Internasional

Perang Ukraina: Perundingan Damai Hingga Pasokan Senjata Eropa

Pejabat Ukraina dan Rusia tiba di Republik Belarus, Senin (28/2/2022) untuk melakukan perundingan damai setelah lima hari invasi Rusia tersebut. Meski banyak pihak yang pesimis atas hasil perundingan tersebut.

Perundingan damai sesungguhnya diserukan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky yang mengatakan 24 jam ke depan “sangat penting” bagi Ukraina.

Presiden ini juga mengatakan pemerintah akan membebaskan tahanan yang memiliki pengalaman tempur untuk membantu membela negara.

“Kami telah mengambil keputusan yang tak mudah dari sisi moral, namun berguna untuk pertahanan kami,” katanya.

Zelensky juga mendesak Uni Eropa agar memberikan Ukraina keanggotaan “segera.”

Militer Ukraina mengatakan mereka terus menghadang upaya pasukan Rusia menyerbu kawasan luar kota Kyiv, tempat terjadinya serangkaian ledakan menjelang dini hari Senin (28/2/2022).

Melalui Facebook, komandan senior Alexander Syrsky mengatakan banyak korban jatuh dari pasukan Rusia. Namun tidak ada konfirmasi secara independen.

“Kami menunjukkan bahwa kami dapat melindungi rumah kami dari tamu tak diundang,” kata Jenderal Alexander Syrsky dalam pernyataannya.

Pemerintah juga telah mencabut jam malam di Kiev, Ibukota Ukraina yang sebelumnya diberlakukan. Pencabutan yang mulai berlaku Senin itu dimanfaatkan warga untuk membeli berbagai keperluan di tengah bunyi tembakan senjata otomatis di Maidan, alun-alun utama.

Pasukan Rusia mengambil alih kota di pesisir Laut Hitam, Berdyansk, dan pertempuran dilaporkan terjadi di kota Mariupol dan juga di Kharkiv dan Dnipro di Ukraina timur.

Sementara itu badan pengungsi PBB mengatakan mereka mendapatkan laporan bahwa sekitar 422.000 orang melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Juru bicara UNHCR dalam cuitannya mengatakan badan PBB itu “menyebut mereka yang lari dari negara mereka itu sebagai pengungsi.”

Kementerian Pertahanan Ukraina juga mengklaim lebih 5.000 tentara Rusia tewas dalam empat hari pertempuran. Soal itu, Kementrian Pertahanan Rusia mengakui banyak pasukan yang tewas, namun tidak menyebutkan jumlah.

Di tengah perkembangan ini, banyak warga tetap memilih berlindung di ruang bawah tanah saat invasi Rusia sudah memasuki hari kelima.

Serangan rudal yang bertubi-tubi dari Rusia, tak hanya menewaskan personel militer tapi juga warga sipil Ukraina. Foto: Reuters (BBC)

Belarus Bantu Rusia?

The Washington Post melansir laporan bahwa Belarus bersiap mengirimkan tentarnya untuk membantu invasi Rusia. Laporan itu bersumber dari pejabat AS yang tidak disebutkan namanya yang menyebutkan pergerakan pasukan Belarus akan dimulai Senin ini.

BBC telah mengirim email ke Gedung Putih dan Pentagon untuk konfirmasi.

Sementara itu, situs berita Kyiv Independent mengutip beberapa sumber yang mengatakan pasukan terjun payung Belarus kemungkinan dikerahkan. Belarus yang lokasi negaranya berbatasan langsung dengan Ukraina di utara merupakan sekutu lama Rusia.

Namun Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa Presiden Belarus Alexander Lukashenko telah berjanji kepadanya – dalam panggilan telepon – bahwa pasukan Belarusia tidak akan dikirim ke Ukraina.

Uni Eropa Kirim Senjata

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Uni Eropa akan “mendanai pembelian dan pengantaran persenjataan serta peralatan lain ke sebuah negara yang sedang diserang”. Sikap tersebut dikemukakan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen soal invasi Rusia ke Ukraina.

Selain mengirim persenjataan, Uni Eropa memberlakukan tiga sanksi baru yang mencakup pelarangan pesawat-pesawat Rusia di wilayah udara Uni Eropa, pelarangan “mesin media Kremlin”, serta pelebaran sanksi ke Belarus.

Sejauh ini, Ukraina masih dibombardir oleh rudal-rudal Rusia. Bahkan, penasihat menteri dalam negeri Ukraina melaporkan sejumlah rudal dilesatkan dari Belarus hingga menghantam bandara di Kota Zhytomyr, bagian utara Ukraina.

Negara-negara Barat menjanjikan bantuan untuk memperkuat sistem pertahanan Ukraina.

Swedia, misalnya, akan mengirim 5.000 unit senjata anti-tank, 5.000 pelindung tubuh, 5.000 helm, dan 135.000 paket ransum.

Pengiriman senjata ke negara yang sedang berkonflik, menurut Perdana Menteri Magdalena Andersson, adalah yang pertama kalinya dilakukan Swedia sejak invasi Uni Soviet ke Finlandia pada 1939.

Jerman juga mengumumkan akan mengirim 1.000 senjata antitank dan 500 rudal Stinger ke Ukraina.

Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Damien McGuinness, langkah tersebut bisa dibilang sebagai perubahan terbesar dalam kebijakan luar negeri Jerman sejak Perang Dunia II. Sebelum invasi Rusia ke Ukraina, langkah militer seperti itu tidak pernah terpikirkan oleh Jerman.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan akan mengirim sistem persenjataan senilai $350juta – termasuk rudal anti-tank Javelin, sistem anti-pesawat dan perangkat perlindungan tubuh.

Sementara, Belanda mengumumkan akan memasok 50 senjata anti-tank Panzerfaust-3 dan 400 roket. (Editor: Iman NR)

Sumber: BBC.Com

SELENGKAPNYA
Back to top button