Keimanan Adalah Sumber Tertinggi Keberanian Seorang Muslim

Foto: Google

Orang beriman sama sekali tidak akan takut dan gentar dengan apa pun. Keimanan adalah semangat paling tinggi yang bisa memompa keberanian seseorang.

Sebesar apa pun objek yang menakutinya, ia tak akan takut. Ia yakin, jika ia beriman, ia bersama Allah SWT Yang Mahabesar dari semua makhluk yang dihadapinya. Keimanan itu lah yang mengalir dalam da rah Ibnu Mas’ud. Kendati tubuh nya kerdil, ia punya Allah Yang Mahabesar, Mahakuat, dan Mahaperkasa.

Para pejuang Islam yang dibakar semangat keimanan tak pernah merasa gentar menghadapi musuh-musuh Islam. Dengan gagahnya mereka bertarung di medan perang tanpa me miliki sedikit pun rasa takut.

Mereka bangga menjadi sorang pejuang yang ikut jihad bersama Rasulullah SAW. Jika meraih kemenangan, mereka akan hidup mulia dengan Islam. Jika terbunuh di medan perang, mereka mendapatkan syahid dan mendapatkan surga.

Apa pun hasilnya, mereka mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat. Jadi, apa yang mesti mereka khawatirkan lagi?

Siapa menyangka, Abdullah bin Mas’ud muncul sebagai orang paling berani di antara semua sahabat. Padahal, ia direndah kan para sahabat lainnya. Be tis nya yang kecil serta tubuh yang kerdil membuatnya terlihat lucu dan terkesan bak orang yang lemah tak berdaya. Kehadirannya tak pernah dianggap serius di antara sahabat-sahabat nabi lainnya yang gagah perkasa.

Para sahabat yang gagah perkasa itu suatu kali bertaruh. Adakah di antara mereka yang punya keberanian membaca Alquran di depan Ka’bah? Saat itu lokasi Ka’bah masih dikerubungi kaum kafir Quraisy.

Baca: Cobalah Bertafakur Untuk Menguatkan Keimanan

Mereka siap menggelandang siapa pun yang terindikasi ikut ajaran Nabi Muhammad SAW. Apalagi, sampai melakukan tindakan nekat seperti membacakan Alquran di tengah-tengah khalayak itu.

Ternyata Ibnu Mas’ud pun menyanggupinya. Awalnya para sahabat yang berbincang itu tak menggubris ucapan Ibnu Mas’ud. Mereka hanya tertawa sembari melihat betis Ibnu Mas’ud yang kecil dan tubuhnya yang kerdil. Namun, Ibnu Mas’ud membuktikannya.

Seorang Ibnu Mas’ud dengan tubuh kerdilnya berdiri di tengah khalayak dan membacakan Al qur an surah Thaha. Sudah dapat di duga, tubuh ringkih Ibnu Mas’ud menjadi bulan-bulanan kaum Kafir Quraisy. Hampir saja ia tewas kalau tak diselamatkan para sahabat Nabi lainnya.

Apakah Ibnu Mas’ud menyesal?

“Jika aku diberikan umur panjang hingga esok hari, esok akan kuulangi lagi perbuatanku ini,” ucap Ibnu Mas’ud. Sahabat-sa habat yang perkasa lainnya pun tertunduk. Mereka mencegah Ib nu Mas’ud untuk melakukan lagi tin dakan nekatnya itu. Sudah cukup sang sahabat kerdil membuktikan keberaniannya mengalahkan sahabat-sahabat perkasa lainnya.

Apakah yang membuat seorang Ibnu Mas’ud menjadi sedemikian berani? Karena keimanan sudah mengalir dalam darah dan sanubarinya. Inilah yang difirmankan Allah SWT dalam Alquran, “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139).

Mental keberanian inilah yang banyak hilang dari tubuh umat Islam. Kaum kafir sukses menakut-takuti kaum Muslimin dengan situasi dan kondisi masa depan yang suram, ancaman, teror, intimidasi, atau tekanan-tekanan lainnya. Umat Islam menjadi ciut untuk memperjuangkan nilai dan norma yang diyakininya. Syuja’ah (keberanian) adalah harga diri umat Islam. Jika sifat ini sudah hilang, hilang pulalah harga diri umat Islam di muka bumi.

Dahulu umat Islam sedemikian disegani dan ditakuti. Misal nya saja, ketika tentara Islam berencana akan memasuki Byzan tium. Pemuda setempat telah lari tunggang langgang karena mendengar umat Islam akan tiba di negeri mereka. Sampai-sampai Khalid bin Walid RA menenangkan masyarakat Romawi agar tidak perlu cemas. Kedatangan umat Islam hanya untuk menyerukan Islam dan mengajak mereka menghamba pada Allah SWT.

Mungkin saat ini tak ada lagi yang gentar dengan keperkasaan umat Islam. Sangat jarang dida pati orang yang bisa bersuara lan tang menyerukan kebenaran seper ti Ibnu Mas’ud. Jarang yang mau menegakkan amar makruf nahi mungkar ketika melihat ke maksiatan. Jarang pula yang mau berjihad me negakkan kebenaran ketika ber hadapan dengan pe nguasa yang zalim.

Rasulullah SAW bersabda, “Jihad yang paling utama ia lah mengatakan kebenaran (ber ka ta yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud). Keberanian tidak hanya diukur ketika seseorang angkat senjata dan berangkat berperang. Keberanian adalah konsistensi me nyampaikan sesuatu yang hak (benar) walau men dapatkan intervensi dari pe nguasa. Seperti mentalnya Ibnu Mas’ud yang sama sekali tak gentar membacakan Alquran di tengah-tengah kezaliman kafir Quraisy. (Dikutip Utuh Dari republika.co.id)

Berita Terkait