Internasional

Abramovich Diduga Diracun Saat Perundingan Rusia – Ukraina di Belarus

Roman Abramovich, miliader Rusia dan dua juru runding Ukraina diduga diracun saat menghadiri perundingan damai antara Rusia – Ukraina di perbatasan Belarus, beberapa waktu lalu.

Kehadiran Roman Abramovich di perundingan itu merupakan upaya untuk menghentikan peperangan kedua negara.

Saat ini, pemilik klub sepakbola Chelsea FC asal London ini dikabar telah pulih, meski sebelumnya menderita sakit mata dan kulit terkelupas. Gejala serupa dialami dua juru runding Ukraina.

Beberapa sumber mengatakan, kelompok garis keras di Rusia diduga melakukan peracunan tersebut karena ingin menyabotase peruningan.

Reutuers melansir pernyataan seorang pejabat Amerika Serikat (AS) yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, laporan intelijen membantah upaya peraacunan Roman Abromovich. Penyakit itu muncul karena faktor “lingkungan”.

Dan kemudian seorang pejabat di kantor kepresidenan Ukraina, Ihor Zhovkva, mengatakan kepada BBC bahwa meskipun dia tidak berbicara dengan Abramovich, anggota delegasi Ukraina “baik-baik saja” dan salah satunya mengatakan cerita itu “palsu”.

Frank Gardner, wartawan BBC yang membidangi masalah pertanahan menyatakan tidak kaget dengan pernyataan pejabat AS.

Menurutnya AS ingin meredam anggapan bahwa siapa pun – terutama Rusia – telah menggunakan senjata kimia di Ukraina, karena ini dapat mendorong mereka ke tindakan pembalasan yang sangat enggan mereka lakukan.

Kondisi Abramovich dan para juru runding Ukraina, termasuk seorang anggota parlemen Ukraina Rustem Umerov, telah membaik sejak insiden pada 3 Maret, yang dilansir Wall Street Journal.

Satu sumber yang dekat dengan Abramovich mengatakan, dia kini telah pulih dan melanjutkan negosiasi guna mencoba dan mengakhiri perang di Ukraina.

Insiden dugaan keracunan itu terjadi ketika Abramovich dilaporkan memainkan peran sebagai perantara dalam pembicaraan antara Ukraina dan Rusia.

Pada hari Minggu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Abramovich telah menawarkan bantuan kepadanya untuk menurunkan eskalasi invasi Rusia ke negara itu.

Miliarder Rusia itu melakukan perjalanan antara Moskow dan Kyiv untuk beberapa putaran pembicaraan pada awal bulan.

Dia dilaporkan bertemu Zelensky selama perjalanan, tetapi pemimpin Ukraina itu tidak terpengaruh dan juru bicaranya tidak memiliki informasi tentang insiden tersebut.

Sementara itu, kelompok jurnalisme investigasi Bellingcat mengatakan Abramovich dan para juru runding menderita gejala “konsisten dengan keracunan senjata kimia”.

Gejala-gejalanya, di antaranya, “radang mata dan kulit serta rasa sakit yang menusuk di mata”, demikian lapor Bellingcat.

Abramovich diberi sanksi oleh Uni Eropa dan Inggris awal bulan ini atas dugaan hubungannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang kemudian dibantahnya.

Tetapi Presiden Ukraina, Zelensky dilaporkan telah meminta AS agar menunda pemberian sanksi kepada Abramovich, dengan alasan dia dapat memainkan peran dalam merundingkan kesepakatan damai dengan Moskow.

Kremlin mengatakan Abramovich memainkan peran awal dalam pembicaraan damai, tetapi prosesnya saat ini berada di tangan tim juru runding dari kedua negara.

Kedua belah pihak akan bertemu di Istanbul pada Selasa dalam pembicaraan melalui tatap muka untuk pertama kalinya.

Pada sore hari, 3 Maret, Roman Abramovich bergabung dengan tim juru runding perdamaian Rusia dan Ukraina dalam pembicaraan di perbatasan Ukraina-Belarus. Apa yang terjadi selanjutnya sangatlah misterius.

Malam itu, tiga dari delegasi – termasuk Abramovich – menurut situs investigasi Bellingcat, menderita gejala keracunan agen saraf.

Mereka mengalami peradangan kulit, iritasi mata dan rasa sakit luar biasa pada mata – gejala yang berlangsung sepanjang malam.

Tidak satu pun dari mereka yang mengkonsumsi makanan dalam kadar lebih banyak, menurut Bellingcat, selain cokelat dan air putih.

Para ahli senjata kimia telah memeriksa kasus ini dan menyimpulkan bahwa mereka meyakini hal itu akibat penggunaan bahan kimia yang disengaja.

Tapi kami tidak tahu siapa yang melakukannya. Tidak ada yang mengeklaim bertanggung jawab.

Tak pelak, orang-orang bertanya-tanya apakah ini ulah GRU, dinas intelijen militer Rusia, yang menurut kesimpulan pemerintah Inggris, berada di balik kasus keracunan Novichok di Salisbury pada 2018.

Sejauh ini belum ada komentar pemerintah Rusia dan tidak ada bukti bahwa mereka bertanggung jawab.

Namun seseorang, agaknya, ingin mengirim semacam peringatan kepada mereka yang mengambil bagian dalam pembicaraan damai. Ini bukanlah dosis yang mematikan, melainkan peringatan.

Pernyataan yang dibuat oleh seorang pejabat AS, yang tidak disebutkan namanya, bahwa faktor lingkungan penyebab mereka mengalami keracunan, terlihat aneh. Tidak ada orang lain yang terpengaruh akibat insiden yang sangat serius ini.

Pakar senjata kimia, Hamish De Bretton-Gordon mengatakan, sangat tidak mungkin faktor lingkungan ada hubungannya dengan kasus ini. (BBC / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button