Internet

Kisah Kegagalan Proyek Balon Internet dari Google

Balon udara yang menghebohkan Amerika Serikat dan Cina mengingatkan pada kisah kegagalan balon internet Proyek Loon dari Google, perusahaan raksasa. Proyek ini gagal dan harus ditutup karena kesulitan pendanaan untuk eksperimen jangka panjang awal Januari 2021.

Padahal Alphabet Inc, perusahaan induk Google berharap, proyek balon internet bisa menjangkau bagian dunia yang tidak bisa terkoneksi dengan internet secara konvensional.

Hampir satu dekade setelah memulai proyek ini, Alphabet mengatakan bahwa mereka menyetop proyek tersebut lantaran tidak mampu melihat cara untuk mengurangi biaya untuk menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Bersama dengan proyek mobil self-driving, Loon adalah salah satu proyek teknologi ‘moonshot’ paling populer yang muncul dari lab penelitian Alphabet X, seperti dikutip melalui The Post.

Jalan menuju kelangsungan komersial telah terbukti jauh lebih lama dan lebih berisiko dari yang diharapkan. Jadi kami membuat keputusan sulit untuk menyetop Loon,” tulis Astro Teller, pimpinan X dalam sebuah postingan blog.

Ide awal Loon memang membawa jaringan internet ke berbagai tempat terpencil, utamanya karena faktor geografi. Loon akan menyebarkan internet ke berbagai lokasi terpencil di seluruh dunia.

Alphabet memperkenalkan teknologi tersebut sebagai salah satu proyek menjanjikan untuk menghadirkan konektivitas internet kepada seluruh umat manusia yang tersebar di muka bumi.

Balon helium raksasa Loon terbuat dari lembaran polietilen, seukuran lapangan tenis. Balon ini didukung oleh panel surya dan dinavigasi oleh sebuah perangkat lunak kontrol penerbangan yang menggunakan kecerdasan buatan untuk melayang di stratosfer.

Saat berada di udara, mereka akan menjadi sebuah menara seluler terbang yang nantinya akan mengirimkan sinyal internet ke stasiun bumi maupun perangkat pribadi manusia.

Google memulai proyek tersebut pada 2011 dan meluncurkan proyek uji coba pada dua tahun setelahnya. Loon kemudian menjadi anak perusahaan yang berdiri sendiri pada tahun 2018.

Rencana penggunaan Loon pernah mengemuka di Indonesia pada 2014. Bahkan, kesepakatan penggunaan proyek Loon dibuat secara khusus di kantor pusat Google, Mountain View, Amerika Serikat pada 2015.

Kesepakatan proyek tersebut dihadiri oleh tiga petinggi operator telekomunikasi dalam negeri yaitu Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat. Bahkan, pendiri Google Sergey Brin turut hadir dalam seremonial.

Dalam kesepakatan tersebut, balon Google akan terbang di area tertentu di wilayah Indonesia yang selama ini belum terjangkau infrastruktur telekomunikasi pada 2016.

Pada medio 2014 – 2015, Loon juga sempat diuji coba sebanyak dua kali di Indonesia yaitu di sekitar area Bandar Lampung dan bergerak ke arah timur dan wilayah Laut Jawa.

Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate sempat menyinggung penggunaan teknologi Loon. Namun, kala itu Kominfo masih dalam tahap mendengarkan pihak Google terkait teknologi tersebut. (INR)

Editor: Iman NR

Iman NR

Back to top button