Ini Perbedaan Kehebatan Alexis Sanches di Timnas Cile dan MU

Alexix Sanches. Foto: EPA-EFE

Pelatih timnas Cile, Reinaldo Rueda mengakui kehebatan Alexis Sanchez ketika bermain untuk negaranya. Ia menjelaskan sang penyerang memiliki ikatan secara emosional dengan La Roja ketimbang saat bermain untuk klubnya Manchester United (MU).

“Dia (Sanchez) datang ke sini dan menunjukkan komitmen yang sangat besar. Mungkin dia tak memiliki kedekatan emosional dengan rekannya di MU. Dia tak merasa dicintai di sana,” jelas Reinaldo dilansir Fox Sport, Sabtu (22/6/2019).

Sanchez memang menjadi bahan olok-olok pendukung MU setelah penampilan buruknya di sepanjang musim 2018/2019. Ia bahkan tak mampu membawa MU lolos ke turnamen Liga Champions 2019/2020. Bahkan, pesepak bola 30 tahun itu hanya mencetak satu gol bagi Setan Merah. Dia juga tak mampu bermain reguler.

Baca:

Reinaldo Rueda melanjutkan, apabila anak asuhnya tersebut kurang beruntung bersama MU karena mereka juga memiliki masalah cukup besar dalam beberapa bulan terakhir. “Jadi, saya rasa dia tak merasa nyaman seperti ketika sedang berada di timnas. Selain itu, cedera juga cukup mengganggu perfromanya,” sambung dia.

Alhasil, setelah periode gelap bersama MU Sanchez memiliki kesempatan untuk melakukan penebusan. Eks penggawa Arsenal dan Barcelona tentu akan membuktikan dengan tampil superior bersama timnas Cile di ajang Copa Amerika.

Buktinya, Sanchez menjadi pahlawan dalam kemenangan Cile 2-1 atas Ekuador pada laga kedua Copa Amerika 2019 Brasil di Estadio Fonte Nova, Salvador, Sabtu (22/6). Sempat imbang 1-1 pada babak pertama Sanchez memastikan langkah La Roja ke perempat final Copa Amerika melalui golnya pada menit ke-51.

Kemenangan yang ditentukan Sanchez itu sekaligus membuat Cile menjadi tim kedua yang lolos ke babak selanjutnya setelah Kolombia. Untuk diketahui, pada laga tersebut Sanchez mengungkapkan dirinya bermain sembari menahan rasa sakit pada engkel kakinya. (IN Rosyadi)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait