Tausyiah

Ibadah Harus Dilandasi Niat, Dasar Hukum dan Khusyu

Beribadah itu harus memiliki dasar yang melandasi perbuatan ibadah atau ritual. Dasar itu bisa bersumber Al Quran dan Hadits atau keduanya. Ibadah itu berupah ibadah mahdoh (murni) dan ghairah mahdhah (bukan murni). Perhatikkan hadits di bawah ini:

Oleh: USTAD JAWAHIR, S.AG, M.AG

Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ

“Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955)

Dalam hadits itu jelas menggambarkan bahwa beribadah tanpa ilmu atau tanpa ada dasar yang melandasinya, maka akan ditolak.Contoh Abu Burdah telah menyembelih kambing sebelum solat Idul Adha. Dan dengan tegas, Nabi SAW menyatakan, sembelihan kambing Abu Burdah hanya dianggap sebagai penyembelihan biasa dan tidak termasuk qurban yang dimaksudkannya. Meski Abu Burdah meniatkan penyembelihan kambing itu untuk qurban. Sebab salah satu syarat qurban adalah sudah masuk waktunya atau setelah solat Idul Adha.

Ibnu Mas’ud pernah berkata pada orang yang amalannya mengada-ada, tanpa pakai tuntunan padahal niatan orang tersebut benar-benar baik,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid= bagus/baik)

Meski sudah mengetahui ilmu dalam beribadah, ada hal-hal yang harus diperhatikan dan ditetapkan dengan teguh dalam beribadah, yaitu soal niat. Dari sisi bahasa, niat (Arab: Niyyat) adalah keingingan dalam hati untuk melakukan sesuatu tindakan yang baik yang ditujukan kepada Allah SWT. Sedangkan ikhlas memiliki berbagai definisi menurut para ulama besar seperti di bawah ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.

Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”.

Al Harawi mengatakan : “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata : “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.

Setelah niat dan diketahui, maka ilmu berikutnya adalah tata cara pelaksanaan. Agama Islam mendasari perbuatan ibadah dengan Al Quran dan Hadits. Al Quran adalah kalam Allah yang merupakan sumber utama. Sedangkan Hadits adalah ucapan dan tindakan Nabi SAW dalam menjabarkan ayat-ayat Al Quran. Siti Aisyah ra, istri Nabi menggambarkan bahwa perilaku Nabi sehari-hari adalah penjabaran Al Quran.

Suatu perbuatan ibadah yang tidak memiliki tuntutan Al Quran dan Hadits atau tidak memiliki dasar-dasar dari sumber Agama Islam, maka ibadah itu tertolak. Ibadah jenis ini dikenal dengan Bidah atau mengada-ada atau menambah-tambah perkara agama. Bid’ah (Arab:بدعة) adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Secara linguistik, istilah ini memiliki arti inovasi, pembaruan, atau doktrin sesat.

Dan terakhir, ibadah itu harus dilakukan secara khusyu. Ada yang mengartikan secara mudah kata khusyu dalam bahasa Indonesia, yaitu fokus. Namun para ulama mendefinisikan khusyu sebagai berikut;

Secara bahasa khusyu’ berarti as-sukuun (diam/tenang) dan at-tadzallul (merendahkan diri). Sifat mulia ini bersumber dari dalam hati yang kemudian pengaruhnya terpancar pada anggota badan manusia.

Imam Ibnu Rajab berkata: “Asal (sifat) khusyu’ adalah kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati manusia (kepada Allah Ta’ala). Tatkala Hati manusia telah khusyu’ maka semua anggota badan akan ikut khusyu’, karena anggota badan (selalu) mengikuti hati, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”.

Maka jika hati seseorang khusyu’, pendengaran, penglihatan, kepala, wajah dan semua anggota badannya ikut khusyu’, (bahkan) semua yang bersumber dari anggota badannya”.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Para ulama sepakat (mengatakan) bahwa khusyu’ tempatnya dalam hati dan buahnya (tandanya terlihat) pada anggota badan”.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Khusyu’ dalam shalat adalah hadirnya hati (seorang hamba) di hadapan Allah Ta’ala dengan merasakan kedekatan-Nya, sehingga hatinya merasa tentram dan jiwanya merasa tenang, (sehingga) semua gerakan (angota badannya) menjadi tenang, tidak berpaling (kepada urusan lain), dan bersikap santun di hadapan Allah, dengan menghayati semua ucapan dan perbuatan yang dilakukannya dalam shalat, dari awal sampai akhir. Maka dengan ini akan sirna bisikan-bisikan (Setan) dan pikiran-pikiran yang buruk. Inilah ruh dan tujuan shalat”.

Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf ketika beliau melihat seorang laki-laki yang bermain-main dalam shalatnya: “Seandainya hati orang ini khusyu’ maka akan khusyu’ semua anggota tubuhnya”.

Lebih lanjut, imam al-Bagawi memaparkan makna ini dalam ucapan beliau: “Para ulama berbeda (pendapat) dalam makna khusyu’, Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu berkata: “(Orang-orang yang khusyu’ adalah) mereka yang selalu tunduk dan merendahkan diri (kepada Allah Ta’ala). al-Hasan (al-Bashri) dan Qatadah berkata: “(Mereka adalah) orang-orang yang selalu takut (kepada-Nya)”. Muqatil berkata: “(Mereka adalah) orang-orang yang merendahkan diri (kepada-Nya)”. Mujahid berkata: “Khusyu’ adalah menundukkan pandangan dan merendahkan suara”. Khusyu’ (artinya) mirip dengan khudhu’, cuma khudhu’ ada pada (anggota) badan, sedangkan khusyu’ ada pada hati, badan, pandangan dan suara. Allah Ta’ala berfirman:

{وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ}

“Dan (pada hari kiamat) khusyu’lah (merendahlah) semua suara kepada Yang Maha Pemurah” (QS Thaahaa: 108)”.

Maka perbaikilah niat. Allah berkali-kali menegaskan, gerakan hati setiap manusia Allah mengetahuinya. Dalam peristiwa hijrah, ada niat karena Allah, karena ingin berdagang dan karena ingin dapat wanita untuk berkeluarga. Semua itu dikabulkan Allah.

Ingat Iblis itu punya proyek besar, yaitu mengajak dan memplesetkan sebanyak-banyaknya manusia untuk menemani dia di neraka. Salah satu caranya adalah memplesetkan niat.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (Al-‘Araf :16)

ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al-‘Araf :17).

(IN Rosyadi)

*) Tulisan ini dari bahan Taklim di Rumah Makan Bebek Ndut Kota Serang. Pengajar di taklim ini adalah Ustad Jawahir S.Ag, M.Ag.

Iman NR

Back to top button