Tertangkap Kamera, Badak Bercula Satu Mandi Laut di TN Ujungkulon

Badak bercula satu di Taman Nasional Ujungkulon muncul saat menceburkan diri ke air laut atau disebut mengasin. Kemunculan yang langka terekam kamera patroli laut Balai Taman Nasional Ujungkulon (TNUK). Momen ini terjadi saat TNUK ditutup untuk wisatawan karena pandemi covid 19.

“Ini langka momennya, kebetulan tim patroli lewat melihat dari kejauhan ada badak,” kata Anggodo, Kepala Balai Taman Nasional Ujungkulon (TNUK) seperti yang dilansir detik.com, Selasa (23/6/2020).

Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Anggodo dikonfirmasi mengatakan, badak tertangkap kamera saat mengasin di pantai Cigenter. Momen langka ini diabadikan video oleh tim patroli laut sekitar tanggal 16 Juni lalu.

Ia menjelaskan, momen mengasin adalah momen saat satwa-satwa di Ujung Kulon pergi ke pantai. Satwa-satwa liar seperti rusa kadang juga bebas berkeliaran untuk menjilat-jilati air laut.

Tiada Pengunjung

Saat pandemi virus corona yang membuat Ujung Kulon jadi tiada pengunjung, badak bercula satu yang sangat soliter ini juga muncul di pinggir pantai. Terlihat badak yang merendamkan badan.

Hanya saat didekati oleh tim patroli, badak bercula satu itu kemudian lari kembali ke tengah hutan. Ujung Kulon memang jadi satu-satunya habitat satwa dilindungi dan langka ini.

Selain bisa ditemukan di pantai Cigenter, sepanjang pantai di sana memang sering digunakan badak bercula satu untuk mengasin. Namun, hal itu sangat jarang bisa ditemui dengan mata telanjang.

Saat ini, tim dari TNUK masih melakukan identifikasi tehadap badak bercula satu yang terekam kamera. Belum bisa dipastikan berapa umur dan nama identitas badak tersebut. “Itu badak dewasa kayaknya menurut pandangan saya,” pungkasnya.

Baca:

Taman Nasional

Taman Nasional (TN) Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.

Kawasan taman nasional ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut), yang dimulai dari Semenanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.

Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.

Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya ketika Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan.

Ragam Satwa

Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beragam jenis satwa liar baik bersifat endemik maupun penting untuk dilindungi. Secara umum kawasan ini masih mampu menampung perkembangbiakan berbagai populasi satwa liar.

Beberapa jenis satwa endemik penting dan merupakan jenis langka yang sangat perlu dilindungi adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis aigula) dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

Semenanjung Ujung Kulon pada saat ini merupakan habitat terpenting dari Badak Jawa, yang populasinya diperkirakan ada 50-60 ekor. Tempat imi merupakan satu-satunya di dunia, secara alami Badak Jawa berkembang biak pada dekade terakhir ini.

Di taman nasional ini diperkirakan ada sekitar 30 jenis mamalia, yang terdiri dari mamalia ungulata seperti Badak, Banteng, Rusa, Kijang, Kancil, dan Babi Hutan, mamalia predator seperti Macan Tutul, Anjing Hutan, Macan Dahan, Luwak dan Kucing Hutan, mamalia kecil seperti walang kopo, tando, landak, bajing tanah, kalong, bintarung, berang-berang, tikus, trenggiling dan jelarang. Di antaraPrimata terdapat dua jenis endemik, yaitu Owa dan Surili. Sedang jenis Primata lain adalah Lutung (Presbytis cristata), Kukang (Nycticebus coucang) dan Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) mempunyai populasi yang cukup baik dan tersebar di sebagian kawasan.

Banteng (Bos javanicus) merupakan binatang berkuku terbesar dan terbanyak jumlah populasinya (± 500 ekor). Satwa ini hanya terdapat di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje, serta tidak dijumpai di Pulau Panaitan.

Rusa (Cervus timorensis) di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje terdapat dalam jumlah dan penyebaran yang sangat terbatas. Di Pulau Peucang dan Panaitan tedapat rusa dalam jumlah yang sangat banyak.

Babi hutan (Sus scrofa), muncak (Muntiacus muntjak) dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terdapat di seluruh kawasan. Tetapi celeng (Sus verrucosus) hanya di jumpai di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje. (Rivai Ikhfa)

Berita Terkait