Lakon Sanghiyang Wismaya Digelar Dalang Dadan Sunandar Sunarya di Pandeglang

Foto: Beni Madsira

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang menggelar wayang golek dengan dalang Dadan Sunandar Sunarya Putra Giri Harja 3 Bandung di Alun-alun Kota Pandeglang, Selasa malam (3/4/2018). Pagelaran wayang golek ini dalam rangka memperingai HUT 144 dengan lakon Sanghiyang Wismaya.

Pagelaran wayang golek yang merupakan hiburan rakyat ini ditonton Bupati Pandeglang, Irna Narulita didampingi pejabat di lingkungan Pemkab Pandeglang seperti H Gunawan (Ketua DPRD), Fery Hasanudin (Sekda), Agus Priyadi Mustika (Asda Pemerintahan) dan sejumlah pejabat Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD).

Bupati Pandeglang, Irna Narulita mengatakan, Pemerintah Daerah dalam memperingati hari jadinya menggelar pagelaran wayang golek, tentunya sebuah tontonan yang akan menjadikan tuntunan bagi semua.

“Dalam lakon wayang ini banyak yang bisa kita ambil dari sisi positifnya,  tontonan yang bisa menjadi tuntunan,  untuk tindak tanduk juga laku lampah kita dalam kehidupan.  Pandeglang adalah sebuah kota santri juga sebuah daerah wisata, dari wisata alam juga wisata Religi,  semua kita perhatikan dalam pembangunan, dalam peringatan HUT Pandeglang mulai dari seni Religi seni tradisional dan kesenian warisan leluhur kita tampilkan,  pagelaran wayang Golek ini juga seni budaya yang harus kita pelihara dan di jaga kelestariannya,” katanya.

Irna mengatakan, semua kesenian sudah ditampilkan dari dari hari pertama rangkaian acara HUT Pandeglang 144 hingga malam ini Pagelaran Wayang Golek. “Wayang golek merupakan kesenian tradisional yang diwarisi para leluhur kita, yang ceritanya penuh filosofi dan memiliki makna yang luar biasa yang akan menjadi pegangan hidup bagi kita semua, “katanya.

Baca: Wagub Buka Kontes Burung dan Tinjau Samsat Keliling UPT Serpong

“Dalam pagelaran wayang golek kali ini mudah-mudahan banyak cerita dibalik lakon yang disampaikan dalang, hal tersebut tentunya bisa menginspirasi masyarakat untuk lebih membangun Kabupaten Pandeglang agar lebih maju, dan tetap bersabar karena semua juga harus tetap kita berpegang pada aturan dalam melaksanakan pembangunan,” ujarnya.

Sebelum meninggalkan Pangung Kehormatan Bupati Pandeglang Menyempatkan untuk berdialog dengan Cepot, di dampingi oleh Ketua DPRD, Sekda dan anggota Forkopimda.

Menurut catatan, Padepokan Giri Harja 3 Bandung dibangun dalang Almarhum Sunandar Sunarya di Bandung. Padepokan ini terkenal karena inovasi anak almarhum bernama Asep Sunandar Sunarya yang lahir tahun 1955 dan meninggal tanggal 31 Maret 2014. Inovasi yang dilakukan dalang Asep Sunandar Sunarya berupa golek yang bisa muntah mie, melepaskan anak panah dan berbagai atraksi lainnya yang tidak ditemukan dalam wayang golek konvensional. Inovasi itu terutama pada golek yang bernama Cepot.

Tanpa adanya seorang Asep Sunandar Sunarya mungkin Cepot tidak akan sepopuler sekarang ini. Berkat kreativitas dan inovasinya, Ia berhasil meningkatkan lagi derajat wayang golek yang dianggap seni kampungan oleh segelintir orang. Peningkatan itu dilakukan dengan menciptakan wayang Cepot yang bisa mangguk-mangguk, Buta muntah mie, Arjuna dengan alat panahnya, Bima dengan gadanya begitu pula dengan pakaian wayangnya yang terkesan mewah.

Inovasi dalang Asep, anak dari dalang Sunandar Sunarya ini melambungkan nama Giri Harja 3 Bandung ke level nasional dan internasional. Pagelaran di berbagai negara pun dilakukan dengan penterjemah. Karena dalam pagelaran, sering muncul peran breaker (penyelia), yaitu dalang berbicara kepada golek-golek yang dimainkan. Dalang Asep menggunakan tokoh bernama Abiyasa sebagai breaker tersebut. Inovasi ini juga keluar dari pakem wayang golek Sunda. (Beni Madsira)

Berita Terkait