Lingkungan

Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Buat Eco Enzyme Dari Sampah Makanan

Divisi Budaya dan Lingkungan, Dompet Dhuafa menggelar pelatihan pembuatan eco-enzyme yang bahannya berasal dari sampah makanan di markas DMC Dompet Dhuafa, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, belum lama ini.

Sebanyak 70 peserta yang terdiri dari jejaring keluarga besar Dompet Dhuafa, mahasiswi, dan umum mengikuti dengan khidmat penyampaian materi produksi eco enzyme bersama Eco-Enzyme Nusantara Bogor Raya.

Komposisi sampah terbanyak adalah sampah makanan yakni terdiri dari 30 persen sepanjang tahun 2019-2021. Sebanyak 40 persen berasal dari sampah rumah tangga selama tiga tahun terakhir (2019-2021). Hal ini yang Dompet Dhuafa menggencarkan pelatihan produksi eco-enzyme.

“Kami melihat secara potensi dan fakta di lapangan, sampah yang tidak pernah berkurang adalah sampah rumah tangga berupa sampah makanan. Coba kita bayangkan, tiga hari saja tidak ada yang melakukan atau pengambilan sampah rumah tangga di lingkungan rumah,” jelas Ahmad Shonhaji, Direktur Dakwah, Budaya, dan Pelayanan Masyarakat Dompet Dhuafa.

“Maka yang terjadi adalah, penumpukan sampah di bak-bak sampah. Tentunya aroma tidak sedap muncul, dan pada akhirnya jadi penyebaran bibit-bibit penyakit,” katanya.

Eco-enzyme merupakan cairan serba guna yang dibuat dengan cara fermentasi dari kulit buah, sisa sayuran, gula merah atau molase dan air.

Proses fermentasi akan memakan waktu tiga bulan. Ketika sudah waktunya dipanen, cairan memiliki banyak manfaat bagi masyarakat ataupun lingkungan.

Pembuatannya dengan menaruh Gula (1 kg/gr), sisa buah/sayuran (3 kg/gr), dan air (10 lt/ml) dalam wadah seperti toples atau botol bekas. Semakin banyak jenis bahan buah atau sayuran yang digunakan semakin kaya hasil eco-enzyme.

Bersihkan wadah dari sisa sabun atau bahan kimia. Ukur volume wadah. Masukan air bersih maksimum sebanyak 60 persen dari volume wadah. Masukan gula sesuai takaran, yaitu 10 persen dari berat air.

Masukan potongan sisa buah dan sayuran yaitu 30 persen dari berat air. Lalu aduk rata.Tutup rapat sampai panen. Berli label tanggal pembuatan dan tanggal panen.

“Karena hari ini, fakta pertama sampah rumah tangga yang banyak. Mayoritas masih terbuang sia-sia bahkan menyebabkan masalah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Kedua, karena hari ini mayoritas masyarakat masih menggunakan bahan-bahan, yang berasal dari kimia sintetis,” ujar Aang Hudaya, Pimpinan Cabang Bank Eco Enzym Nusantara Bogor Raya.

“Nah dengan adanya eco-enzyme kita berupaya kontribusi untuk alam dengan cara memilah dan mengolah dari sisa kulit buah serta sisa sayuran menjadi cairan eco enzyme,” lanjutnya.

“Carian ini memiliki punya banyak manfaat, bahkan bisa mensubtitusi kebutuhan harian kita di rumah. Yang selama ini masih membeli dan menggunakan bahan kimia sintetis,” ujar Aang.

Dalam tampilan yang tertera di botol eco-enzyme yang sudah jadi, tertulis bisa dimanfaatkan untuk mencuci piring (dengan takaran Eco-enzyme/EE + Sabun + Air =1 botol : 1 botol :5-10 liter), mencuci pakaian (EE+ Sabun + Air = 1 botol :500-1000 liter), mengepel lantai (EE + Air = 1-2 tutup botol : 1 ember air).

Kemudian juga bisa untuk membersihkan kloset/kamar mandi ( EE Murni), obat kumur (EE + Air = 10mililiter : 1 gelas air), hand sanitizer (EE + Air = 1 botol :1000 mililiter), penyemprotan udara (EE + Air= 1 botol: 1000 mililiter),pupuk tanaman (EE + Air = 1:1000 mililiter), dan obat kulit, bisul, serta luka gores (EE Murni).

Dengan catatan terdapat kategori sayur dan buah yang tidak bisa digunakan eco-enzyme yakni sudah dimasak, busuk/berulat/berjamur, berminyak seperti kelapa dan ampas, serta kering/keras.

Selain itu ampas hasil eco-enzyme juga memiliki manfaat: untuk membersihkan saluran kloset: diblender halus, dituang ke kloset pada malam hari; mengharumkan mobil dengan cara dikeringkan dan dimasukkan ke dalam tas kain kecil; pupuk tanaman organik (bukan untuk tanaman pot).

Meski dengan potensi manfaat yang ada, Aang juga menjelaskan bahwa masyarakat masih memiliki kesulitan dalam memproduksi cairan yang ramah lingkungan tersebut.

“Beberapa belum punya pengetahuan tentang eco enzyme. Kedua, karena belum merasakan manfaat secara langsung,” kata Aang.

Hal ini senada dengan yang diutarakan salah satu peserta. Tarab, salah seorang peserta yang bekerja sehari-hari sebagai Wakil Ketua RT Keluarahan Pondok Ranji.

“Namanya juga warga, kadang-kadang dibuang saja sampahnya. Ketika tukang sampah telat mengambil sampah sampai dua hari. Maka akan jadi bau. Jadi daripada ditumpuk mau akan saya pinta (sampah organiknya),”ujar Tarab.

“Kami akan mencoba dulu (praktik eco-enzyme). Kalau istri dan anak saya seusai memakan sayuran atau buah-buahan, nanti akan saya sampaikan (praktik eco-enzyme),”tutup Tarab. (M Fatzry Iqbal – Dompet Dhuafa / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button