Ekonomi

Pedagang Kolang Kaling di Lebak Diserbu Pembeli Pada Ramadhan

Pedagang kolang kaling di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak “diburu” warga untuk campuran kolak, penganan khas berbuka puasa pada Bulan Ramadhan.

“Hari ketiga puasa Ramadhan 1447 Hijriah ini sebanyak 400 kilogram (kg) kolang-kaling habis terjual dengan harga Rp20.000 per kilogram,” kata Agus, seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu.

Produksi kolang kaling dari buah pohon aren itu diperoleh dari petani di Kecamatan Cileles , Kabupaten Lebak.

Ia setiap bulan Ramadhan berjualan kolang-kaling, karena permintaan pasar cenderung meningkat juga sudah menjadikan tradisi setiap Ramadhan, sebab, kebanyakan para konsumen itu menjadikan kolang-kaling sebagai campuran makanan maupun minuman untuk berbuka puasa.

“Kami memperkirakan omzet pendapatan kolang-kaling tahun ini Rp80 juta selama Ramadhan dengan menghabiskan 4 ton dari harga Rp20.000 per kg. Hal itu juga berdasarkan pengalaman penjualan tahun lalu di bulan Ramadhan,” kata Agus.

Begitu juga Edi Junaedi, seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengatakan, usaha menjual kolang-kaling selama Ramadhan sangat membantu ekonomi keluarganya.

Pihaknya telah berjualan kolang-kaling sejak 15 tahun terakhir selama Ramadhan mengatakan, berjualan kolang-kaling termasuk menguntungkan.

“Kami tahun lalu selama Ramadhan menghasilkan omzet Rp60 juta dan bisa membangun rumah dari hasil berjualan kolang-kaling itu,” jelasnya.

Hal senada dikemukakan Samun, seorang pengumpul kolang-kaling di Rangkasbitung. Ia mengaku setiap hari bisa meraup keuntungan sekitar Rp1,5 sampai Rp2 juta juta per hari.

Ia memperoleh kolang-kaling dari petani di Kecamatan Sobang, Cigemblong, Cileles, Cibeber, Cirinten, Muncang, dan Cijaku, yang merupakan sentra perkebunan aren dan sentra produksi gula aren. “Kami sehari bisa menjual antara 2-4 ton dan dipasok ke pedagang pengecer,” katanya.

Menurut dia, kualitas kolang-kaling Kabupaten Lebak cukup bagus sehingga banyak permintaan dari Pasar Rangkasbitung hingga Tangerang.

Namun, lanjut dia, tingginya permintaan kolang-kaling hanya selama Ramadhan saja, sehingga para pedagang hanya bisa mendulang untung pada bulan suci itu saja karena permintaan cenderung meningkat.

“Kami merasa kewalahan melayani permintaan para pedagang pengecer,” kata Samun. (Pewarta : Mansyur suryana – LKBN Antara)

Iman NR

Back to top button