HeadlinePartai Politik

Buntut Arteria, Tagar #SundaTanpaPDIP Bisa Anjlokan Suara PDIP di Jabar Banten

Tagar #SundaTanpaPDIP terus bergerak naik di twitter, Facebook dan Instragram sebagai buntut dari kasus Arteria Dahlan, anggota DPR RI dari PDIP yang meminta pemecatan Kejati Jabar karena berbahasa Sunda. Hingga pukul 15.00 WIB, Sabtu (22/1/2022) sudah 14.000 cuitan bertagar tersebut.

Hal yang sama terjadi pada Facebook dan Instragram. Trend tagar tersbut semakin naik, bukannya menurun.

Menurut catatan, PDIP memperoleh 3.510.525 suara atau posisi kedua di Jawa Barat setelah Partai Gerindra yang memperoleh 4.320.050 suara. Sedangkan di Banten jumlah suara legislatif di Banten mendapat 870.659 suara atau posisi kedua setelah Partai Gerinda sejumlah 906.193 suara.

Beberapa Tweet menunjukkan kecaman atas pernyataan Arteria yang meminta Kajati berbahasa Sunda dicopot. Mereka kecewa atas ucapan Arteria tersebut.

“Bejaan kabeh barudak ieu tagar alus (kasih tahu semua anak-anak, ini tagar bagus),” ucap akun @Fa**** sebagaimana dilihat detikcom.

Bahkan ada beberapa Tweet yang langsung mengarah pada suara pilihan politik. “Mulut mu mempengaruhi suarra banteng mu di tanah Sunda,” ujar akun @Bo******.

“Urang Sunda tea kompak,” ucap akun lainnya @ceu****

Pengamat politik UPI Karim Suryadi punya pandangan berkaitan dengan pengaruh ucapan Arteria terhadap suara PDIP di Jabar (Baca: Ramai #SundaTanpaPDIP, Polemik Arteria Pengaruhi Suara PDIP di Jabar?)

Dia mengatakan ada tidaknya dampak terhadap suara PDIP tergantung dari sikap partai dan Arteria sendiri dalam menuntaskan permasalahan ini.

“Berdampak tidaknya bagi dukungan terhadap PDIP akan bergantung kepada cara-cara dia dan partai menuntaskan masalah ini. Jika langkah yang diambil tidak menenangkan publik, bisa jadi berpengaruh buruk pada tingkat dukungan terhadap PDIP,” ucap Karim kepada seperti yang dilansir detik.com

Karim menuturkan secara politik, masyarakat di Jabar sangat toleran dan terbuka. Bahkan dukungan terhadap partai politik pun beragam dan tak hanya kepada satu partai tertentu.

Perolehan suara partai di Jabar adalah representasi kekuatan politik nasional. Artinya masyarakat Jabar bukan hanya dewasa menerima perbedaan politik, tetapi juga independen. Itulah sebabnya, caleg yang bertarung di Jabar pun diramaikan politisi dari luar Jabar,” tuturnya.

Keterbukaan seperti inilah, kata Karim, yang harusnya dibaca secara cermat. Menurut Karim, jangan sampai hal seperti ini bisa mengganggu suara pemilih di Jabar.

“Keterbukaan politik seperti ini harus dibaca secara cermat, karena bukan hanya menjanjikan kontestasi, tetapi bisa saja menghukum tindakan partai dan politisi yang dinilai salah,” kata dia. (Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button