Walikota Tangerang Targetkan Tidak Ada Anak Putus Sekolah

Waliota Tangerang tengah wawancara siswa
Foto: Humas Kota Tangerang

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menargetkan tidak ada lagi anak yang putus sekolah di Kota Tangerang dengan diluncurkan Tangerang Cerdas Center.

“Sekarang kami ingin semua, mulai dari PSM, Kader Posyandu, PKK, UPZ, Forum CSR, dan Baznas berkomitmen untuk memberikan jaminan masa depan yang lebih baik buat mereka,” katanya di Tangerang, Minggu (14/7/2019).

Pemerintah Kota Tangerang sebelumnya melalui Dinas Pendidikan telah meluncurkan Tangerang Cerdas Center (TCC) yang digelar di SMPN 24 Kota Tangerang sebagai bentuk upaya meningkatkan taraf pendidikan masyarakat. Arief melanjutkan, Pemerintah Kota Tangerang akan bekerjasama dengan Perguruan Tinggi, Baznas, Forum Corporate Social Responsibility (CSR), dan instansi/lembaga terkait untuk melakukan pendampingan kepada Anak Putus Sekolah (APS) dan Anak Rentan Putus Sekolah (ARPS).

“Mau dimasukin ke Dinas Pendidikan kurang anggarannya. Makanya jembatannya lewat Baznas dan Forum CSR nanti setelah itu dimasukkan ke APBD,” jelasnya.

Baca:

Intruksikan Lurah dan Camat

Wali Kota pun langsung menginstruksikan jajaran lurah dan camat untuk mendata warganya yang rentan bahkan putus sekolah. Arief bahkan akan memberikan sanksi tegas bagi camat dan lurah yang tidak memberikan informasi terkait APS dan ARPS diwilayahnya.

Bukan karena takut jabatan, tetapi ini tanggung jawab bersama. Semua harus menampung dan mencari jalan keluarnya. “Kalau dia enggak serius dan enggak mau mengurus ya lebih baik ngundurin diri aja. Jangan sampai ada satu anak pun di Kota Tangerang yang putus sekolah. Apa pun kesulitannya kita akan bantu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Masyati Yulia menerangkan ada beberapa fasilitas yang diberi lewat Tangerang Cerdas Center diantaranya dengan membentuk Satgas Anak Putus Sekolah. Membentuk Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang akan memberikan pendampingan atau bimbingan konseling bagi anak yang bermasalah secara psikologis, ditambah dengan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Karena itu ini sebetulnya bukan hanya tugas pemerintah tapi juga masyarakat dan orang tua bahkan LSM dan lainnya sehingga ke depan anak-anak yang putus sekolah punya mindset yang baru, dan mau untuk bersekolah kembali,” katanya. (IN Rosyadi)

Berita Terkait