Gawat! Masalah TPAS Cilowong Jadi Bom Waktu

tpas cilowong dan bom waktu
Foto: Istimewa

Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong diprediksi akan menjadi bom waktu, jika persoalan yang muncul akhhir-akhir ini tidak segera ditangani secara serius. Bom waktu itu berasal dari gas metan yang dihasilkan dari tumpukan sampah yang tidak tertangani secara benar.

TPAS yang luasnya sekitar 12 hektar dan terletak di antara cekungan bukit di Kecamatan Taktakan itu menampung sampah dari Kota Serang, Kabupaten Serang dan Provinsi Banten.

“Usia dari TPAS Cilowong sudah berusia sekitar 40 tahuan lebih, kalau tidak segera ditangani akan terjadi ledakan, dan Cilowong akan membahayakan bagi orang lain (Warga Cilowong). Ledakan itu disebabkan penumpukan gas metan yang dihasilkan sampah. Sementara penanganan pengelolaan sampah saat ini masih belum signifikan,” kata Ipiyanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.

Ipiyanto menuturkan, dalam pengelolaan sampah harus disikapi dari hulu ke hilir, serta didukung kesadaran warga Kota Serang. Ia menjelaskan, dalam penanganan sampah menurutnya bukan hanya menyelesaikan persoalan sampah di Kota kemudian dipindahkan ke TPAS Cilowong. Hal itu tentunya akan menimbulkan persoalan baru, karena pengelolaan sampah di Cilowong belum bisa maksimal lantaran belum ada industri pengolahan sampah.

“Saya bercita-cita, penanganan pengelolaan sampah ini, bukan hanya sekedar memindahkan masalah dari tempat yang satu ke tempat lain. Tetapi kalau di Cilowong ada salah satu industri yang menangani persoalan sampah. Masalah yang ada di Kota kita pindahkan ke Cilowong, selesai masalahnya, masyarakat disana tidak akan ada yang protes,” katanya, dia menambahkan.

“Harapan kami mudah-mudahan dapat direalisasikan dan ada bantuan baik dari Pemkab maupun Pemrov, kami menginginkan permasalahan sampah dari hulu ke hilir itu selesai,” ujarnya.

Baca:

Sampah Jadi Listrik

Dikatakan Kadis LH Kota Serang, jika saat ini Pemkot kesulitan mencari investor hal itu dikarenakan mentok dalam hal volume sampah, karena untuk memproduksi sampah menjadi listrik minimal sampah yang masuk ke TPAS Cilowong sebanyak 500-1000 ton per hari, hal itu agar produksinya tidak terhenti.

“Ini kan jadi persoalan, saat investor masuk kita harus bisa menjamin ketersediaan sampah dalam kurun waktu tertentu dapat terpenuhi. Siapa yang bisa menjamin, itulah yang saat ini masih kita lakukan pengkajian-pengkajian,” ucapnya.

Dia mengatakan, untuk saat ini sampah yang diproduksi oleh warga Kota Serang sebanyak 360 ton per hari, sementara yang dapat terangkut baru sekitar 117 ton. Ada beberpa faktor yang menjadikan penanganan tidak dapat dilakukan secara maksimal. Faktor pertama tingkat kesadaran masyarakat membuang dan memilah sampah pada tempat yang telah disediakan, dan ketiga kebutuhan armada serta personil. Karena untuk menangani sampah sebanyak 360 ton per hari Idealnya harus tersedia 117 unit armada dengan 750 orang petugas kebersihan.

“Armada yang tersedia saat ini sekitar 29 unit, kalaupun ada penambahan totalnya baru sekitar 35 armada. Sementara kebutuhannya yakni sekitar 117, cukup gak,” katanya.

Menurut Ipiyanto, persoalan sampah ini memang bukan hanya tanggungjawab Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang, tetapi merupakan tanggungjawab bersama. Ia berharap, kedepan Cilowong tidak akan menjadi tempat pembuangan sampah akhir semata, tetapi akan menjadi sebuah daerah wisata edukasi pengelolaan sampah menjadi rupiah.

Ipiyanto menilai, sampah memiliki nilai ekonomis. Banyak manfaat dari sampah ketika dikelola, semisal gas metalnya dipergunakan untuk listrik, kompos, dan lainnya. “Banyak nilai positif, sehingga kedepan sampah di TPAS itu dapat tertangani secara keseluruhan. Mudah-mudahan kedepan akan ada pula investor yang mau bekerjasama dengan Pemerintah Kota Serang,” ujarnya.

Sementara Walikota Serang, Syafrudin mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan armada pengangkut sampah Pemerintah Kota (Pemkot) Serang akan melakukan penambahan secara bertahap. Hal itu guna menyesuaikan anggaran yang dimiliki Pemkot Serang.

Pemkot berusaha bertahap, sekarang baru ditambah 6. Kedepan mudah-mudahan bisa ditambah lagi, kalau semua (Anggaran-red) diserahkan ke LH nanti yang lain gak kebagian,” kata Syafrudin saat ditemui di depan Kantor Sekretariat Daerah Kota Serang, Senin (15/7/2019). (Sofi Mahalali)

Berita Terkait