Sosial

Manusia Silver, Mereka Yang Termarjinalkan Kehidupan Kota Serang

Pernahkah Anda tekejut, ada patung di pinggir jalan atau di tengah persimpangan lampu merah di Kota Serang? Tiba-tiba patung berwarna silver atau perak itu bergerak melambaikan tangan secara kaku atau layaknya pertunjukan pantomin.

Patung-patung manusia itu kini tengah marak di persimpangan jalan, lampu merah atau di lokasi-lokasi yang dilintas pengendara sepeda motor atau mobil. Mereka dijuluki manusia silver, karena seluruh tubuhnya dilumuri cat berwarna perak.

Dan cat yang melumuri tubuh manusia patung itu bukanlah cat yang ramah dengan kulit manusia, tetapi cat sablon baju. Kulit tubuh mereka dibungkus cat minyak tersebut selama 3-6 jam per hari. Padahal cat minyak itu berbahaya bagi kulit manusia karena menutupi pori-pori dan melekat lama di kulit.

Aa pria (18), warga Kelurahan Cipare Kota Serang, rela tersengat panasnya terik matahari dan menghadapi resiko tertabrak kendaraan untuk menjadi manusia silver. Alasannya, demi mendapatkan uang Rp50.000 – Rp150.000 per hari untuk memenuhi biaya hidup.

Pria bertubuh kurus dan tinggi sekitar 170 Cm ini sudah 2 bulan ‘matung’ (istilah manusia silver) selama 6 jam dalam sehari. Rata- rata dimulai Pukul 12:00 WIB.

Aa Pria mengaku tidak punya pilihan lain cara mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membantu keluarganya. “Satpol PP mah biasa razianya hari Senin bang, saya gak takut. Namanya juga nyari uang, kan kalo ada satpol PP, kami lari,” katanya.

Selain itu dirinya menyampaikan, alasan memilih untuk menjadi manusia silver karena sejak kecil sudah ditinggal sang ibu dan diasuh oleh kakak perempuan tertuanya. Ia juga sudah putus sekolah dan hanya mengenyam pendidikan formal sampai kelas 1 SMP.

“Kalau jadi manusia silver mah gampang bang, Cuma beli cat dengan setor Rp10.000 per hari. Kalo jadi badut kan setau saya Rp50.000 per hari setor untuk atributnya, “ katanya. Namun Aa Pria tidak mau menyebutkan kepada siapa setoran itu diberikan, hanya dikatakan sebagai koordinator.

Hal yang sama diceritakan RR (19), perempuan yang sudah 4 bulan menjadi manusia silver asal Ciomas yang tinggal mengontrak di dekat pertigaan lampu merah Sempu, tempat sehari – hari mematung. Ia mengatakan, dirinya hanya lulusan SMP dan sudah ditinggalkan oleh sang ayah karena sakit sejak tahun 2015.

“Awalnya liat anak- anak itu kok enak ‘matung’ dapet uang. Lagian cari kerja susah bang. Kalau Pose mah bebas bang, terserang masing – masing aja mau nya (pose) gimana,“ singkatnya.

Sekitar pukul 16:00 WIB, mereka ada yang sudah pulang dan menuju salah satu rumah warga. Para manusia silver ini segera mengambil baju yang mereka titipkan dan memberikan setoran sebesar Rp10.000 kepada seorang warga yang diketahui bernama Nopi.

Nopi menjelaskan, uang setoran dari para manusia silver itu untuk membeli cat sablon baju. Satu botol cat sablon baju digunakan untuk 7 – 10 manusia silver. Uang setoran itu juga bukan jaminan untuk mengatasi persoalan ketika para manusia silver menghadapi masalah seperti terkena razia, tertabrak kendaraan dan sebagainya.

“Setoran per hari Rp10.000 untuk beli cat, ya kalo sepi Rp5.000. kan inimah sukarela karena kami tidak mengajak mereka untuk jadi manusia silver. Ini murni keinginan mereka sendiri, Jadi kalau ada apa- apa itu resiko yang harus mereka ( manusia silver) tanggung sendiri akibatnya,“ katanya.

Melepas Cat Dari Tubuh

Selesai mereka mengambil pakaian dan menyerahkan setoran, para manusia silver bergegas menuju Sungai Banten Gandaria yang berada di Kampung Sempu. Dengan menggunakan sabun cair yang diperuntukan untuk mencuci piring, mereka menceburkan diri ke sungai dan langsung membasuh tubuh silver mereka dengan sabun tersebut. Hasilnya, Cat silver yang melumuri di hampir sekujur anggota tubuh mereka hilang seketika dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Pakai Sunligth atau Mama Lemon, kalau pake sabun biasa mah ga bisa. Pake deterjen ( sabun bubuk) mah panas ke badan dan belum tentu bisa ilang juga,” ujar salah satu mereka.

Tinggal Di Kontrakan

Para manusia silver memang rata-rata adalah manusia yang termajinalkan dalam kehidupan di Kota serang. Lihatlah Aa Pria, tinggal di kontrakan berukuran 5×7 meter yang terdiri 3 petak masing-masing kamar tidur, ruang tamu dan dapur. Sewa kontrakan itu Rp400.000 per bulan, dihuni suami-istri dan 3 anaknya dari tahun 2018. Suami istri itu yang membesarkan Aa Pria hingga kini berumur 18 tahun.

DJ (35) , Ibu dari Rt (17) dan DL (14) yang juga kakak pertama Aa mengaku membolehkan kedua putranya dan adiknya untuk menjadi Manusia Silver yang penuh resiko di jalanan. Sebab anaknya bernama Rahmat sudah enggan bersekolah.

“Saya sih pengennya Rahmat nerusin sekolah biar punya masa depan, tapi anaknya susah mas. Karena malu suka ketemu Pak Guru dan juga pernah berkunjung kerumah Mas,“ ungkapnya.

Rahmat membenarkan pernyataan ibunya itu. “Kalau sekolah lagi mah engga bang, saya udah enak bisa cari duit sendiri. Tapi kalau ada kerjaan mah saya maul ah biar gak jadi manusia silver lagi, “ jawabnya.

Dalam sehari , Rahmat mampu memberikan memberikan uang hasil keringatnya sebesar Rp50.000 kepada ibunya yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari – hari. “Alhamdulilah, bisa bantu orang tua buat beli makan ama bayar kontrakan kalo dikumpulin dan kasih jajan adik,” katanya. (Reporter: Iqbal Kurnia / Editor: IN Rosyadi)

Iman NR

Back to top button