Olahraga

Heru Budi Lepas 22 Atlet Paralimpik Pelajar ke Sumsel

Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Heru Budi Hartono melepas 22 atlet paralimpik yang akan mengikuti Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) ke-10 Sumatera Selatan tahun 2023, Jumat (28/7).

Heru berharap kontingen Provinsi DKI Jakarta dapat meraih hasil terbaik pada setiap pertandingan.

“Semoga bisa berhasil meraih apa yang kita cita-citakan,” ujar Heru di Balai Kota DKI Jakarta, dilansir web berita resmi Pemprov DKI Jakarta.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta, Andriansyah menyampaikan, pada perhelatan kali ini pihaknya menargetkan mampu masuk ke peringkat tujuh besar.

Setelah sebelumnya harus puas diperingkat 13 pada 2017 dan peringkat 10 pada 2019.

Untuk tahun 2021 tidak digelar karena pandemi. InsyaAllah untuk target ini kita masuk tujuh besar,” ucap Andri.

Andri melanjutkan, pertandingan akan dimulai pada 30 Juli hingga 5 Agustus di Palembang, Sumatera Selatan.

Paralimpik ke -10 merupakan ajang bagi atlet pelajar disabilitas se-Indonesia unjuk bakat sekaligus mencari bibit unggul.

“Ada 132 nomor pertandingan dari enam cabang olahraga yaitu atletik, boccia, catur, renang, tenis meja dan bulutangkis,” tandas Andri.

Jumlah kontingen Peparpenas DKI Jakarta yang diboyong untuk mengharumkan nama Jakarta di Palembang di antaranya berjumlah 53 orang, terdiri dari dua pembina, ketua kontingen, dua wakil ketua kontingen, dokter, 10 ofisial, 10 pelatih, 22 atlet dan lima tim medis.

Paralimpiade adalah ajang kompetisi olahraga internasional untuk atlet penyandang disabilitas. Beragam cabang olahraga yang dipertandingkan seperti pada Olimpiade termasuk, ski alpen, ski lintas alam, biathlon, sepeda, panahan, dan renang.

Peralatan olahraga untuk Paralimpiade telah dimodifikasi untuk disabilitas tertentu. Atlet Paralimpiade bertanding dalam enam kelompok disabilitas yang berbeda seperti amputasi, lumpuh otak, gangguan penglihatan, cedera tulang belakang, disabilitas intelektual, dan les autres (atlet dengan disabilitas yang tidak termasuk dalam kategori lain).

Di dalam tiap kelompok tersebut, atlet akan dipisahkan lagi kedalam kelas-kelas berdasarkan jenis dan tingkat disabilitasnya.

Atlet mungkin dapat di klasifikasi ulang pada kompetisi yang akan datang jika status fisik mereka berubah.

Perbedaan utama antara Paralimpiade dengan Olimpiade terdapat pada peserta yang berpartisipasi di ajang tersebut.

Paralimpiade hanya boleh diikuti atlet penyandang disabilitas saja, oleh karena itu cabang olahraga yang dipertandingkan juga berbeda, dengan beberapa cabang olahraga lainnya dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan atlet yang berlomba.

Ajang Paralimpiade berada di bawah kendali Komite Paralimpiade Internasional (IPC). Berdasarkan kesepakatan Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan IPC, pelaksanaan Paralimpiade dihelat pada tahun yang sama dengan Olimpiade.

Paralimpiade merupakan ajang olahraga terbesar kedua di dunia, yang dibuktikan dengan kenaikan jumlah peserta 10 kali lipat, dari 400 atlet di Roma (1960) menjadi 4237 atlet di London (2012), dan pertumbuhan yang luar biasa dengan 176 negara yang bertanding di Rio 2016. (Siaran Pers Diskominfo DKI Jakarta)

Editor Iman NR

Iman NR

Back to top button