Menyusuri Pesona Ujung Kulon, Perkuat Promosi Pariwisata Melalui Famtrip
Ujung Kulon bukan sekadar kawasan konservasi dengan kekayaan flora dan fauna. Di balik bentang alamnya yang memesona, kawasan di ujung barat Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten ini, menyimpan beragam cerita tentang alam, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat yang menarik untuk dikenalkan lebih luas.
Upaya memperkenalkan potensi tersebut dilakukan melalui Familiarization Trip (Famtrip) Ujung Kulon yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang, pada Rabu – Kamis (26 – 27 Agustus 2026). Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur yang memiliki peran dalam promosi, pemberitaan, pengembangan, dan pengenalan destinasi pariwisata.
“Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari kalangan influencer dan content creator, media, akademisi, budayawan, dunia pendidikan, pelaku pariwisata, perangkat daerah, serta stakeholder terkait,” ujar Kepala Bidang Pemasaran, Disparbud Kabupaten Pandeglang, Akhmad Jaya Jajuli, Kamis (27/8/2026).
Dikatkan Jaya, Famtrip tidak sekadar menjadi perjalanan wisata. Peserta diajak melihat dan mengalami secara langsung berbagai potensi yang dimiliki kawasan Ujung Kulon. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bahan untuk membangun perspektif sekaligus memperkuat promosi destinasi melalui kapasitas dan jejaring masing-masing peserta.
“Dalam perjalanan tersebut, kami membawa peserta mengeksplorasi sejumlah destinasi, mulai dari Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Sanghiyang Sirah hingga Savana Cidaon,” katanya.
Di Pulau Panaitan, lanjut Jaya, peserta menikmati bentang alam pesisir dan kawasan hutan yang menjadi bagian dari kekayaan ekosistem Ujung Kulon. Perjalanan kemudian berlanjut ke Pulau Peucang yang dikenal dengan panorama pantai dan lingkungan alamnya yang masih terjaga.
Tak hanya menikmati keindahan alam, timpal Sekretaris Disparbud Kabupaten Pandeglang, Yuliana Aristian, peserta juga diajak melihat sisi lain Ujung Kulon melalui kunjungan ke Sanghiyang Sirah. Kawasan ini memiliki nilai sejarah dan budaya serta menjadi bagian dari ruang kehidupan masyarakat yang menyimpan beragam cerita dan tradisi.
Sementara di Savana Cidaon, peserta mendapatkan pengalaman menikmati lanskap alam terbuka yang menjadi salah satu karakter khas kawasan Ujung Kulon.
“Rangkaian kegiatan dikemas melalui pengenalan destinasi, eksplorasi kawasan, pengamatan potensi alam dan budaya, interaksi dengan pengelola maupun pelaku pariwisata, serta diskusi dan penggalian bahan promosi,” papar Aris.

Dari Pengalaman Menjadi Cerita
Sementara Kepala Disparbud Kabupaten Pandeglang, Budi Suhardiman Januardi menjelaskan, kekuatan utama Famtrip terletak pada pengalaman langsung. Peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai sebuah destinasi, tetapi juga melihat, merasakan, dan berinteraksi secara langsung dengan berbagai unsur yang ada di dalamnya.
Bagi media, kata Budi, pengalaman tersebut dapat menjadi perspektif dalam menghasilkan pemberitaan mengenai potensi Ujung Kulon. Bagi content creator, perjalanan menjadi sumber ide untuk menghasilkan konten yang menarik dan informatif.
Sementara bagi akademisi, budayawan, pelaku pariwisata dan stakeholder lainnya, pengalaman tersebut dapat membuka ruang diskusi serta peluang kolaborasi untuk pengembangan destinasi.
“Dengan latar belakang yang berbeda, setiap peserta memiliki cara pandang dan kekuatan masing-masing dalam mempromosikan Ujung Kulon sebagai destinasi wisata yang menarik,” katanya.

Dibangun Jejaring Promosi
Semakin banyak pihak yang mengenal sebuah destinasi secara langsung, semakin besar pula peluang lahirnya cerita dan informasi positif yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Budi berharap, Famtrip Ujung Kulon mampu meningkatkan peluang promosi destinasi melalui kapasitas, keahlian, perspektif, dan jejaring para peserta. Karena promosi pariwisata tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau pelaku usaha pariwisata.
“Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar potensi yang dimiliki Ujung Kulon dapat dikemas menjadi cerita yang menarik, informatif, sekaligus mampu mendorong semakin banyak orang mengenal Kabupaten Pandeglang,” harapnya.
Kata Budi, Ujung Kulon memiliki alam yang menakjubkan, kekayaan budaya dan sejarah, serta beragam cerita yang belum tentu selesai hanya dalam satu perjalanan. Karena ketika sebuah destinasi dialami secara langsung, akan lahir cerita yang lebih nyata.
“Ketika cerita itu dibagikan, semakin luas pula peluang Ujung Kulon dikenal dan dikunjungi wisatawan, sehingga akan semakin banyak masyarakat yang terdampak dalam kegiatan ekonominya,” tandasnya. (ADV)









