Gedung MA Cikareo Bertembok Anyaman Bambu dan Atap Rumbia

Featured Video Play Icon

Jangan bayangkan gedung Madrasah Aliyah (setingkat SMA) Cikareo, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak seperti gedung sekolah lainnya. Keterkejutan MediaBanten.Com, Rabu (26/9/2018) yang mendatangi lokasi sekolah itu, memunculkan pertanyaan apakah bangunan ini masih layak disebut gedung sebuah sekolah.

Madrasah Aliyah (MA) Cikareo hanya beratapkan rumbia atau atap yang terbuat dari daun kelapa dan sebagian dari asbes, dindingnya dari anyaman bambu yang diistilahkan warga setempat sebagai dinding geribig dan lantainya masih tanah. Di sana-sini, dinding itu mulai bolong-bolong karena lapuk. Meja dan kursi untuk belajar terbuat dari kayu berkualitas rendah.

Meski kondisi gedung sekolah yang jauh dari kelayakan, para murid tetap belajar dengan mengenakan baju seragam putih abu-abu, berdasi panjang dan memperlihat keingingan untuk merampungkan sekolahnya. Boleh jadi, murid dari anak-anak warga setempat memang tidak punya pilihan sekolah lainnya, karena sekolah negeri yang terdekat berjarak lebih 10 kilometer dari kampung tersebut.

Sapri, Guru Aliyah Cikareo mengatakan, Madrasah Aliyah Cikareo berdiri sejak tahun 2011 dengan menumpang di gedung SD selama 2 tahun. Dari SD itu, madrasah ini pindah menumpang ke SMPN selama satu tahun. Pada tahun 2014, dewan guru madrasah itu berinisiatif membangun sekolah dengan kondisi alakadarnya akibat kekurangan biaya. Pembangunan sekolah ini dilakukan bergotong royong dengan warga setempat.

Baca: Kominfo Wajibkan Siaran Televisi Sediakan Bahasa Isyarat Dalam Program Berita

“Madrasah Aliyah Cikareo berdiri sudah 7 tahun. Kita didirikan lantaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan, karena jaraknya sangat jauh sekitar 12 Km dari SMA Negeri 1 Cigemblong. Kalau gak mendirikan sekolah maka masyarakat di sini kebanyakan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTA, dan saat ini sekolah kami memang masih nginduk,” ujar Sapri.

Sapri menjelaskan, pihaknya sempat mengajukan beberapa kali kepada pihak yayasan Mathla’ul Anwar yang menjadi induk sekolahnya, namun sampai saat ini belum ada bantuan. Tidak hanya itu, mengajukan kepada pihak Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lebak pun sudah sempat dilakukan.

Sapri memeberakan, meski kondisi fisik yang bisa dikatakan tidak layak, tetapi tidak pernah ada keluhan dari para siswa. “Saat hujan tak jarang kondisi atap sekolah bocor, sehingga lantai tanah itu banjir. Saya paling sedih ketik musim hujan, pada waktu itu buku-buku saja basah semuanya. Disitu saya dan dewan guru yang lain pernah mengeluh dan bingung harus kemana harus melangkah intinya mah. Namu¬† kesedihan itu sekan hilang sesaat, tatkala melihat para siswa tetap datang ke sekolah meski kondisinya hujan,” ucapnya.

Selain itu sapri mengungkapkan, ketika ajaran baru akan dimulai ia dan dewan guru serta para siswa biasanya membenahi dinding sekolah dengan bambu yang dibuat seperti pelupuh lantai, dan mengganti atap yang bocor dengan atap rumbia kembali.

“Jadi Ketika ajaran baru anak murid dan dewan guru membenahi dinding pake bambu yang dibelah-belah kalau orang lain mah biasa dipakai untuk lantai, dan atap sekolah kita ganti paling dengan hateup yang baru. Soalnya kalau kita pake dana BOS untuk rehab itu gak cuku, paling hanya cukup untuk membiayai gajih guru,” ungkapnya.

Ia juga membeberkan, untuk upah guru mengajar di sekolah tersebut paling tinggi hanya dikisaran Rp 300.000 per bulan. Hal itu pun dianggarkan sesuai dengan jam mengajar. “Upah dari mengajar paling besar hanya Rp 300.000 per bulan. Kadang ada saja temen saya yang dapat 20rb. Saya berharap ke depan sekolah tempatnya saya mengajar akan ada perubahan dan dapat dibangun,” papar Sapri dengan tersenyum sedih. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait