Seniman dan Sastrawan Gelar Rampak Tadarus Puisi di Citraland Puri

Foto: Sofi Mahalali

Para Seniman dan Sastrawan di Banten menggelar kegiatan Rampak Tadarus Puisi di Citraland Puri, Ciracas, Kota Serang, Banten. Rabu (23/5/208). kegiatan tersebut diikuti oleh 57 peserta dari beberapa daerah dari dan luar Banten, ditujukan sebagai ajang silaturahmi para seniman dan pegiat kebudayaan.

Jafra, Ketua Pelaksana Kegiatan mengatakan, acara tadarus puisi ini pihaknya mengundang para pembaca puisi untuk menghatamkan buku puisi karangan Toto ST Radik dengan judul buku “Kepada Para Pangeran”. Ia juga berharap, puisi dapat memasyarakat. “Ya harapannya bagaimana puisi itu bisa memasyarakat, artinya puisi tidak hanya kata-kata. Tetapi bagaimana kita memahami kata-kata itu sendiri. Kemudian dimana pada bulan ramadhan ini puisi bisa mewarnai bulan suci ini, dan arti puisi bagi saya sendiri adalah sebuah alat perjuangan,” katanya.

Wahyu, panitia Rampak Tadarus Puisi mengatakan, kegiatan ini juga sebagai ajang untuk mengapresiasi sebuah puisi, dan menjadikan puisi lebih membumi atau lebih memasyarakat. “Jadi puisi itu tidak hanya tempelan dalam acara hari besar nasional saja, tetapi puisi kedepannya dapat memasyarakat. Karena bagi saya puisi itu adalah kehidupan. Karena dalam puisi kita seperti bercermin, dalam puisi ada tentang sosial, politik, dan segala macamnya,” ucapnya.

Baca: 14 Motif Batik Pandeglang Sudah Memiliki Hak Cipta

Dikatakan Peri, salah satu panitia kegiatan menilai, masyarakat sesungguhnya telah mengenal sastra sejak zaman dahulu. Hal itu terbukti dengan hal-hal yang sering dilakukan ketika menjelang lebaran, banyak orang yang menjadi penyair. “Sebentar lagi nih lebaran, semua orang menyusun kata-kata, semua orang tiba-tiba menjadi penyair hanya untuk mengatakan kata maaf. Kata-katanya panjang banyak metafora dan puitis. Artinya masyarakat kita sejak zaman dahulu sudah akrab dengan persoalan sastra. Dan hal itu bagus, sangat bagus. Namun persoalannya ada tidak orang sastra yang mau menghimpun hal-hal semacam itu dijadikan gerakan bahwa satra tidak hanya milik orang sastra,” katanya.

Sementara itu, dikatakan Alit Prakarsa, Dosen Fakultas Hukum Untirta yang turut serta membaca puisi mengapresiasi kegiatan tersebut. “Ini acara yang menarik,dengan secarik format baru dalam semarak ramadhan. Karena semarak ramadan penghayatannya bisa juga dengan membaca puisi sebagai upaya kita mendekatkan diri kepada tuhan,” katanya.

Alit berharap, ruang-ruang publik dapat memberikan ruang bagi teman-teman sastrawan dan seniman untuk menyampaikan ekspresinya. Seperti halnya kegiatan ini, meupakan sebuah hal yang menggembirakan bagi para pelaku seni. Pasalnya meraka dapat turut serta meramaikan membaca puisi serta menyalurkan hobby mereka.

“Saya berharap teman-teman seniman terus menggali, mengeksplorasi kreatifitasnya. Sehingga dapat dilihat oleh masyarakat secara luas, dan yang pasti kita membutuhkan wadah kebudayaan yang solid, yang bisa merangkul semua jenis kebudayaan yang ada di Indonesia, khususnya yang ada di Banten baik yang tardisi ataupun kontemporer. Jaadi mungkin pemerintah dan dewan kesenian Banten harus lebih semangat lagi dalam menggali kebudayaan-kebudayaan yang ada,” ujarnya. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait