Opini

Situs Sanghiyang Sirah, Wisata Bahari dan Religi

Debur ombak laut lepas menghantam perahu kayu. Kecemasan tak pelak tampak dari rawut wajah para penumpang. Namun saat perahu mendarat dan perjalanan tiba di Situs Sanghiyang Sirah yang diyakini bersejarah itu, semua sirna, berubah menjadi takjub dan kebahagiaan.

OLEH: NANA AMDAN *)

Kompleks Situs Sanghyang Sirah berada di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten. Merujuk pada catatan Badan Geologi, berada pada koordinat 6,810838889° LS dan 105,239° BT. Situs tersebut secara resmi masuk dalam data Warisan Geologi Indonesia (Geoheritage).

Yang menarik secara geologi, situs Sanghiyang Sirah adalah bentukan batuan vulkanik dengan morfologi arch atau jembatan/dinding batu, yang terbentuk akibat abrasi air laut pada bidang lemah batuan yang dipengaruhi struktur geologi. Jadi, bentuk seperti gerbang atau jembatan batu di kawasan Sanghyang Sirah bukan sekadar fenomena visual, tetapi merupakan hasil interaksi antara batuan, struktur geologi, gelombang dan abrasi laut.

Dalam dokumen pengembangan Geopark Ujung Kulon, Kompleks Sanghyang Sirah tercantum sebagai salah satu dari 14 situs warisan geologi yang dikembangkan dalam kawasan geopark yang mengusung tema besar “Jejak Tsunami Krakatau”.

Dokumen Geopark Ujung Kulon juga mencatat, Sanghyang Sirah satu rangkaian dengan Tanjung Layar, Karangcopong, Batu Pasir Citambuyung, Lava Curug Dengdeng, Endapan Tsunami Pantai Cipenyu, Bongkah Batugamping Tsunami, dan situs-situs lainnya.

“Proses alam ini, menjadi hal yang sangat menarik bagi sektor pariwisata dan penelitian,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang, Budi Suhardiman Januardi kepada Media Banten saat berkunjung ke Situs Sanghyang Sirah pada kegiatan Familiarization Trip yang digelar Bidang Promosi Disparbud Pandeglang, Rabu (26/8/2026).

Dari perspektif kawasan konservasi, Sanghyang Sirah juga sangat istimewa. Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) menetapkan 5,69 hektar kawasan Sanghyang Sirah sebagai Zona Religi, Budaya dan Sejarah.

Dikutif dari profil Taman Nasional Ujung Kulon, secara geologis Sanghyang Sirah merupakan kawasan yang kompleks dengan batuan dan bentang alam yang berkaitan dengan formasi batu kapur miosen, endapan aluvial, endapan pasir, batuan vulkanik, tuf, breksi dan struktur geologi.

Tradisi Ziarah

Bagi sebagian masyarakat, Sanghyang Sirah bukan sekadar bentang alam di ujung barat Pulau Jawa. Kawasan ini dipercaya sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual dan sejarah. Sejumlah petilasan dan situs di dalamnya dianggap keramat dan menjadi tujuan ziarah.

Dalam tradisi ziarah yang berkembang di masyarakat, sejumlah petilasan dan situs yang dianggap keramat itu, diantaranya, Batu Qur’an, Sumur Daud, Batu Sohibul Wujud, dan petilasan Sayidina Ali. Sumber mengenai tradisi peziarah juga menyebut, Sanghyang Sirah sebagai tujuan akhir perjalanan ziarah.

“Sanghiyang Sirah, bukan sekadar tujuan perjalanan. Situs ini adalah jejak waktu, jejak geologi, jejak budaya dan jejak kehidupan. Di sinilah kita belajar bahwa menjaga alam berarti menjaga cerita panjang tentang bumi dan manusia,” papar Budi.

Pihak Balai Taman Nasional Ujung Kulon menyatakan, kunjungan ziarah ke Sanghyang Sirah dilakukan melalui jalur tertentu, sehingga tidak mengganggu aspek konservasi.

“Untuk datang ke Situs Sanghiyang, pengunjung atau peziarah, harus terlebih dahulu melaporkan kepada pihak balai (Balai Taman Nasional Ujung Kulon-red). Mereka harus didata dan diketahui, maksud kedatangannya,” ujar Hasan Hambali, petugas Resor Pulau Peucang, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1, Balai TNUK.

Sekarang ini, lanjut Hasan, pengunjung hanya boleh datang ke Sanghyang Sirah melalui jalur laut menggunakan perahu motor di daerah Bidur dan perahu tidak bisa bersandar, hanya membuang Sauh karena tidak ada dermaga. Perjalanan pengunjung dilanjutkan menggunakan perahu Jukung (perahu kecil-red) yang akan ditarik ke daratan menggunakan tali.

“Dari pantai mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 3 kilometer atau sekitar 1 jam dengan berjalan kaki di kawasan Taman Nasional, sekitaran pantai,” jelas Hasan.

Sementara Kepala Bidang Pemasaran, Disparbud Kabupaten Pandeglang, Akhmad Jaya Jajuli mengatakan, destinasi wisata Sanghiyang Sirah, merupakan wisata minat khusus dan niat khusus.

“Kemenarikan destinasi wisata ini, perlu terus dipromosikan agar kunjungannya terus meningkat dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Pandeglang,” tukasnya. (**)

*) NANA AMDAN adalah jurnalis yang berkarir di Banten sejak tahun 1997 di media cetak dan media televisi.

Nana Amdan

Back to top button