BPOM Tangerang Temukan Makanan Mengandung Zat Formalin di Pasar Curug
Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Tangerang menemukan makanan yang mengandung zat formalin atau pengawet di Pasar Curug, Kabupaten Tangerang, Banten pada Jumat, 22 Mei 2026.
Kepala BPOM Tangerang, Sony Mughofir mengatakan, bahwa penemuan zat formalin ini berawal dari pengetesan 21 sampel makanan yang diambil dari lokasi pasar, hasilnya terdapat tiga sampel makanan yang mengandung zat yang bisa membahayakan tubuh manusia.
”Tiga sampel yang positif mengandung formalin itu meliputi, ikan asin jambal roti, ikan teri, dan tahu putih,” katanya.
Dia menuturkan, pihaknya akan mengedukasi para pedagang untuk tidak menjual kembali makanan-makanan yang mengandung formalin tersebut.
”Kita akan edukasi para pedagang agar tidak menjual kembali makanan tersebut, dan agar mereka tidak mengambil produk dari supplier yang sama,” paparnya.
Kendati demikian, pihaknya mengimbau agar masyarakat tidak tergiur dengan makanan-makanan yang tidak dihinggapi oleh hewan lalat. Menurutnya, makanan yang tidak dihinggapi oleh hewan lalat kemungkinan mengandung zat berbahaya seperti formalin.
Selain itu, ia meminta agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan cara cek KLIK (kemasan, label, izin edar dan kedaluarsa).
”Biasanya makanan yang tidak dihinggapi lalat rata-rata mengandung formalin, dan pastikan kalau mau membeli ikan, pilih ikan yang segar, kalau ikan olahan kita tidak tahu bahan-bahannya di campur apa,” kata dia.
Bahaya Formalin
Menurut BPOM, Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15% sebagai pengawet.
Formalin dikenal luas sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri.
Sejauh ini, pemanfaatannya tidak dilarang namun setiap pekerja yang terlibat dalam pengangkutan dan pengolahan bahan ini harus ekstra hati-hati mengingat risiko yang berkaitan dengan bahan ini cukup besar.
Dampak formalin pada kesehatan manusia, dapat bersifat akut dengan efek pada kesehatan manusia langsung terlihat sepert iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing.
Dampak kronik berupa efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang seperti iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, system saraf pusat, menstruasi.
Pada hewan percobaan dapat menyebabkan kanker, sedangkan pada manusia diduga bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). Mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung formalin, efek sampingnya terlihat setelah jangka panjang, karena terjadi akumulasi formalin dalam tubuh. (Pewarta : Azmi Syamsul Ma’arif – LKBN Antara dan Dok MediaBanten)











