Jaman Akui Kondisi Kota Serang Belum Optimal Soal Kemiskinan, Kesehatan dan Pendidikan

Foto: Sofi Mahalali

Pemerintah Kota Serang masih belum optimal dalam menangani kemiskinan, pendidikan, infrastruktur dan kesehatan. Demikian diktakan Walikota Serang, Tubagus Haerul Jaman seusai menyerahkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Masa Jabatan (AMJ) Walikota Serang Tahun 2014-2018 di Gedung DPRD Kota Serang, Rabu (11/7/2018).

Jaman mengemukakan beberapa contoh seperti perekonomian belum meningkat, angka kemiskinan masih belum bisa ditekan secara signifikan dan infrastruktur yang masih diliputi persoalan genangan air dan kemacetan arus lalu lintas. Sedangkan di bidang pendidikan, masih rendahnya angka rata-rata pencapaian anak sekolah. Di bidang kesehatan, masih terdapat anak-anak yang kekurangan gizi.

“Namun tentunya membangun maindset dari masyarakat itulah yang sulit dan membutuhkan waktu yang panjang. Lantaran sebenarnya kita telah buatkan program sekolah gratis dan sekolah kesetaraan. Selain itu di bidang ekonomi kita melakukan pelatihan-pelatihan teknis pekerjaan kepada masyarakat melalui Disnaker Kota Serang, namun program tersebut belum dimanfaatkan betul oleh masyarakat, karena mungkin mainsetnya yang ingin instant” ucapnya.

Baca: Gubernur Banten: Larangan Kegiatan di Hotel Hemat Anggaran Rp60-100 Miliar

LKPJ-AMJ 2014-2018 menyebutkan, terjadi peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) dari tahun 2013 tercatat 64,64 menjadi 71,77 pada tahun 2017. Peningkatan IPM itu dicapai dari indeps pendidikan 64,65, indeks kesehatan 72,9 dan indeks daya beli (pengeluaran) 78,8. Perbaikan indeks daya beli masyarakat disebabkan kondisi makro dan mikro yang semakin membaik. Ini juga bisa dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi (LPE) yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) 2014-2017 untuk Kota Serang rata-rata 6,4% per tahun.

Inflasi terendah periode 2014-2017 terjadi pada 2016 sebesar 3,26% dan inflasi tertinggi terjadi tahun 2014 sebesar 11,27%. Sedangkan perkembangan investasi mengalami kenaikan yang signifikan yang semula Rp 3,23 triliun pada tahu 2014 menjadi Rp 4,64 triliun pada tahun 2017atau mengalami peningkatan sebesar 43,65% dari tahun 2014.

Tingkat kesempatan kerja selama kurun waktu 2014-2017 cenderung mengalami peningkatan, dimana capaian tehun 2017 sebesar 91,57%. Smentara capaian tagun 2014hanya sebesar 89,97%. Untuk pengangguran terbuka cenderung mengalami penurunan, dimana pada tahun 2017 sebesar 8,339% dibandingakan tahun 2014 mencapai 10,03%. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait