Muslim di Australia Lebih Sering Alami Kekerasan Individu

Demo anti Islam kerap terjadi di Australian hingga merambah pada aksi kekerasan secara individu. Foto: Istimewa

Umat Muslim di Australia lebih sering mengalami tindak kekerasan secara individu, dibandingkan umat agama lainnya. Demikian sebuah studi terbaru yang dilakukan dengan mengamati komunitas agama di Australia dan Inggris selama empat tahun.

Prof Anna Hickey Moody dari RMIT University Melbourne menyatakan merasa tidak nyaman setelah mendengar pengalaman sejumlah muslim di Australia. “Ada sekelompok lelaki berkulit putih yang suka naik mobil mengintari masjid, tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu di Adelaide, dengan jendela mobil terbuka, mereka melakukan gerakan berpura-pura menembak. Ini menakutkan,” kata Anna Hickey yang dikutip MediaBanten.Com dari abc.net.au, Kamis (9/5/2019).

“Tidak ada agama lain yang umatnya mengalami tindakan kekerasan secara individual, tapi ini di sini (Australia-red) terjadi konsisten pada muslim di Australia yang jadi peserta penelitian.”

Sejak 2016, sebanyak 340 orang dari komunitas agama telah diwawancarai di enam kota di Australia dan Inggris untuk proyek bernama ‘Interfaith Childhoods’. Termasuk diantaranya adalah komunitas dari latar belakang sosial ekonomi yang rendah di Sydney, Adelaide, Canberra, Melbourne, London dan Manchester.

Profesor Hickey Moody mengumpulkan anak-anak dan orang tua, meminta anak-anak membuat karya seni yang menceritakan identitas mereka, kemudian mewawancarai orang tua mereka tentang pengalamannya tinggal di Australia.

Proyek yang didanai ‘Australia Research Council’ dan akan berakhir pada tahun 2020 ini akan menjadi studi pertama kalinya di Australia, dengan menggunakan program seni publik berskala besar dan membahas nilai-nilai sosial dalam beberapa kepercayaan di kalangan anak-anak.

Baca: Militer Sudan Ingin Syariat Islam dan Hukum Lokal Diterapkan

Tetapi saat ia mewawancarai para orang tua, terutama perempuan Muslim, ia mendengar sulitnya kehidupan beragama di Australia. “Salah satu ibu bercerita ada seseorang yang melewati mobilnya kemudian menurunkan kaca dan membuat bentuk pistol dengan jari-jarinya dan pura-pura menembaknya,” katanya, sambil mengatakan ibu tersebut kemudian jadi takut mengajarkan agama pada anaknya, karena takut menjadi korban.

“Cerita yang melekat di kepala saya, seorang perempuan dan saudara perempuannya di kota di Adelaide yang melihat perempuan tua yang berjalan dengan alat bantu. Mereka pergi untuk mencoba membantu perempuan tersebut, karena kelihatannya ia tidak akan bisa menyeberang. Tetapi ketika mereka hendak menolorong, ada pandangan penuh kebencian dan berkata ‘jangan pegang saya, kau perempuan jalang, saya cuma mau kasih tahu kamu untuk kembali ke tempatmu berasal. Saudaranya sampai menangis karena sangat terkejut, dan perempuan yang tua malah tertawa terbahak-bahak.,” katanya.

Dari semua kota yang menjadi lokasi studi, para peneliti menemukan cerita-cerita yang berasal dari Adelaide paling menyedihkan. “Kota ini memiliki komunitas yang kurang multikultural, kurang mendunia, dan saya rasa tidak ada kesadaran kosmopolitan karena tak memahami perbedaan sosial,” kata Profesor Hickey-Moody.

Seperti yang pernah dialami Dr Samia Al Haque, yang telah tinggal di Adelaide selama enam tahun saat sebagian besar hidupnya bebas dari serangan rasisme, ada sebuah insiden yang tak dapat ia lupakan ketika ia pergi mengikuti tes bahasa Inggris.

Sejak 25 tahun lalu beberapa negara bagian di Australia memiliki UU Kejahatan Kebencian, termasuk yang berbau rasial. Tapi hanya sedikit kasus yang diproses hukum. “Salah satu pria [memeriksa kartu identitas] berkomentar cara berpakaian saya,” katanya.

“Ia berkata [dengan kasar] ‘Saya tidak mengerti mengapa perempuan Muslim berpakaian seperti ini’. Padahal saya sebenarnya mengenakan pakaian formal dengan kardigan di atasnya.”

“Itu benar-benar menggangguku. Aku merasa telingaku dan wajahku memerah. Aku menangis, setelah aku pulang.”

Dr Al Haque melaporkan insiden itu, uang tes-nya dikembalikan dan ia menerima permintaan maaf resmi yang tertulis.

Ada pula pengalaman Rahmotollah Ahmadi, yang pindah ke Tasmania sebagai pengungsi bersama keluarganya setelah diterima di Australia. Ia mengaku jika dirinya dan istrinya mendapat ejekan beberapa kali saat berjalan, dan teman-temannya pernah dilempari telur di hari yang berbeda.

“Ini sangat menyedihkan dan membuat tertekan. Sebelum tiba di Australia, mereka bilang jika kita bebas untuk mengikuti agama apa pun,” kata Ahmadi.

Sebagai bagian dari proyek ini, Profesor Anna Hickey-Moody akan memimpin rancangan paket pendidikan bagi sekolah dasar untuk mengajarkan para siswa berbagai agama, dengan harapan dapat mengurangi rasisme dan fitnah agama di generasi mendatang.

Tetapi ia menemukan hanya sedikit sekolah dasar yang mendukung proyeknya tersebut. “[Sekolah-sekolah] mengatakan, misalnya, ‘Kami sudah memiliki program multikulturalisme. Kami tidak perlu melakukannya lagi lebih banyak soal multikulturalisme’,” katanya.

Di negara bagian New South Wales dan Victoria, ada desakan dari sejumlah kelompok-kelompok, seperti Australian Education Union (AEU) untuk menghilangkan segala bentuk pendidikan agama.

Dalam pernyataannya kepada ABC, presiden federal AEU, Correna Haythorpe mengatakan pendidikan agama bukanlah jawaban untuk mengatasi rasisme dan multikulturalisme.

“Sekolah umum sudah memiliki kurikulum untuk mengatasi rasisme, dan guru kami sangat berhati-hati dalam mendidik siswa soal masalah yang berkaitan dengan rasisme, multikulturalisme, keragaman dan toleransi,” katanya.

Sementara itu asosiasi kepala sekolah dasar di Australia merasa jika pada akhirnya bukan hanya tanggung jawab sekolah untuk mengajarkan masalah keberagaman budaya, tetapi menjadi bagian dari kenyataan hidup. (abc.net.au/IN Rosyadi)