GadgetIndustriTekno

BlackBerry Terjun ke Otomotif Usai Bisnis Ponselnya Remuk

Blackberry memamerkan teknologi baru yang siap dipasangkan pada mobil. Brand asal Kanada ini turut ambil bagian dalam Consumer Electronic Show (2023) lalu.

Mereka menampilkan platform software melalui kehadiran kendaraan IVY nya.

Hal tersebut merupakan sebuah perangkat lunak anyar yang menggunakan data dari kendaraan untuk memprediksi masa pakai suku cadang kendaraan yang tak dapat dikenali oleh sensor.

Dikutip dari AutoIndustriya, Rabu (18/1), teknologi anyar dari Blackberry tersebut akan mendeteksi hal – hal seperti tingkat keausan ban atau brake pad yang telah habis usai digunakan pengemudi.

Pasalnya, teknologi tersebut juga akan mengumpulkan data dari beberapa hal seperti throttle dan sensor speed untuk mencatat akselerasi, deselerasi dan gaya rem yang diterapkan pada mobil.

Kemudian, mereka mengusung Artificial Intelligent (AI) guna menganalisis data, dan memprediksi status keausan ban dan rem.

Hal tersebut dengan menampilkan nilai numeric atau persentase yang tersisa.

Tak hanya itu, selain bisa memprediksi usia pakai ban dan rem berdasarkan gaya berkendara pengemudi, sistem ini akan menampilkan parameter akselerasi dan pengereman yang optimal untuk memberikan informasi kepada pengemudi.

Perusahaan asal Kanada tersebut, sempat merajai smartphone di sejumlah negara, termasuk Indonesia, namun kini tidak ada lagi gaungnya. Masa kejayaan brand tersebut sudah habis.

Mereka pernah Berjaya dalam industri smartphone usai sukses mengalahkan Nokia. Pada tahun 2018, perusahaan ini bernilai 86 miliar dollar AS.

Mantan co CEO Blackberry yang sebelumnya bernama Research in Motion (RIM), Mike Lazaridis dan Jim Balsillie meremehkan kedatangan Apple iPhone yang diperkenalkan Steve Jobs pada tahun 2017.

Namun, ketenaran ponsel Blackberry digilas Apple. Kini nasibnya kian suram usai dikangkangi smartphone berbasis Android yang sebelumnya juga diremehkan manajemen perusahaan tersebut.

Pasalnya, brand asal Kanada percaya diri dengan tampilan khasnya berupa keypad Qwerty dan meremehkan Apple serta ponsel Android yang mengandalkan layar sentuh.

Oleh sebab itu, RIM memutuskan merilis BlackBerry Strom dengan navigasi layar sentuh.

Namun, uapaya tersebut sudah terlambat, brand itu sudah terlanjur jatuh dan sulit bangkit kembali di bisnis ponsel.

Editor: Abdul Hadi

SELENGKAPNYA
Back to top button