Warga Lebak Diajak Budayakan Konsumsi Pengganti Beras Dari Holtikultura dan Palawija
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak mengajak masyarakat membudayakan mengkonsumsi pengganti beras yang bahan bakunya dari pertanian hortikultura dan palawija dengan memiliki kandungan gizi yang tinggi.
“Kita minta warga tidak hanya ketergantungan konsumsi beras saja, tetapi bisa dengan pertanian pangan hortikultura dan palawija,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Lebak Widy Ferdian di Lebak, Kamis.
Selama ini, masyarakat Kabupaten Lebak masih menggantungkan konsumsi beras sekitar 94 persen dari jumlah penduduk 1,4 juta jiwa.
Produksi pertanian hortikultura dan palawija di daerah ini sebagai lumbung pangan terbesar di Banten, di antaranya tanaman singkong, jagung, pisang, ganyong , talas, kacang tanah dan ubi jalar.
Karena itu, jika harga beras naik Rp1.000/ kilogram (kg) dipastikan daya beli masyarakat langsung goyang, padahal komoditas hasil produksi hortikultura dan palawija cukup besar.
Bahkan, produksi tanaman pangan dan hortikultura dan palawija bisa menghasilkan produksi hingga ratusan ribu ton per tahun.
Dengan demikian, pemerintah daerah kesulitan untuk membudayakan makanan pengganti beras.
Saat ini, petani bila panen pertanian hortikultura dan palawija dijual ke luar daerah, sehingga tidak bisa dijadikan olahan keragaman pangan lokal, padahal jika dikelola diproduksi bolu, lapis, getuk, roti, keripik yang memiliki varian rasa enak, lezat juga banyak kandungan gizi.
Saat ini, kata dia, Dinas Ketahanan Pangan Lebak melakukan kegiatan sosialisasi Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) dengan sasaran pada 2026 antara lain PKK Desa 30 orang tersebar di 7 desa, kader posyandu 30 orang di 7 desa, PKK kecamatan 30 orang di 7 desa, ibu balita 30 orang di 7 desa, anak sekolah tingkat SD, SMP dan SMA masing – masing 100 siswa di 3 sekolah.
Tujuan sosialisasi B2SA, kata dia, untuk membudayakan pola makan sehat dan seimbang guna mewujudkan generasi yang aktif, sehat dan produktif.
Hal ini juga berupaya mengubah perilaku masyarakat agar tidak bergantung pada satu jenis pangan pokok saja.
“Kami berharap warga bisa mengganti makanan pokok dari beras ke hortikultura dan palawija,” katanya menjelaskan.
Widy mengatakan, Dinas Pertanian Lebak juga memperluas demplot jagung pulut, singkong mentega di Kecamatan Maja, Cikulur, dan Cileles seluas 5.000 hektare di lahan kering.
Selain itu juga pihaknya melaksanakan pasar tani pada setiap hari Kamis dengan produksi aneka ragam sayuran lokal, buah-buahan lokal, umbi – umbian (singkong, ubi jalar, jagung manis dan jagung ungu, hasil olahan pertanian.
Begitu juga Dinas Kesehatan Lebak melaksanakan sosialisasi “Isi Piringku” dengan tujuan gizi seimbang dan menjaga kesehatan dengan macam-macam isian karbohidrat yang bukan bersumber dari nasi saja, protein, sayur dan buah.
Kegiatan sosialisasi itu dengan sasarannya remaja putri SMP dan SMA sebanyak 1.143 orang dari 2 sekolah di kabupaten, dan 8 sekolah kecamatan dan kegiatannya 1 kali pelaksanaan dalam setahun.
“Kami berharap dengan sosialisasi itu ke depan masyarakat bisa mengembangkan aneka makanan yang memiliki varian dan bergizi, selain beras,” katanya menjelaskan. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)








