Digitalisasi Ekonomi dan The Future Shock

Benturan kepentingan transportasi online dengan transportasi tradisional (baca: manual) merupakan gambaran pergeseran gelombang peradaban yang mulai melanda Indonesia. Pergeseran gelombang peradaban yang menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Future Shock sebagai pergeseran dari gelombang kedua menuju gelombang ketiga.

Oleh: IMAN NUR ROSYADI

Alvin Toffler, penulis dan futurolog  yang lahir di New York tahun 1928 membagi peradaban manusia menjadi tiga gelombang, yaitu gelombang pertama yang ditandai dengan penerapan tekonologi sederhana di bidang pertanian dan mulai menetapnya manusia dari kebiasaan berpindah-pindah. Gelombang kedua, bercirikan masyarakat industri yang dinilai sebagai manusia ekonomis yang rakus dan melahirankan imperialisme dan kolonialisme (penjajahan), produksi dan pendidikan bersifat massal, urbanisasi (kota besar), penggunaan energi fosil yang menimbulkan polusi bagi lingkungan.

Sedangkan gelombang ketiga disebut masyarakat informasi dengan ciri-ciri 1. Penggunaan energi yang dapat diperbaharui dan meninggalkan energi fosil. 2. Terjadi de-urbanisasi yaitu proses perpindahan penduduk dari kota-kota ke daerah karena kemajuan tekonologi dan informasi. Kemajuan teknolgi dan informasi ini menjadikan warga bisa mengakses apapun tanpa dibatasi wilayah, sehingga kota yang sumpek dinilai tak lagi relevan untuk dihuni. Alasan perpindahan penduduk dari desa ke kota karena memudahkan berbagai akses, termasuk akses ekonomi. Tetapi dengan teknologi dan informasi, akses itu bisa diperoleh meski warga berada di daerah atau desa.

Dalam gelombang ketiga diyakini terjadi revolusi digital, yaitu perubahan dari tekonologi mekanik dan analog menjadi digital. Revolusi digital ini ditandai sejak tahun 1980, akan berlanjut hingga hari ini dan hari-hari ke depan.

Revolusi digital ini telah mengubah cara pandang seseorang dalam menjalani kehidupan yang sangat canggih. Sebuah teknologi yang membuat perubahan besar kepada seluruh dunia, dari mulai membantu mempermudah segala urusan sampai membuat masalah karena tidak bisa menggunakan fasilitas digital yang semakin canggih ini dengan baik dan benar. Dan revolusi digital ini juga akan mengubah berbagai bidang mulai dari industri, pertanian dan bahkan sistem ekonomi dunia.

Digitalisai Ekonomi

Menarik apa yang diucapkan Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dalam pada pembukaan International Telecomunication Union (ITU) di Busan, Korea Selatan, Senin (25/7/2017). Seperti dilansir antaranews.com, Menkominfo mengemkakan pentingnya digitalisasi dan model bisnis digital untuk menjadi solusi perbaikan ekonomi dunia.

Bukti menunjukkan bahwa dampak positif digitalisasi mampu menggerakkan output ekonomi dunia bertambah USD 193 billion melalui job creation sehingga digitalization menjadi penggerak (driver) pertumbuhan ekonomi. Bukti menunjukkan bahwa dampak positif digitalisasi mampu menggerakkan output ekonomi dunia bertambah USD 193 billion melalui job creation sehingga digitalization menjadi penggerak (driver) pertumbuhan ekonomi.

Menurut Menteri Rudiantara ada dua solusi. Pertama melalui adaptasi model bisnis digital ekonomi secara cepat dengan memberi ruang shared economy (ekonomi berbagi), workforce digitalization (digitalisasi angkatan kerja), dan financial inclusion (inklusi keuangan).

Kedua, agar menerapkan jalur cepat (fast-track) dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi untuk wilayah yang tidak terlayani dengan USO funds (dana kewajiban pelayanan universal) yang juga diikuti dengan lompatan jutaan UMKM di wilayah tersebut melalui model ekonomi dan komersial baru yang mengadopsi model bisnis digital yang bersifat disruptif.

Menteri membawa studi kasus keberhasilan model bisnis digital Indonesia untuk menjadi bukti nyata dan praktik terbaik dalam meningkatkan perekonomian bangsa melalui kisah sukses Tokopedia dan Go-Jek. Tokopedia mampu menampung lebih dari dua juta merchant yang tersebar di lebih dari 5.600 kecamatan di seluruh Indonesia yang 80 persen di antaranya merupakan UMKM baru. Sementara Go-Jek telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan sebagai driver Go-Jek dan pendapatan bagi UMKM kebanyakan. Go-Jek juga telah mengubah gaya hidup masyarakat dengan sistem ridehailing, lebih jauh memungkinkan pemerataan pendapatan bagi masyarakat.

Model Bisnis

Digitalisasi ekonomi memiliki kunci keberhasilan, yaitu model bisnis dan profit sharing. Model bisnis menggambarkan pemikiran tentang bagaimana sebuah organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai-nilai, baik itu ekonomi, sosial, ataupun bentuk-bentuk nilai lainnya. Istilah model bisnis, karena itu, dipakai untuk ruang lingkup luas dalam konteks formal dan informal untuk menunjukkan aspek inti suatu bisnis, termasuk mencakup maksud dan tujuan, apa-yang-ditawarkan, strategi, infrastruktur, struktur organisasi, praktik-praktik niaga, serta kebijakan-kebijaan dan proses-proses operasional. Sedangkan profit sharing menggambarkan kebijakan perusahaan untuk membagi keuntungan pada pelaku yang terlibat dalam proses digitalisasi ekonomi tersebut.

Contoh digitalisasi usaha Go-Jek dari PT Gojek Indonesia. Perusahaan ini tidak memiliki armada ojek (sepeda motor dan mobil), tetapi merekut pemilik kendaraan untuk menjemput dan mengantarkan penumpang ke tujuan. Pemilik kendaraan mau berpartisipasi karena ada profit sharing yang besar yang diberikan kepada pemilik kendaraan, dan pemilik kendaraan tidak perlu mangkal yang bisa menghabiskan waktu tanpa ada kepastian mendapatkan penumpang. Melalui aplikasi Gojek, pengemudi tinggal mengambil order dari aplikasi.

Bukalapak.com dan Tokopedia.com merekut ribuan usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM), cukup mendaftarkan menjadi content (isi) kedua web toko online tersebut. Dengan cara ini, Bukalapak dan Tokopedia memangkas rantai distribusi atau rantap perdagangan yang biasanya bertingkat-tingkat dan membuat harga barang dan jasa bertambah mahal. Konsumen bisa langsung memesan, menerima kiriman dan melakukan pembayaran. Pemangkasan rantai perdagangan ini seharusnya menambah membuat semakin murah harga barang dan jasa.

Digitalisai pertanian dan industri juga mulai terlihat. Beberapa starup menyediakan aplikasi untuk memesan komoditi pertanian dari konsumen langsung ke sentra-sentra pertanian. Bahkan ada aplikasi yang melayani retail komoditi pertanian, yaitu membeli komoditi pertanian dalam jumlah yang sedikit. Komoditi pertanian itu dengan syarat tertentu bisa langsung dikirim ke rumah-rumah konsumen. Ini berarti digitalisasi ini telah memangkas rantai distribusi yang paling menakutkan dan merugikan para petani.

Persoalannya adalah Indonesia yang memiliki wilayah demikian luas yang membentang dari Sabang hingga Maureuke tidaklah rata mengalami gelombang ketiga. Tiga gelombang peradaban yang diluncurkan Alvin Toffler ternyata ketiga-tiganya masih berlaku. Di daerah Papua dan sekitarnya, masih berada dalam gelombang pertama. Sebagian besar wilayah Indonesia sudah berada pada gelombang kedua. Sebagian lagi mulai bergerak menuju gelombang ketiga.

Karena itu, tidak heran, sebagian besar warga mengalami kejutan peradaban (future shock). Kejutan ini diekspresikan dalam bentuk penolakan digitalisasi ekonomi seperti yang terjadi pada ojek online dengan ojek tradisional. Terlepas dari semua itu, revolusi digital termasuk digitalisasi ekonomi merupakan keniscayaan akan terjadi di Indonesia. Dan tidak bisa dihindari.

IMAN NUR ROSYADI, penulis adalah direktur di salah satu BUMD Kabupaten Serang.

Berita Terkait