Menggugat Amnesia Sejarah: Keraton Surosowan Bukan Sekadar Monumen Trauma Penjajahan
Pernyataan pejabat publik yang mereduksi Keraton Surosowan hanya sebagai “simbol perlawanan rakyat terhadap penjajahan” adalah sebuah kenaifan intelektual yang fatal. Narasi tersebut mencerminkan dangkalnya nalar sejarah dan pengkerdilan martabat peradaban Banten.
OLEH: FIRDAUS GHOZALI *)
Jika pemimpin daerah hanya melihat Keraton Surosowan dari kacamata perlawanan (reaktif), mereka telah gagal total menangkap visi besar para leluhur sebagai pembangun peradaban (proaktif).
Pejabat kita perlu “melek” bahwa Banten berdiri di atas fondasi Nasab Dzahabiyyah (Silsilah Emas). Merujuk pada Manuskrip Serat Babad Walisana dan verifikasi internasional melalui Naqobah Tunisia, Syekh Syarif Hidayatullah (Sayyid Zen) adalah Sayyid keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyidina Hasan bin Ali.
Keraton Surosowan bukan dibangun oleh “korban penjajahan”, melainkan oleh entitas kedaulatan yang silsilahnya menyambung hingga ke Syekh Abdul Qadir Al-Jilani hingga ke Rosululloh SAW.
Berdasarkan Catatan Sadjarah Banten (Djajadiningrat, 1913:34) dan diperkuat dengan catatan Tome Pires dalam Suma Oriental, tata kota Surosowan adalah perwujudan kosmopolitanisme Islam.
Lima abad lalu, Banten sudah menjadi metropolis maritim dunia yang sejajar dengan kota-kota besar di Hijaz. Surosowan adalah simbol kejayaan, bukan sekadar sisa-sisa luka kolonial.
Bukti Literasi: Jalur Intelektual dan Hubungan Internasiona
Argumen kami bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan didasarkan pada bukti primer yang tak terbantahkan. Bukti primer itu adalah;
1. Naskah Hikayat Sultan Maulana Hasanuddin: Mencatat tatanan sosiopolitik Banten yang sudah sangat mapan sebagai entitas Islam berdaulat.
2. Filosofi Hubungan Banten-Haramain: Melalui jalur intelektual Syekh Nawawi Al-Bantani, kita melihat bahwa Banten adalah “rahim” ulama yang menjadi guru di Masjidil Haram, membuktikan eksistensi Banten sebagai satelit peradaban Hijaz di Nusantara.
3. Wawacan Sunan Gunung Jati: Menjelaskan koneksi diplomatik-spiritual antara Kesultanan Banten dengan otoritas Syarif di Makkah.
Pernyataan Sikap
Atas dasar tanggung jawab moral sebagai penjaga amanah nasab dan literasi sejarah Banten, kami menyampaikan tuntutan keras kepada Pemerintah Provinsi Banten dan pihak terkait dalam proyek rekonstruksi Surosowan:
1. Hentikan Simplifikasi Narasi Sejarah: Kami menuntut Pemerintah untuk mencabut narasi yang menyebut Surosowan sekadar “simbol perlawanan”. Kembalikan status Surosowan sebagai “Simbol Peradaban Islam Internasional” dan “Gerbang Hijaz di Nusantara” dalam setiap kurikulum lokal maupun narasi promosi budaya
2. Uji Sahih Berbasis Manuskrip Primer: Segala bentuk rekonstruksi fisik dan naratif wajib melibatkan naskah Sadjarah Banten, Babad Walisana, Hikayat Sultan Maulana Hasanuddin, dan karya-karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Jangan membangun berdasarkan asumsi politik, tetapi bangunlah berdasarkan filosofi arsitektur Islam yang terkandung dalam naskah kuno.
3. Libatkan Dzurriyah dan Ahli Nasab: Rekonstruksi Surosowan bukan sekadar proyek teknis Dinas PERKIM atau PUPR. Kami menuntut keterlibatan aktif para dzurriyah (keturunan sah) dan lembaga nasab dalam merumuskan konsep revitalisasi agar nilai spiritualitas Al-Hasani tidak hilang ditelan beton pariwisata.
4. Transparansi dan Autentisitas Arkeologis: Kami menuntut agar rekonstruksi tidak mengaburkan jejak asli demi kepentingan estetika wisata semata. Surosowan adalah “Baitul Maqdis” bagi masyarakat Banten; ia harus dipugar dengan rasa hormat pada martabat Islam, bukan dijadikan komoditas yang dangkal makna
5. Audit Narasi Tim Ahli (TACB/BPK): Kami mempertanyakan dasar literatur tim ahli pemerintah. Jika mereka gagal memahami silsilah Syarif Hidayatullah dan hubungannya dengan Hijaz, maka tim tersebut harus segera dirombak dengan pakar yang benar-benar memahami naskah kuno tentang Banten.
Banten adalah subjek sejarah yang agung, bukan objek trauma kolonial. Kembalikan marwah Surosowan sesuai wasiat leluhur. Jika pemerintah tidak mampu memahami kedalaman silsilah dan peradaban ini, lebih baik diam dan belajar daripada meninggalkan warisan narasi yang cacat bagi anak cucu kita. (**)
*) FIRDAUS GHOZALI memiliki nama lengap Syarif Ratu Bagus Firdaus Ghozali Al Ishaqi Al Hasani pernah menjadi anggota DPRD Kota Serang.










