Unma Banten Bangun Budaya Riset, Hadirkan Bonie Triyana di Workshop
Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten memperkuat upayanya membangun budaya riset melalui Workshop Bina Talenta Riset dan Pengembangan bertema “Menjadi Mahasiswa Adaptif di Era Kecerdasan Buatan”.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna (GSG) H.M. Irsyad Djuwaeli, Kamis (30/7/2026), menghadirkan Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana bersama akademisi dan praktisi pendidikan untuk membahas penguatan riset serta tantangan pendidikan tinggi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Workshop tersebut merupakan bagian dari upaya UNMA Banten memperkuat budaya riset sekaligus menyiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi.
Melalui forum ini, peserta diajak membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, dan integritas akademik sebagai bekal menghadapi perubahan di dunia pendidikan.
Rektor UNMA Banten Prof Dr Andriansyah membuka kegiatan sekaligus menjadi salah satu narasumber. Menurutnya, kecerdasan buatan harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan mutu pembelajaran, penelitian, dan inovasi di perguruan tinggi.
“Kecerdasan buatan tidak boleh dipandang sebagai ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan inovasi. Tugas perguruan tinggi hari ini bukan hanya melahirkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, etika, dan daya kritis agar mampu memimpin perubahan. Melalui Workshop Bina Talenta Riset dan Pengembangan ini, UNMA Banten berkomitmen membangun ekosistem riset yang kuat serta menyiapkan mahasiswa yang adaptif, kreatif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” ujar Prof. Andriansyah.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana yang hadir sebagai keynote speaker menekankan pentingnya penguatan talenta riset sebagai fondasi pembangunan bangsa di tengah perkembangan teknologi.
Menurutnya, daya saing Indonesia di masa depan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang memiliki budaya riset dan kemampuan berpikir ilmiah.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir ilmiah, budaya riset, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang mampu menghasilkan inovasi. Saya mengapresiasi langkah UNMA Banten yang terus membangun budaya riset dan mendorong mahasiswa agar siap menghadapi tantangan era kecerdasan buatan dengan tetap menjunjung tinggi integritas akademik dan nilai-nilai kebangsaan,” kata Bonnie Triyana.
Workshop juga menghadirkan akademisi UNMA Banten Dr. Nenden Suciyati Sartika serta praktisi pendidikan Andi Gunawan.
Keduanya membahas strategi membangun karakter mahasiswa yang adaptif, inovatif, dan mampu memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung pembelajaran, penelitian, serta pengembangan inovasi.
Para narasumber sepakat bahwa kecerdasan buatan perlu dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi. Karena itu, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, kepemimpinan, etika, dan semangat berinovasi.
Rangkaian kegiatan berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB, diawali dengan pembukaan, sambutan Rektor UNMA Banten dan keynote speaker, penyerahan cendera mata, penyampaian materi, diskusi panel, hingga penutupan dan foto bersama. Kegiatan dipandu oleh moderator apt. Dhyne Dwi Jayantie. (Pengirim: Eko Supriatno – Unma Banten)









