Kuliner

Begini Cara Membuat Camilan Emping Berbahan Melinjo

Emping (Arifin) adalah sejenis camilan atau makanan ringan Indonesia berupa kerupuk yang terbuat dari biji melinjo atau belinjo (Gnetum gnemon). Camilan emping ini biasanya menemani berbagai hidangan saat makan.

Emping memiliki sedikit rasa pahit. Emping tersedia di pasaran dalam berbagai varian rasa, seperti polos (asli), asin, pedas atau manis, tergantung dari penambahan garam atau karamel gula.

Emping diproduksi dalam industri rumahan, dibuat secara tradisional dengan tangan dalam proses padat karya.

  1. Langkah pertama siapkan biji melinjo yang sudah dikupas yang sebelumnya sudah disimpan selama 1 hari.
  2. Goreng melinjo pada wajan dan pasir yang sudah dipanaskan hingga menghitam.
  3. Setelah warna melinjo menghitam, angkat dari wajan, lalu pecahkan kulit melinjo.
  4. Letakkan biji melinjo di atas papan, lalu tumbuk biji tersebut sampai pipih hingga berbentuk emping. Kemudian, dinginkan terlebih dahulu.
  5. Pindahkan emping ke tempat yang terkena sinar matahari secara langsung. Jemur sekitar 2 jam.
  6. Jika sudah kering, emping bisa digoreng dan diolah menjadi aneka varian rasa.

Setiap keping emping biasanya dibuat dari biji melinjo tunggal, walaupun ada varian yang menggabungkan beberapa biji untuk membuat emping lebih besar yang mirip krupuk.

Emping besar ini, sering dicampur dengan jenis pati lainnya, seperti tepung jagung atau pati umbi.

Ada dua jenis ketebalan emping yang ada di pasaran, tipis dan tebal. Emping tipis biasanya memiliki varian rasa polos atau asin. Sedangkan emping tebal biasanya manis, dilapisi gula karamel atau dibumbui dengan cabe rawit.

Kepingan emping kering dikumpulkan, dikemas, dan dijual di pasaran. Emping mentah yang dibeli dari pasar tradisional, lebih baik dikeringkan dulu untuk mengurangi kelembapannya.

Kemudian emping mentah digoreng dengan banyak minyak goreng sampai mengembang, menjadi renyah dan berubah warna kuning keemasan.

Emping diproduksi di banyak wilayah di Indonesia, dari Limpung, di Kabupaten Batang, Pidie di Aceh hingga Sulawesi.

Namun, daerah produksi utama berada di Jawa, yaitu di Limpung dan Klaten di Jawa Tengah, Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Magetan di Jawa Timur dan Desa Karangtawang di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. (* / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button