Pemberlakuan Jam Malam di Prancis Demi Tekan Covid 19

Kota dan desa di seluruh Prancis terlihat sepi pada akhir pekan karena warga berada di rumah dan kegiatan bisnis berhenti seiring dengan pemberlakuan jam malam secara nasional, sebagai bagian dari upaya menekan pandemi Covid 19.

Virus corona telah menyebabkan lebih dari 70.000 orang meninggal di Prancis, jumlah kematian terbesar ketujuh di dunia.

Pemerintah secara khusus khawatir dengan varian baru virus corona, yang pertama kali ditemukan di Inggris. Varian baru ini diketahui lebih mudah menyebar dan menyumbang satu persen dari munculnya kasus baru.

Austria, sementara itu, menambah daftar negara di Eropa yang memutuskan untuk memperpanjang dan memperketat karantina wilayah atau lockdown.

Kanselir Australia, Sebastian Kurz, mengatakan karantina wilayah yang mestinya berakhir hari Minggu, 25 Januari, akan diperpanjang setidaknya selama dua pekan.

Selama lockdown, warga diwajibkan mengenakan masker dengan standar lebih tinggi ketika berada di toko dan transportasi umum. Jaga jarak harus setidaknya dua meter, bukan satu meter seperti yang berlaku sekarang.

Baca:

Pengetatan aturan ini mirip dengan yang berlalu di kawasan tetangga, negara bagian Jerman, Bavaria. Bar dan restoran belum boleh buka. Di Portugal, tempat-tempat pemungutan suara untuk pemilihan presiden pekan depan sudah mulai dibuka dalam upaya untuk mencegah kerumunan, yang dikhawatirkan bisa menjadi titik penularan virus.

Larangan keluar rumah pada malam hari di Prancis berlaku mulai pukul 18.00 hingga 06.00 keesokan harinya. Dan terhitung mulai Senin (18/1/2021), mereka yang masuk ke Prancis dari luar negara-negara anggota Uni Eropa harus menunjukkan hasil tes negatif dan wajib melakukan isolasi selama satu pekan.

“Langkah-langkah ini perlu karena situasi [mengharuskan kami mengambil langkah tersebut]. Keadaannya memburuk, namun lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga kita … tapi tetap saja kebijakan itu harus diberlakukan, terutama dengan evolusi virus,” kata Jean Castex, Perdana Menteri Prancis.

“Itu berarti kita harus ekstra waspada,” kata Castex. Jam malam yang berlaku pada pukul 18.00 akan memaksa kegiatan bisnis tutup lebih awal, dan berarti ada potensi kehilangan pemasukan pada jam-jam petang atau malam hari, sesuatu yang membuat Mickael Levy khawatir.

Ia memiliki toko kacamata dan banyak pelanggan datang ke tokonya pada malam hari, setelah pulang dari kantor pada pukul 18.00.

“Bagi kami, ini adalah kerugian ekonomi,” kata Levy kepada kantor berita Reuters. Ia berharap pembatasan seperti ini memang efektif menekan pandemi.

Jumlah kasus harian sudah turun ke kisaran 20.000 –lebih rendah dari Inggris yang berada di kisaran 40.000 hingga 50.000 kasus per hari– namun jumlah orang yang harus dirawat di rumah sakit akibat Covid-19 masih tinggi. Selain itu, pemerintah dikritik karena dianggap lamban meluncurkan program vaksinasi.

Renaud Piarroux, pakar epidemiologi, mengatakan jam malam diperkirakan “tidak berdampak signifikan dalam menekan penyebaran varian baru virus corona”.

Menurut Piarroux, untuk menekan varian baru perlu upaya yang lebih besar seperti yang diambil pemerintah Jerman dan Inggris. Ia mengatakan harus ada lockdown nasional untuk menekan wabah. (*)

 

Tulisan ini dikutip utuh dari BBC Indonesia, KLIK DI SINI.

Next Post

Banjir Kalimantan Selatan Disebabkan DAS Tak Mamu Tampung Air

Sel Jan 19 , 2021
Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Karliansyah mengatakan daerah lokasi banjir di Daerah Aliran Sungai Barito di Kalimantan Selatan memiliki kondisi infrastruktur ekologis yang tidak lagi memadai. Kondisi tersebut membuat daerah yang dimaksud tidak mampu lagi menampung aliran air masuk. “Lokasi banjir berada di sepanjang alur DAS Barito di […]