Tak Bisa Ikut Tes, 19 Calon Peserta Protes Panitia Pendamping Lansia Kemensos RI

Foto: Sofi Mahalali

Sembilanbelas calon peserta pendamping Lansia tidak bisa ikut tes, meski sudah memiliki kartu peserta sebagai calon yang akan ikut dites di Kantor Dinas Sosial Provinsi Banten, KP3B, Curug, Jumat (23/11/2018). Protes pun dilancarkan ke panitia penyelenggara setempat.

Sulhan, salah satu calon peserta mengaku tidak mengetahui letak persoalannya hingga ke-19 calon peserta itu tidak bisa ikut tes. Dinsos Banten hanya menjadi tempat penyelenggara tes tersebut, namun panitia penyelenggaranya langsung ditangani Kementrian Sosial RI.

Sulhan memeberkan, ketika ia melihat jumlah pendaftar di website, untuk di Banten sendiri kurang lebih mencapai 800 peserta. Tetapi yang masuk hanya sekitar 100 orang. Pada akhirnya hanya ada sekitar 8 orang yang bisa mengikuti test, dan ada 7 orang lagi yang bisa masuk ke dalam ruangan.

Ia dan peserta lainnya mengaku kecewa karena telah datang jauh-jauh, dan telah memiliki kartu test hasil mendownload di website tetap tidak bisa masuk. “Itu tanpa sepengetahuan kenapa harus bisa masuk yang 7 itu. Itu yang gak kita tahu. Kita sudah punya kartu ujiannya, sudah download. Tapi tidak bisa masuk. Karena yang bisa masuk cuma 15 orang tadi, ini sangat janggal sekali,” katanya.

Pembatalan sebagai calon peserta yang ikut tes itu tidak ada konfirmasi dari Kementrian Sosial RI. Padahal identitas ketika pendaftaran sudah ada, mulai dari email, nomer hp, dan media sosial. “Kalau kita tidak bisa masuk, harusnya ada konfirmasi sebelumnya. Sehingga yang masuk ke sini itu hanya 8 orang, dan ditambah lagi 7 orang. Mereka tidak ada tranafaransi mengapa yang 7 orang itu bisa masuk karena apa gitu,” ujarnya.

Baca: Lagi 3 Jenazah Korban Jatuhnya JT610 Berhasil Diidentifikasin Tim DVI Polri

Sementara Insulinda Marbun, staf Deputi Lansia Kemensos RI menjelaskan, tim seleksi berpesan kepada pihaknya, akan ada nomer-nomer peserta tes yang bermasalah. Kesalahan itu memang karena sistem mengeluarkan nomer peserta terlebih dahulu tetapi tidak lengkap yakni 10 digit. “Itu yang di download mereka. Yang lengkap itu 10 digit, bukan 6 digit,” jelasnya.

Insulinda mengatakan, persoalan ini terjadi bukan hanya di Banten, tetapi di semua Provinsi yang ada di Indonesia. Ia mengaku telah meminta maaf kepada 19 peserta tersebut karena telah terjadi kesalahan sistem. “Saya untuk itu meminta maaf, bahwa nama-nama yang bisa masuk itu adalah nama yang diterima untuk seleksi. Berdasarkan nama itu lah yang saya panggil,” ungkapnya.

Ia juga mengaku tidak mengada-ngada dengan persoalan yang terjadi. Peserta yang dipanggil masuk untuk mengikuti itu memiliki kesamaan data yang dipegang pihanya dengan peserta. “Kalau barkode kan gak mungkin, harus pake alat. Makanya tadi kita nomer, nama, dan fotonya disesuaikan dengan yang kita pegang,” katanya.

Insulinda membeberkan, peserta yang mengikuti test tersebut berjumlah 22 orang. Yakni 15 orang yang resmi lulus dengan memiliki nomer ujian berjumalah 10 digit, dan 7 orang yang memiliki nomer ujian 6 digit. Adapun yang akan diterima, itu hanya 3 orang disetiap provinsi. Ia mengaku, kesalahan dari phaknya yakni tidak menginformasikan kembali perihal pelaksanaan test ujian ini.

“Itu sudah ada dari panitia datanya, jadi kita gak bisa ganggu. Saya hanya melaksanakan sesuai dengan fungsi saya, tidak bisa masuk-masukin gitu aja. Adapun kalau tidak puas dengan jawaban yang saya berikan, silahlan datang ke Salemba. Lebih puas lagi kan,” ungkapnya. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait