25 Kepala Suku dan Tokoh Muslim Papua Tunaikan Ibadah Haji

Foto: republika.co.id

Sebanyak 25 kepala suku, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Muslim Papua dan Papua Barat (Nuu War) melaksanakan manasik haji di Pondok Pesantren Nuu War Al Fatih Kaffah Nusantara (AFKN), Selasa (7/8/2018). Mereka dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Jumat (10/8) malam.

Dalam program ini, para kepala suku yang terpilih mendapatkan undangan khusus dari pihak Kedubes Arab Saudi, dengan bantuan Syekh Khalid al-Hamudi, pimpinan Yayasan Al Manarah Islamiyah (Al Manarah) dan DMI.

Menurut Humas AFKN, Ahmad Damanik, program ini dilaksanakan setiap tahunnya untuk para kepala suku di Papua dan Papua Barat yang berdakwah untuk Islam. “Setiap tahun dipilih kepala suku untuk diberi kesempatan berhaji. Tahun ini dipilih 25 orang kepala suku. Syekh Khalid al-Hamudi langsung yang menunjuk siapa yang berangkat saat dia ke Papua,” ujar Ahmad, Selasa (7/8/2018).

Baca: Gerhana Bulan 103 Menit Sabtu Dinihari Terlama Abad Ini dan Sholat Khusuf

Pembukaan acara manasik haji ini dilakukan oleh Ketua Umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) Usamah Hisyam. Kemudian, 25 kepala suku tersebut diberi materi manasik haji yang diisi oleh Ustaz Dr Sunandar MA, Ustaz Kholik Hasibuan, Ustaz Ahmad Fatahillah, dan Ustaz Muhtarom.

Pendiri Yayasan Al Fatih Kaffah Nusantara (AFKN), Ustaz Fadhlan Garamatan, mengucap penuh syukur atas diundangnya 25 kepala suku Papua dan Papua Barat untuk berangkat haji tahun ini. “Alhamdulillah,” ujar Ustaz Fadhlan, yang didaulat sebagai pembimbing mereka.

Menurut mubaligh yang dikenal dengan dakwah sabunnya ini mengungkap, setiap kepala suku memiliki cerita-cerita kegembiraan dan keindahan. Mereka sebelumnya tidak pernah saling bertemu atau saling mengenal, tetapi kemudian ibadah haji mempertemukan mereka. “Baik manasik di Bekasi atau nanti insya Allah di Makkah,” ungkapnya penuh syukur.

Ustaz asli Fak-Fak ini menjelaskan, pihaknya telah mendampingi mereka selama mengurus dokumen-dokumen keimigrasian di kota-kota Provinsi Papua atau Papua Barat. Pendampingan itu perlu lantaran mereka berasal dari daerah-daerah yang cukup terpencil. (Dikutip utuh dari republika.co.id)

Berita Terkait