

Penerapan teknologi yang kasat mata adalah inselator atau alat pembakar sampah. “Saya tidak mencari inserator produk luar negeri. Cukup dalam negeri dengan kampuan pembakaran 100-150 ton per jam tertentu, bukan per hari. Jadi sehari itu bisa lebih banyak,” katanya.

Teknologi lain adalah mesin HSN yang mampu mengolah sampah menjadi berbagai produk mulai dari bahan bakar minyak (BBM), karbon padat, karbon cair, karbo asap, bio disinfektan dan sebagainya. Bahannya adalah sampah non organik.

“Saat ini kemampuan mesin itu mengolah 10 ton sampah non organik per hari. Kapasitas ini bisa ditingkatkan jika sudah ada uangnya,” kata Ipiyanto.

Bagaimana Anggaran Pemkot?

Kadis LH Kota Serang menunjukan, dari 14,2 hektar TPSA Cilowong, sekitar 6 hektar dikelola. TPSA itu telah dibuat klaster-klaster sampah yang baru dan sampah lama yang tengah difermentasi.

“Bayangkan, itu ditangani oleh 2 beko dan 1 buldozer tahun 2010-2011. Artinya, itu alat turun naik, mendorong sampah yang dibuang di atas ke bawah. Idealnya, beko dan buldozer di atas dan di bawah harus ada, sehingga sampah bisa dimasukan pada petak-petak yang disediakan. Nah, kami ini tak punya anggaran untuk beli beko dan buldozer,” katanya.

Ipyanto berterus terang. Mesin HSN yang mampu menghasilkan produk ternyata berstatus uji coba alias pinjaman. Karena Pemkot Serang tak punya anggaran beli mesin itu.

“Saya bukan tidak pernah mengajukan. Setiap tahun lah untuk beko, buldozer, armada truk, bahan-bahan untuk fermentasi dan sebagai. Tapi selalu beralasan enggak kebagian anggarannya,” ujarnya.

Jadi, kerjasama sampah Tangsel dan Kabupaten Serang merupakan win win solution. Tangsel dan Kabupayen Serang teratasi persoalan sampahnya, sedangkan Kota Serang juga mendapatkan solusi dalam keterbatasan anggaran. (IN Rosyadi)

Berita Terkait