Kueh Klepon: Benturan Nalar Budaya dan Nalar Islami

Oleh: Iman Nur Rosyadi

Isu kueh klepon merupakan makanan yang tidak Islami, mendadak melejit. Ratusan akun Facebook dan twitter membahas kueh klepon. Kemudian, isu ini semakin marak setelah dibahas sejumlah media maindstream untuk membantah soal itu.

Gaduh? Ya pasti. Saya sendiri sempat tercengang dengan isu kueh klepon itu. Ada nalar budaya yang sengaja dibenturkan dengan nalar agama dengan kata-kata Islami. Kata Islami seperti sengaja dipilih, bukan kata Halal. Islami mengandung makna yang agak tak jelas. Sedangkan kata Halal lebih tegas, jelas dan memiliki landasan nalar dari Al-Quran dan Hadists.

Saya telesuri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online milik Kemdikbud. Hasilnya, Islami bermakna bersifat keislaman. Makna ini tidak ada batasan yang jelas.

Penelusuran kata itu juga di idwikipedia. Juga tidak ditemukan batasan yang jelas dan tegas.

Menurut idwikpedia, Islami adalah istilah umum yang merujuk kepada nilai keislaman yang melekat pada sesuatu. Sesuatu yang dimaksud bisa saja dalam bentuk karya seni, tradisi, pendidikan, budaya, sikap hidup, cara pandang, teknologi, ajaran, produk hukum, lembaga, negara, dan lain-lain. Sesuatu disebut islami apabila nilai-nilai yang terkandung atau sistem yang bekerja di dalamnya mengadopsi ajaran Islam.

Bahan Kueh

Saya juga coba telesuri bentuk Kueh Klepon dan bahan-bahan dasar untuk membuat kueh itu. Rata-rata kueh ini berbentuk bulat, berwana hijau dan ditaburi parutan kelapa. Bahan untuk membuat kueh itu adalah tepung ketan putih, tepung beras, gula merah, air kapur sirih, parutan kelapa, garam dan daun pandan.

Jadi, pembuatan isu itu tahu persis soal bahan Kueh Klepon dan tidak menggunakan kata Halal. Karena bahan pembuatan kueh itu sudah dinyatakan halal. Pilihannya jatuh pada kata Islami karena ketidakjelasan batasan, dasar hukum dan bisa menimbulkan pemikiran “liar”.

Baca:

Jadi persoalannya bukan soal Kueh Klepon. Ada unsur kesengajaan untuk membenturkan nalar Budaya dengan nalar Islami. Dan itu diyakini bakal ribut alias gaduh. Apalagi karakter nitizen yang mudah tersulut, tanpa melakukan tabayun, tentu menjadi pertimbangan untuk meluncurkan isu “Kueh Klepon Tidak Islami”.

Ismail Fahmi, pendiri dan peneliti Drone Empirit seperti yang dilansir di detik.com, Rabu (22/7/2020) memaparkan data tersebut. Ini kutipanya dari berita dan foto-fotonya.

sumber: twitter.com – @ismailfahmi

Drone Empirit

Drone Emprit menyebut lima influencer tertinggi di Twitter pada tahap awal isu klepon tidak Islami ini. Dia menyebut akun @jr_kw19 sempat mencuit soal adat istiadat Nusantara versus hal yang Islami, namun cuitan ini sudah dihapus. Pro-kontra soal klepon kemudian mengemuka.

Social Network Analysis (SNA) yang dipaparkan Fahmi di Twitter, @ismailfahmi, menunjukkan isu klepon tidak Islami ini diramaikan oleh kelompok oposisi, nonblok, dan pro pemerintahan.

Di media sosial, muncul analisis awal bahwa isu klepon tidak Islami adalah strategi false flag, yakni pihak satu yang hendak menyerang pihak dua berperilaku seolah sebagai pihak dua, supaya memicu bully ke pihak dua di media sosial.

“False flag harus ada pihak yang menciptakan itu. Saya belum bisa buktikan itu dari data. Ini karena saat ini siapapun bisa bikin meme yang bagus,” kata Fahmi.

False Flag

Fahmi tidak bisa memastikan apakah isu klepon tidak Islami ini merupakan operasi false flag atau bukan. Dia juga tidak melihat ini sebagai upaya adu domba. Soalnya, upaya adu domba haruslah dilakukan oleh orang di luar dua kelompok yang bersengketa.

“Kalau adu domba berarti ada pihak ketiga kan. Ini saya tidak tahu bahwa ini dari pihak yang mana,” kata Fahmi.

Isu Kueh Klepon Tidak Islami pun ditarik-tarik ke Pilpers, Pilgub DKI dan Pilkada serentak tahun 2020. Perehelatan itu membuat publik terpolarisasi menjadi tiga bagian. Sebagian disebut sebagai kelompok pro pemerintah, sebagian pro pada yang berbau agama (Islam) dan sebagian lagi nonblock atau berada di jalur tidak memihak.

Kelompok berbau agama sering disematkan istilah “Kadrun”. Gambarannya adalah pro terhadap berbau agama, berkopiah atau jilbab, celana ngatung (di atas mata kaki), berjenggot dan seterusnya.

Isu dilemparkan agar begulir atau viral tentu memiliki tujuan. Bisa jadi tujuannya “menjatuhkan” kelompok tertentu atau menutupi persoalan yang sebenarnya. Setidaknya, isu itu mengalihkan perhatian publik pada persoalan tertentu yang krusial dan fatal.

Lalu untuk apa isu Klepon Tak Islami diluncurkan? Apakah sekadar iseng dari kelompok pembenci “Kadrun”? Atau sengaja menutupi suatu persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini?

Maka berbagai jawaban tentu sah-saha saja dikemukan, termasuk teori konspirasi atas isu tersebut. Kata pendukung teori konspirasi, biasanya isu untuk menutupi persoalan krusial selalu datang dari para penguasa. Tentu sah-sah saja orang berbicara dan menduga-duga. Toh, tak ada bukti dan fakta soal tersebut.

Namun yang pasti. Masyrakat dihabiskan energinya untuk ribut soal isu kueh Klepon tak islami. Ini berarti berhasil mengalihkan perhatian publik dari persoalan krusial yang tengah dihadapi. Jangan-jangan memang itu yang dimau? (***)

*) Penulis adalah Pimpinan Umum / Redaksi MediaBanten.Com

Next Post

Kejari Cilegon Dapat Hibah Tanah, Janji Tak Pengaruhi Pengusutan Kasus

Rab Jul 22 , 2020
Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilegon mendapat hibah lahan tanah kosong dari Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon. Luas tanah itu 3.600 m2 di Kawasan Bonakarta. Rencananya di atas tanah itu dibangun gedung baru, menggantikan gedung Kejari Cilegon yang dinilai sudah tidak memadai. Sebelumnya Pemkot Cilegon sudah membangun gedung baru untuk kantor Kejari Cilegon […]
kueh klepon