Industri

Ini 9 Alasan Rebranding Malindo ke Batik Air, Fokus Layanan Internasional

Batik Air (ID) member of Lion Air Group mengemukakan 9 alasan melakukan rebranding Malindo Air menjadi Batik Air untuk fokus pada layanan penerbangan internasional dengan segmen premiun service setelah 9 tahun mengudara.

Demikian disampaikan Corporate Communications Strategic of Batik Air, Danang Mandala Prihantoro dalam siaran pers yang diterima MediaBanten.Com, Rabu (4/5/2022).

Katanya, Batik Air terus merefleksikan strategi bisnis dalam menghadapi tantangan dan analisis peluang kini dan mendatang, yaitu fokus program pengembangan rute internasional. Langkah awalnya adalah rebranding Malindo Air ke Batik Air.

Permintaan pasar terutama kategori full service di Indonesia dan global dinilai masih ada dan terbuka serta akan terus bergerak ke arah positif.

Rebranding itu berdasarkan kajian dan evaluasi yang dilakukan secara komprehensif (berkelanjutan) dilatarbelakangi sembilan faktor penting.

Pertama, kondisi dan letak strategis geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dan proses percepatan pemulihan perekonomian yang membutuhkan moda transportasi udara guna mempermudah mobilisasi orang dan barang secara cepat, sehingga mampu memperpendek jarak dan mempercepat durasi waktu.

Kedua, pelaku bisnis dan wisatawan dengan sosial ekonomi status level menengah dan atas rute domestik dan internasional akan meningkat kembali. Untuk kelas ini, diperkirakan mencapai rata-rata 85% – 90% dari sisi tingkat keterisian penumpang per penerbangan.

Ketiga, Batik Air senantiasa mengembangkan full-service seiring meningkatkan jaringan serta kualitas layanan.

Pembukaan rute-rute baru serta melayani kembali (re-operate) rute lama (domestik dan internasional) yang sempat ditutup dari dampak pandemi Covid-19.

Data terakhir pada 2019, Batik Air melayani konektivitas terjangkau dan mempunyai frekuensi penerbangan mencapai lebih dari 350 perhari dengan rerata tingkat ketepatan waktu (OTP) 92.63%.

Batik Air optimis, secara bertahap operasional akan pulih kembali dengan target mampu mencapai jumlah operasional sebelum pandemi Covid-19.

Keempat, optimalisasi konsep “hub and spoke” sebagai model layanan yang memanfaatkan jaringan secara tepat.

Fokus operasional dan evaluasi pasar dilakukan melalui bandar udara internasional utama sebagai pengumpul (hub) domestik, yaitu Soekarno-Hatta di Tangerang (CGK), Juanda Surabaya (SUB), Kualanamu Deli Serdang (KNO), Hang Nadim Batam (BTH); I Gusti Ngurah Rai Denpasar (DPS), SAMS Sepinggan Balikpapan (BPN), Sultan Hasanuddin Makassar (UPG), Sentani Jayapura (DJJ), Dominie Eduard Osok Sorong (SOQ).

Untuk kota tujuan sekunder domestik yang berperan sebagai pengumpan (spoke) antara lain bandar udara di Minangkabau Padang (PDG); Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (PLM); Supadio Pontianak (PNK); Yogyakarta Kulonprogo (YIA); Jenderal Ahmad Yani Semarang (SRG); Zainuddin Abdul Madjid Lombok (LOP); Sam Ratulangi Manado (MDC), Haluoleo Kendari (KDI) dan Pattimura Ambon (AMQ).

Kelima, program rute internasional bersama Batik Air di Malaysia (rebranding Malindo Air) melalui konsep penerbangan interline (saling terhubung) sehingga kesempatan para tamu (sebutan penumpang) dapat terbang ke rute-rute maskapai mitra dari Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) semakin luas.

Antara lain Alor Setar, Amritsar, Bengaluru, Chennai, Chiang Mai, Colombo, Delhi, Dhaka, Hanoi, Ho Chi Minh City, Kathmandu, Kochi, Lahore, Mumbai, Phnom Penh, Trichy, Trivandrum, Yangon dan kota tujuan lain di berbagai penjuru dunia.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Bali – DPS) dipersiapkan menjadi penghubung utama (hub) untuk jaringan internasional.

Jaringan itu antara lain ke Australia (Perth, Melbourne, Brisbane, Adelaide, Sydney, Auckland, Canberra), Selandia Baru.

Ke Asia Timur (Republik Rakyat Cina, Taiwan, Hongkong, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Mongolia).

Ke Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, Filipina, Myanmar, Singapura, Brunei Darusalam, Vietnam, Loas), Asia Selatan (Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, Sri Lanka), Timur Tengah dan negara lain.

Keenam, data The International Air Transport Association (IATA) pada Maret 2022, dengan perkiraan jangka panjang (update to the long-term forecast).

Pada 2021, jumlah penumpang secara keseluruhan adalah 47% dari level 2019. Hal ini diperkirakan akan meningkat menjadi 83% pada 2022, 94% pada 2023, 103% pada 2024 dan 111% pada 2025.

Pada 2021, jumlah penumpang internasional adalah 27% dari level 2019. Prediksi akan meningkat menjadi 69% pada 2022, 82% pada 2023, 92% pada 2024 dan 101% pada 2025.

Ketujuh, Indonesia Air Carriers Association (INACA) memperkirakan jumlah penumpang rute domestik dan internasional naik menjadi 53 juta pada 2022. Hal ini sejalan relaksasi aturan perjalanan dan pembukaan rute internasional secara bertahap.

Kedelapan, pemilihan jenis pesawat dalam layanan (airfeets management) sangat cocok (tepat) menurut permintaan dan dinamika pasar, jarak tempuh (durasi) untuk penerbangan pendek (short haul), penerbangan menengah (medium haul) dan penerbangan jauh (long haul) serta infrastruktur pada bandar udara yang dilayani.

Batik Air saat ini mengoperasikan jenis pesawat berbadan sedang (narrow body) kategori modern dan terbaru yang dikirim langsung dari pabrikan pesawat, didesain lorong tunggal (single aisle) terdiri kelas bisnis dan kelas ekonomi.

Jenis pesawan itu Airbus 320-200 NEO dengan 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi. Airbus 320-200 CEO Sharklets dengan 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi.

Airbus 320-200 CEO IAE V2500 Turbofans dengan 12 kelas bisnis dan 138 kelas ekonomi. Boeing 737-800NG dengan 12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi.

Kesembilan, Dalam “White Paper” atau laporan resmi dari Indonesia National Air Carriers Association (INACA) bekerja sama Universitas Padjadjaran pada April 2021, menjelaskan skenario moderat.

Skenario moderat itu proses vaksinasi, diproyeksikan jumlah penumpang kembali mencapai 79,2 juta akan tercapai pada Desember 2024.

Jika menggunakan skenario optimistis: dengan kecepatan vaksinasi 2 kali dari saat ini, angka 79,2 juta bisa tercapai pada 2022. (Rilis Humas Lion Air Group / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button