Lingkungan

Mesin Pencacah Sampah di TPSA Cilowong Belum Optimal

Mesin pencacah sampah (pirolisis) yang dibeli dari dana APBD Kota Serang sebesar Rp8 miliar belum berfungsi optimal untuk mengolah sampah yang ditumpahkan di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.

Mesin pencacah ini saat beroperasi selama 8 jam dengan jumlah operator 11 orang. Sampah yang diolah hanya mampu 33,3 ton.

Padahal mesin pencacah ini mampu mengolah sampah 100 ton dengan operasional selama 24 jam. Durasi operasional selama itu membutuhkan 46 operator.

Kepala TPSA Cilowong, Agam membenarkan kondisi mesin pencacah yang diadakan tahun 2021 tersebut. “Idealnya, ada 46 operator untuk mengoperasikan mesin selama 24 jam dan hasilnya sekitar 100 ton per hari,” kata Agam, Kamis (22/9/2022).

Teknisi Mesin Pengolahan Sampah Pirolisis, Sukirno mengatakan, mesin pengolah sampah ini dengan standar kapasitas 100 ton dioperasikan dalam satu hari selama 24 jam.

“Mesin ini dioperasikan 24 jam terus menerus ,jadi 3 jam untuk pembersihan abu, yang 21 jam efektif untuk mengolah sampah,” ujar Sukirno, kepada MediaBanten.Com.

Mesin pengolah sampah ini terdiri dari 4 mesin pembakar sampah yaitu mesin AWS 100 sebanyak 2 unit, mampu mengolah sampah 20 ton dan 2 mesin AWS 150 dengan kapasitas sampah 30 ton.

Mesin pencacah ini menggunakan blower, tidak menggunakan bahan bakar yang berlebihan, hanya saja untuk pemantek atau pemicu awal dibutuhkan 5 sampai 8 liter BBM.

Namun sebelum sampah dimasukan ke mesin, harus dipilah agar tidak masuk benda keras seperti batu, keramik, kawat, celana jeans dan sejenisnya.

“Mesin ini bisa menghasilkan menjadi abu sebagai bahan paving blok dan juga pupuk,” ujarnya. (Aden Hasanudin / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button