Pemprov Belum Teliti Penyebab Banjir Bandang dan Longsor di Lebak

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten belum melakukan penelitian penyebab banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kabupaten Lebak, belum lama ini. Pemprov baru memotret dari udara titik longsor di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), terutama yang masuk wilayah Kabupaten Lebak.
“Kita baru melihat titik-titiknya saja, belum sampai (meneliti), nanti itu ada tim tersendiri lah. Tim dari provinsi nanti gabungan, ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) nya, kita (LHK) nya,” kata Kepala Cabang Dinas Lingkungam Hidup dan Kehutanan (LHK) Cabang Lebak-Tangerang, Fiva Zabreno, Sabtu (25/01/2020).
Pihaknya baru memetakan titik longsor dan banjir bandang menggunakan GPS dan pengambilan foto lokasi longsor dan banjir. Hasil dari kegiatan itu akan dilakukan penanaman sekaligus rehabilitasi lokasi terdampak bencana alam. Berupa penanaman pohon dilereng gunung yang rawan longsor.
“Kemarin kita sudah mengambil titik melalui GPS, mengambil titik-titik yang akan kita kerjakan. Jadi ada enam kecamatan lokasi paska bencana ini, nanti kita akan ada tindakan penanaman disini, penanaman di lereng-lereng yang di anggap berbahaya untuk longsor,” terangnya.
Baca:
- Isteri Mensos RI Beri Trauma Healing Anak Korban Banjir di Lebak
- Korban Banjir Lebak Minta Dibayar, Rumah Akan Direndam Waduk Karian
- Korban Banjir dan Longsor: 20 Orang Tewas dan 149.431 Jiwa Terdampak
Hasil Penelitian
Pihaknya pun belum mendapatkan hasil penelitian air dan lingkungan di sekitar TNGHS yang berada di Kabupaten Lebak, apakah mengandung merkuri atau tidak. Karena biasanya, penambang emas tradisional akan menggunakan zat kimia berbahaya itu untuk mengolah batuan emas menjadi emas murni.
Menurut Fiva, merkuri bisa mengakibatkan stunting atau pertumbuhan anak-anak menjadi kerdil dan penyakit lainnya. Dampaknya memang tidak bisa dirasakan secara langsung, namun akibatnya bisa berbahaya bagi kesehatan.
“Berbahaya seumpamanya jika digunakan di aktivitas pertambangan. Karena nanti mereka mencucinya di air, airnya mengalir, itu kan nanti bisa dipakai oleh manusia, oleh hewan, dan tumbuhan juga. Dampak negatif, banyak penyakit yang disebabkan zat kimia merkuri, ada kurang pertumbuhannya, orangnya menjadi kecil,” jelasnya. (Yandhi Deslatama)