Sebagian Warga Palestina Frustasi Hadapi Blokade Israel

Seorang ibu di Palestina menyuapkan manakan ke anaknya di pengungsian. Kemiskin telah merajalela. (Foto: Istimewa)

Saad Al-Farra, warga Palestina yang kini pesimis dan frustasi terhadap kondisi negerinya. Dia termasuk ribuan orang lainnya sempat bersukacita atas penarikan mundur pasukan Israel dari jalur Gaza tahun 2005.

“Kami tidak tahu bahwa perpecahan, korupsi, kemiskinan dan pengangguran akan terjadi di sini,” kata Al-Farra. Dia adalah seorang petani di tanah milik keluarganya yang berdekatan dengan pemukiman Israel di pemukiman Gush Qatif.

Mayoritas warga Palestina yang tinggal di Gaza percaya bahwa kehidupan mereka akan membaik ketika Israel mulai menarik pasukan dair jalur pantai. Penarikan pasukan dari jalur itu menimbulkan harapan. Wilayah itu sekitar 360 Km2 yang terdiri dari 21 permukiman orang Israel. Pemukiman dihuni 6.000 orang.

Tetapi bagi Al-Farra, dan banyak lainnya, optimisme itu telah berubah menjadi frustrasi atas kemerosotan kualitas hidup penduduk Gaza selanjutnya.“Tidak ada yang lebih menyukai pekerjaan ini. Tetapi kenyataan kami lebih buruk daripada sebelum penarikan mundur Israel. Apa yang telah kami lakukan sejak itu? ” tanyanya, jelas marah.

Baca:

Bertempur dan Berpisah

“Kami bertempur, berpisah, dan berpencar, dan pemuda kami terpencar dan beremigrasi. Dan banyak dari mereka meninggal di laut (mencoba) melarikan diri dari Gaza.”

Dia melanjutkan: “Kami dulu berpikir bahwa kami dibebaskan dari pendudukan, dan kami tidak tahu bahwa kami akan tetap terkepung oleh pendudukan dari darat, laut dan udara, dan dikepung oleh perpecahan dan perselisihan kami sendiri. Semuanya memburuk – dalam semua aspek kehidupan. Tidak ada pekerjaan atau listrik.”

Gaza mengalami sejumlah krisi setelah Israel memperketat blokade pada medio 2007. Saat itu Hamas mengambil alih kekuasaan seara paksa di jalur Gaza. Sejak itu, terjadi krisis listrik, jumlah orang miskin dan pengangguran meningkat drastis. Krisis ini belum pernah terjadi sebelumnya.

“Israel belum benar-benar mundur, karena masih mengendalikan semua aspek kehidupan,” kata Samir Abu Mdallala, profesor ekonomi di Universitas Al-Azhar di Gaza.

Mengendalikan Gaza

Dia menambahkan, meskipun telah menarik pemukim dari Gaza, Israel tetap mengendalikan wilayah Gaza dengan metode-metode luar biasa. Profesor itu melukiskan, pengendalian itu mampu menghitung pernapasan setiap warga di sana.

Baca:

Sebagai akibat dari blokade Israel, kondisi ekonomi di Gaza semakin memburuk setelah Israel memperketat kontrol atas ekspor, impor dan bahan-bahan mentah.

Profesor ilmu politik Mukhaimer Abu Saada merujuk pada pernyataan lama oleh Penasihat Keamanan Nasional Israel selama penarikan Israel dari Gaza. Dia mengatakan, penarikan itu sebagai cara untuk memblokir pembentukan negara Palestina yang independen dan saling berhubungan. Keadaan yang suram di Gaza adalah apa yang diinginkan Israel selama ini.

“Israel menarik permukimannya dari Gaza, tapi itu membunuh Gaza dengan memblokir semua aspek kehidupan di sana, terutama ekonomi,” kata Abu Saada.

Profesor itu tidak menyalahkan Israel sendiri atas situasi saat ini di Palestina secara keseluruhan. Seperti Al-Farra, dia menekankan kerusakan yang dilakukan oleh para pemimpin Palestina sendiri, yang telah gagal menghadirkan front persatuan.

Baca:

“Itu mungkin untuk (menangani) penarikan Israel dari Gaza dengan cara yang lebih baik,” katanya. “Tapi yang dilakukan Palestina justru sebaliknya. Mereka mengabdikan diri pada pertempuran internal. “

Analis politik Hani Habib setuju bahwa penarikan mundur Israel dari Gaza dan, sebelum itu, Kesepakatan Oslo di awal tahun sembilan puluhan, menawarkan kesempatan kepada Palestina: “Bisakah mereka mengatur urusan mereka sendiri?”

“Kami menunjukkan kepada dunia ketidakmampuan kami untuk mengelola diri kami sendiri dan pengalaman pemerintahan di Gaza adalah bukti terbesar,” kata Hani Habib.

Anggota parlemen Hamas Atef Adwan mengakui bahwa Palestina telah gagal secara politis untuk memanfaatkan penarikan Israel dari Gaza. Tetapi menyalahkan atas lemah dan biasnya sikap dunia terhadap Israel yang berkaitan dengan Palestina.

Tetapi Adwan mengklaim bahwa beberapa hasil positif telah dicapai setelah penarikan tersebut. Secara khusus, “mengembangkan perlawanan” dan mencapai “swasembada beberapa tanaman” berkat proyek pertanian di tanah yang pernah diduduki oleh pemukiman Israel. (*)

Artikel ini berasari ArabNews.Com, lihat halaman aslinya; KLIK DI SINI.

Next Post

Bawa Paket Sabu, Karyawan Perusahaan Ditangkap Polisi

Sen Agu 17 , 2020
Hen (31 tahun), karyawan sebuah perusahan ditangkap polisi dari Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Serang karena mengantongi satu paker narkoba jenis sabu. Penangkapan dilakukan saat polisi melakukan patroli rutin di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang. Kapolres Serang AKBP Mariyono mengatakan, patroli cipta kondisi adalah kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) […]
Seorang ibu di Palestina menyuapkan manakan ke anaknya di pengungsian. Kemiskin telah merajalela. (Foto: Istimewa)