Puasa Tersingkat, Puasa Terlama dan Fenoma 3 Zona Waktu Gedung Burj Khalifa

Foto: Istimewa

Umat muslim yang tersebar di belahan dunia ini menjalankan ibadah puasa dengan rentang waktu yang berbeda-beda sesuai dengan zona waktu di enam benua. Bagi muslim di Indonesia, umat muslim berpuasa selama 13 jam sehari. Sedangkan di Uni Emirat Arab, puasa itu selama 14 jam 52 menit sehari.

Namun puasa terpanjang atau paling lama dialami umat muslim yang mendiami Islandia, negara di sebelah utara Samudera Atlantik. Muslim di sini berpuasa selama 21 jam. Sahur pada pukul 02.27 dan berbuka puasa pada pukul 10.44 malam.

Sementara itu, Finlandia dan Greenland berada di urutan kedua dengan durasi waktu puasa masing-masing sekitar 19 jam dengan selisih empat menit (masing-masing 19 jam 25 menit dan 19 jam 21 menit). Selanjutnya, durasi waktu puasa terlama diikuti oleh Norwegia dan Swedia, dengan masing-masing 19 jam 19 menit (bahkan bisa mencapai 20 jam) dan 19 jam 12 menit.

Negara yang tercatat menjalani puasa dengan waktu terpendek adalah Cile, yaitu hanya 10 jam 33 menit (dan bisa mencapai 11 jam). Cile mencatat perbedaan waktu sekitar 10 jam dari waktu Islandia.

Negara-negara lain yang memiliki durasi waktu puasa kurang dari 12 jam sehari ialah Argentina (11 jam 8 detik), Selandia Baru (11 jam 35 menit), Australia (11 jam 59 menit), dan Afrika Selatan (11 jam 47 menit), Brasil (11 jam 59 menit).

Tiga Waktu di Burj Khalifa

Fenoma tiga waktu sekaligus terjadi pada gedung Burj Khalifa yang merupakan gedung tertinggi di dunia yang berdiri di Dubai, Kuwait. Karena ketinggian gedung itu, Burj Khalifa memiliki tiga waktu berbeda saat puasa. Setiap zona waktu memiliki perbedaan dua-tiga menit.

Burj Khalifa memiliki ketinggian 828 meter dengan jumlah lantai sebanyak 160, lebih unggul dari Shanghai Tower yang hanya memiliki ketinggian 632 meter. Akibat tingginya gedung itu, zona waktu antara yang berada di bawah dengan di atas pun berbeda.

Perbedaan waktu di Burj Khalifa terjadi karena pancaran matahari di bagian bawah tidak sama dengan yang ada di bagian atas. Karena ketinggian gedung tersebut yang membuat ada perbedaan waktu beberapa menit bagi penghuni atas dengan di bawah.

Tidak samanya waktu pancaran matahari ini lah yang akhirnya memiliki perbedaan ketika sahur dan berbuka puasa bagi penghuni di bagian atas dengan yang berada di bawah. Ulama di Dubai pun sepakat mengenai adanya perbedaan waktu ini.”Burj Khalifa memiliki ketinggian hampir satu kilo meter. Artinya, penghuni di bagian atas masih bisa menikmati matahari ketika waktu senja,” kata salah seorang ulama di Dubai, Ahmed Abdul Aziz.

Agar penghuni Burj Khalifa dapat berpuasa sesuai syariat, ulama di Dubai sepakat untuk membagi tiga zona waktu. Bagi mereka yang tinggal di lantai 80 hingga 150 akan lebih lama dua menit dengan yang ada di lantai dasar saat berbuka. Sementara mereka yang ada di lantai 151 hingga 160 akan lebih lama tiga menit dengan zona di lantai dasar.

Untuk waktu sahur, mereka yang tinggal di lantai atas akan melihat mentari lebih cepat di bandingkan dengan yang ada di bawah. (Dari berbagai sumber / IN Rosyadi)

Berita Terkait