Beratnya Orang Bertakwa Hidup Di Zaman Sekarang

Foto: Istimewa

Menurut bahasa Indonesia, takwa bermakna 1. terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, 2. keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; 3 kesalehan hidup.

Namun hidup di zaman sekarang, manusia memerlukan tenaga yang kuat dan upaya keras agar akal tetap mengikuti tuntunan Allah yang diturunkan melalui Roasullullah. Informasi yang membanjir melalui kecanggihan teknologi seperti aplikasi media sosial, portal berita dan saluran informasinya, bisa membuat “goyah” keimanan dan memudarkan ketakwaan, bisa mengobarkan nafsu yang mendorong manusia untuk menentang Allah dan RosulNya.

Coba cermati informasi berseliweran di jagad ini. Ada bagian kehidupan yang sudah “terbalik-balik”. Ada penegak hukum yang justru meruntuhkan hukum itu sendiri dengan menerima suap dan memberikan keputusan yang menguntungkan yang batil, ada pemimpin yang mengakali rakyat demi kemakmuran pribadi dan golongannya. Lebih menyedihkan, suka sesama jenis (homo, guy, lesbian) dianggap normal dan bahkan dijadikan gaya hidup selain minuman keras, narkoba, pamer aurat dan sebagainya.

Baca: Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Hidayah

Sungguh bagi orang bertakwa dalam era sekarang mebutuhkan usaha ekstra keras, berupaya agar apa yang dimakannya benar-benar halal, tercampur riba kah atau hal-hal lainnya yang bakal menghancurkan ketakwaannya. Bahkan, keyakinan dan implementasi ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari justru mendatangkan “permusuhan” dari orang-orang sekitarnya. Meski begitu, orang bertakwa tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang diturunkan Allah dan tak akan berubah sampai kapan pun.

Keimanan dan takwa memang tidak dapat dipisahkan. Perhatikan terjemaahan Al Quran di bawah ini.

Kitab (AlQuran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang yang bertakwa (Al-Baqarah;2). Mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan solat dan mengeluarkan rizki dari yang kami berikan kepada mereka (Al-Baqarah;3). Dan mereka yang beriman apa yang diturunkan (kitab) kepadamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan sebelumnya, dan mereka yakin akan adanya akhirat (Al-Baqarah;4).

Sifat takwa melebur dalam keimanan. Begitu juga sebaliknya. Menjadi orang bertakwa adalah berusaha keras menggenapi apa saja prasyaratnya.

Allah SWT berfirman, “Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”  (Al-Baqarah; 177).

Percakapan indah dua sahabat Umar bin Khattab RA dan Ubay bin Ka’ab ini. Umar yang meriwayatkan atsar ini bertanya kepada Ubay, “Wahai Ubay, apa makna takwa?” Ubay yang ditanya justru balik bertanya. “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?”

Umar menjawab, “Tentu saja pernah.” “Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?” lanjut Ubay bertanya. “Tentu saja aku akan berjalan hati-hati,” jawab Umar. Ubay lantas berkata, “Itulah hakikat takwa.”

Percakapan yang sarat akan ilmu. Bukan hanya bagi Umar dan Ubay, melainkan juga bagi kita yang mengaku manusia bertakwa ini. Menjadi orang bertakwa hakikatnya menjadi orang yang amat berhati-hati. Ia tidak ingin kakinya menginjak duri-duri larangan Allah SWT.

Ia rela mengerem lajunya, memangkas egonya, menajamkan pandangan, menelisik sekitar, dan mencari celah jalan selamat. Semua fungsi tubuh ia maksimalkan agar ia tak celaka. Agar sebiji duri pun tak melukai kemudian mengucurkan darah dari kakinya. Takwa hakikatnya hati-hati (Iman NR)

Berita Terkait