Ekonomi

Bapanas: Harga Ayam dan Telur Naik Saat Dimulai Lagi Program MBG Pasca Libur Sekolah

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan harga ayam dan telur di tingkat peternak kembali naik seiring dimulai program makan bergizi gratis (MBG) setelah terhenti karena libur sekolah 2026. Program ini mendorong peningkatan permintaan, sekaligus menaikan harga.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto yakni MBG membawa implikasi positif bagi produsen pangan dalam negeri.

“Kalau data kami dan juga bertanya ke teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya dan sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik,” kata Ketut dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Dia menyampaikan usai sempat mengalami penurunan harga, peternak telur dan ayam hidup atau broiler mulai mengalami eskalasi harga mendekati kewajaran harga sesuai harga acuan pembelian (HAP) di tingkat produsen.

Dalam pantauan harga Bapanas, lanjut Ketut, rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak mulai bertumbuh 4,11 persen dalam seminggu belakangan.

Ia menyebutkan berdasarkan data per 14 Juli, rata-rata harga ayam broiler berada di angka Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup.

Sementara seminggu sebelumnya berada di Rp20.878 per kg berat hidup. Namun di Sumatera Selatan dilaporkan masih ada harga ayam broiler yang berada di Rp18.125 per kg berat hidup.

Sementara di Riau, rata-rata harga ayam broiler tingkat peternak telah berada di Rp25.600 per kg berat hidup. Hal itu telah melampaui HAP tingkat produsen yang ditetapkan di Rp25.000 per kg berat hidup.

Untuk telur ayam ras, per 14 Juli rata-rata harga secara nasional di Rp22.644 per kg. Level harga tersebut telah mulai meningkat 0,66 persen dibandingkan seminggu sebelumnya yang masih di Rp 22.495 per kg.

Adapun rata-rata harga telur paling rendah ada di Banten dengan Rp20.300 per kg dan rata-rata harga paling tinggi berada di Sulawesi Utara dengan Rp28.200 per kg. Sementara HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan di Rp 26.500 per kg.

“Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp20.000 sampai Rp21.000 per kg, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus nih. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan,” ucap Ketut.

Ia mengakui memang sempat terjadi penurunan permintaan telur dan daging ayam dari masyarakat, sehingga terjadi penurunan harga di tingkat peternak. Namun ke depannya, pemerintah optimis akan ada koreksi positif yang dapat menyokong keberlangsungan peternak unggas dalam negeri.

“Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi,” beber Ketut.

“Tapi sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita,” sambung Ketut.

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan penyerapan hasil peternak unggas lokal bersama Badan Gizi Nasional (BGN) melalui implementasi program MBG. Pengawasan HAP pun diterapkan bersama Satgas Pangan Polri di daerah.

Amran juga menyebutkan telah berkomunikasi erat dengan Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang yang langsung menyanggupi untuk konsisten menyerap telur peternak.

Dengan langkah penyerapan telur untuk MBG optimis dapat segera memulihkan harga peternak telur. (Oleh Muhammad Harianto – LKBN Antara)

Iman NR

Back to top button